Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIIII/17 - 23 Mei 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

'Four in One' yang Tak Mudah

Proses merger Bank Mandiri dipercepatmenjadi akhir Mei. Tapi persoalan kredit macet tetap menjadi ganjalan.

MENGAWINKAN empat bank menjadi Bank Mandiri tak semudah membalik telapak tangan. Empat bank itu punya "penyakit" yang tak mudah diobati. Tapi proses merger itu rupanya dipercepat oleh Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng. Dan, diam-diam, proses merger menjadi Bank Mandiri mencapai kemajuan yang cukup berarti.
Tanri merencanakan seluruh proses itu selesai bulan ini, Mei 1999. Sebelumnya, proses merger itu direncanakan selesai dalam dua tahun dan Bank Mandiri akan beroperasi penuh pada tahun 2000. Tahap pertama sudah terlewati, yakni penggabungan Bapindo-BBD, yang terlaksana mulai Juni 1998. Menurut jadwal semula, setelah itu, baru Bank Dagang Negara dan Bank Exim bergabung. Tapi, dalam rencana Tanri, proses merger langsung serentak melibatkan empat bank. "Semuanya sudah selesai sebelum Juli. Mulai Mei ini, semua kredit lancar (empat bank itu) sudah diserahkan ke Bank Mandiri," kata Direktur Bank Mandiri, Wayan Pugeg.

Percepatan harus dilakukan segera. Jika terlambat, Bank Mandiri akan menghadapi persoalan kredit bermasalah (nonperforming loans) yang besar. Menurut sumber TEMPO, jika tak segera dituntaskan, kredit yang semula masuk kategori 4 (diragukan) bisa masuk kategori 5 (macet). Kredit bermasalah kategori 2 dan 3 juga akan makin "busuk". Yang bikin pusing, kata sumber TEMPO itu, kredit bermasalah anggota Bank Mandiri rata-rata di atas 90 persen dan kredit lancarnya paling-paling cuma 6-7 persen.

Presiden Direktur Bank Mandiri, Robby Djohan, pekan lalu mengungkapkan soal penyelesaian kredit bermasalah yang belum tergolong macet, yaitu kategori 2 sampai kategori 4. Menurut dia, proses penyelesaian kredit bermasalah itu sama persis dengan yang dilakukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk kategori 5 (macet). "Nilainya sekitar Rp 61 triliun dan yang bisa direstrukturisasi sampai 95 persen," kata Robby ketika menghadiri peringatan ulang tahun bankir senior Mochtar Riady, pekan lalu. Sedangkan kredit macet sisanya bakal diajukan ke pengadilan.

Itu soal kredit. Pugeg menjelaskan kemajuan yang lain, yaitu sudah dibentuknya beberapa divisi Bank Mandiri, di antaranya treasury, credit risk management, dan corporate banking. Yang belum selesai adalah penggabungan sistem teknologi, termasuk sistem akunting dan operasional. Kesulitan ini ada kaitannya dengan belum pastinya jumlah cabang di luar negeri. Robby Djohan dalam beberapa hari terakhir ini melakukan roadshow ke sejumlah negara, di antaranya untuk membicarakan soal cabang luar negeri itu. Kemungkinan akan ada cabang luar negeri yang ditutup. Dan itu tidak gampang. "Ada hambatan dari otoritas moneter setempat, tapi kita mencoba membicarakannya dengan mereka," kata Pugeg, yang tak mau menyebut nama cabang yang bakal ditutup.

Sumber TEMPO di Bank Mandiri mengungkapkan bahwa cabang yang akan dipertahankan paling-paling cuma di Singapura, Hong Kong, dan Tokyo, plus di Kepulauan Cayman. Sedangkan kantor cabang di New York, Los Angeles, Dusseldorf, dan beberapa kota lain bakal ditutup. Bahkan, dua cabang anggota bank Mandiri di New York semuanya akan ditutup. "Kalau memang tidak punya prospek, mengapa harus kita pertahankan?" kata sumber itu.

Dalam roadshow tersebut, menurut Pugeg, Robby juga berbicara dengan para kreditur untuk meminta persetujuan mereka menyangkut rencana merger itu. "Sebagai pemberi utang, kita minta persetujuan kreditur berkaitan dengan rencana merger ini," kata Pugeg. Masih belum jelas berapa besar utang anggota Bank Mandiri ke sejumlah kreditur asing. Tapi Wayan Pugeg menolak anggapan bahwa Robby juga menjalankan misi melobi investor asing untuk masuk ke Bank Mandiri.

Menurut analis di perusahaan sekuritas Eropa, kendati di permukaan kelihatannya mulus-mulus saja, Bank Mandiri masih harus menghadapi ganjalan berarti: kredit bermasalah. Penyebab utamanya, kata analis itu, banyak penyelewengan kredit di empat bank tadi di masa lalu. Misalnya, bank memberikan bunga jauh di bawah harga pasar. Jika empat bank itu dimerger, semua "borok" itu pasti terbuka. "Apa mereka mau buka-bukaan? Ibaratnya, mereka sama-sama tahu borok masing-masing. Pasti ini butuh waktu," kata sumber tadi.

Celakanya, menurut sumber TEMPO, sampai sekarang praktek semacam itu masih sering dilakukan. Jika tak ada tindakan tegas yang drastis, pastilah "virus" akan segera menggerogoti Bank Mandiri. Dan ambruknya bank itu tinggal soal waktu.

M. Taufiqurohman, Darmawan Sepriyossa, Dwi Arjanto, dan Nurur R. Bintari


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data