Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIIII/17 - 23 Mei 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Juragan Londo, Welcome…

Pemerintah akhirnya membuka peluang asing menguasai mayoritas saham bank publik. Bisakah langkah itu menjaring investor asing?

LAMA disimpan, jurus "habis-habisan" itu akhirnya dikeluarkan juga: investor asing boleh membeli mayoritas bank publik. Selama ini kepemilikan asing dibatasi cuma 49 persen, tapi Jumat pekan lalu pemerintah membuka pintu lebar-lebar, asing boleh membeli 99 persen. Aturan yang sama juga diberlakukan bagi bank yang belum masuk bursa. "Sekarang ketentuan itu sudah hitam di atas putih," kata Subarjo Joyosumarto, Direktur Bank Indonesia (BI).
Masuknya asing sebagai mayoritas adalah pilihan yang tak bisa dielakkan. Beban pemerintah menanggung biaya rekapitalisasi saja sudah sangat berat. Saat ini ada 8 bank swasta yang ikut program rekapitalisasi, 4 bank pemerintah termasuk Bank Mandiri, dan 12 bank take over. Tahun ini pemerintah menganggarkan Rp 34 triliun untuk program penyehatan bank tadi. Berharap dari swasta nasional juga "bagai pungguk merindukan bulan". Kondisi ekonomi yang masih "megap-megap" menyebabkan modal kalangan swasta menipis, bahkan grup usaha besar milik swasta banyak yang terancam gulung tikar.

Diundanglah si asing ke sini. Selain mereka boleh menguasai 99 persen saham, bank asing kini bebas membuka cabang di Indonesia, tentu dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, bank asing itu harus masuk 200 bank terbesar di dunia dan punya peringkat A dari perusahaan pemeringkat internasional seperti Moody's dan Standard & Poor's. Artinya, pemerintah mencabut aturan yang pernah diterapkan tahun 1972, yakni membatasi cabang bank asing di Indonesia. Waktu itu cuma sepuluh bank yang bisa membuka cabangnya di Indonesia. Tapi masih ada "halangan" lain, yaitu soal modal. Untuk bank asing yang ingin membuka cabang, pemerintah mensyaratkan modal Rp 3 triliun, angka yang persis sama dengan persyaratan pembukaan bank baru.

Pucuk dicita ulam tiba. Aturan baru ini jelas seperti membuka bendungan. Ramai-ramailah bank asing menyerbu bank-bank lokal. Apalagi harga saham bank lokal saat ini sedang "murah-murahnya". Bank Bali, contohnya, diperebutkan tiga investor asing, yakni Standard Chartered Bank, General Electric (GE) Capital, dan ABN-Amro Bank. Dua nama terakhir ini akhirnya kalah bersaing dengan Standard Chartered, dan keduanya kini mengincar Bank Niaga. Investor lain yang sedang bersiap masuk adalah New Bridge Capital dan Global Allianz. Dari Taiwan juga ada Kuo Min Tang dan Core Pacific Development.

Asing akan menguasai bank-bank di sini? Ada kekhawatiran seperti itu. Tapi Subarjo punya angka perhitungan berbeda. Menurut orang BI yang namanya setiap hari ada di koran ini, yang paling diminati investor asing barulah bank-bank yang akan direkapitalisasi. Kalau delapan bank peserta program rekapitalisasi masing-masing 20 persen sahamnya dibeli asing, porsi asing di perbankan nasional tak meningkat terlalu besar. Dari aset perbankan sekitar Rp 600 triliun sekarang ini, porsi asing cuma tujuh persen. "Kalau 20 persen saham delapan bank rekap dibeli asing semua, kepemilikan asing paling-paling naik jadi 12 persen," kata Subarjo.

Meskipun porsi sahamnya masih kecil, ekspansi bank asing belakangan ini makin gencar. Mereka sudah mulai rajin mendekati konsumen dari kelas menengah ke bawah. Iklan produk bank asing hampir setiap hari menghiasi media massa di sini. Mereka menawarkan banyak kemudahan untuk membuka rekening baru. Citibank, misalnya, dulu mematok Rp 20 juta untuk pembukaan rekening baru, kini cukup Rp 1 juta. Jaringan ATM dan outlet bank asing juga mulai ditebar, terutama di kota besar. Lagi-lagi Citibank yang jadi contoh. Belum lama ini, bank asal Amerika itu menambah 40 mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. ABN-Amro, bank asal Belanda, yang juga menawarkan berbagai kemudahan, kebanjiran nasabah baru. "Jumlah nasabah kami setelah krisis memang meningkat enam kali lipat," ujar Pieter Van Der Aker, Country Manager Indonesia ABN-Amro, kepada Iwan Setiawan dari TEMPO.

Sampai sejauh ini, bank asing mengincar bank lokal yang punya jaringan luas dan punya kinerja bagus. Jika ekonomi Indonesia pulih, jaringan luas tadi tentu menjadi aset luar biasa. Soalnya tinggal ini: kapan ekonomi pulih?

M. Taufiqurohman, Yusi A. Pareanom, Agus Hidayat, dan Hardy Hermawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
Jawa Barat Tingkatkan Citra Sekolah Kejuruan - 09 Jul 2008 | 06:37 WIB
Impor Daging Selandia Baru Dihentikan - 09 Jul 2008 | 02:16 WIB
PLN: Transportasi Publik Tak Boleh Padam - 09 Jul 2008 | 01:06 WIB
John Calvin International School Tutup - 09 Jul 2008 | 00:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data