|
BARANGKALI inilah asyiknya jika menteri BUMN berasal dari swasta. Tanri Abeng melihat perusahaan negara sebagaimana memandang sebuah perusahaan swasta. Ia harus cepat besar dan memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Rencana Tanri mengambil oper aset konglomerat dari tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebetulnya cuma bagian kecil dari mimpinya untuk mencetak perusahaan negara yang berkelas internasional. Ia diilhami keberhasilan beberapa perusahaan negara berkembang yang mampu menembus dominasi dinosaurus-dinosaurus dunia.
Cemex, Meksiko, misalnya, kini berhasil melejit menjadi pemain semen kaliber internasional. Dalam tender pembelian saham Semen Gresik, misalnya, Cemex bahkan mengalahkan penawaran raksasa semen lain dari Swiss, Prancis, dan Jerman. Keberhasilan ini mencambuk Tanri untuk mendongkrak mutu perusahaan negara. "Paling tidak," demikian tulis cetak biru BUMN yang dimimpikan Tanri, "ada satu perusahaan negara yang masuk daftar 500 perusahaan terbesar dunia."
Untuk menggapai mimpinya itu, Menteri Tanri punya banyak rencana. Selain mengincar perusahaan yang menunggak utang ke bank pemerintah, Tanri membidik perusahaan unggulan milik swasta untuk dibeli. Dalam daftar Tanri, ada misalnya perusahaan perkebunan sawit, PT Astra Agro Lestari (yang kini dikendalikan oleh Astra International), perusahaan tambang batu bara Kaltim Prima Coal, dan bahkan raksasa penghasil emas dan tembaga dari Irianjaya, Freeport Indonesia.
Bagaimana Tanri membayar pelbagai akuisisi itu, belum jelas benar. Tapi, bisa dibayangkan, mimpi Tanri ini akan terganjal anggaran pemerintah yang terbatas.
|