New York yang Kehilangan Gairah Film terbaru sutradara Sidney Lumet kehilangan gereget. Padahal, Sharon Stone tampil serius. |
| GLORIA | | Sutradara | : | Sidny Lumet | | Skenario | : | Steven Antin | | Pemain | : | Sharon Stone | | Produksi | : | Columbia Pictures |
Hanya ada dua sutradara yang mampu menampilkan New York sebagai "makhluk hidup". Yang pertama adalah Woody Allen, yang selalu menampilkan New York yang memiliki "kekuatan seksual seekor kucing hutan": seksi, garang, tapi tetap misteriusdemikian tuturnya dalam film Manhattan. Sutradara kedua yang hampir selalu menggunakan New York sebagai "ibu" yang melahirkan "karya-karya" gemilang adalah Sidney Lumet.
Pada 1957, Lumet menggegerkan Hollywood dengan film 12 Angry Men, yang berkisah tentang satu orang yang berusaha meyakinkan 11 anggota juri lainnya untuk menentukan bahwa terdakwaseorang anak lelakitak bersalah. Film ini adalah debut yang kemudian mengangkat nama Lumet ke dalam deretan sutradara papan atas AS. Apalagi setelah ia menyajikan film Serpico (1973) dan Dog Day Afternoon (1975), yang menampilkan Al Pacino yang merampok bank untuk membiayai operasi kelamin kekasihnya. Meski film-film berikutnya seperti The Verdict, Night Falls on Manhattan, dan Stranger Among Us tidak menggegerkan seperti halnya Dog Day Afternoon, Lumet masih tetap memiliki sentuhan istimewa dalam merekam New York lengkap dengan kegarangan dan romantisisme kota itu di pagi hari.
Tapi, apa yang terjadi dengan Gloria? Ke mana Lumet yang mampu menampilkan kegerahan dan keringat New York di siang hari dan malam-malam yang tak pernah tidur itu?
Ini sebuah pembuatan ulang karya sutradara John Cassavetes, yang pada 1980 menampilkan Geena Rowland. Lumet berjudi dengan menampilkan Sharon Stone. Sebab, Stone adalah aktris yang tak pernah stabil. Dalam Basic Instinct, dia meledak hanya karena... ya karena Basic Instinct. Tapi, dalam film Casino, Stone menjelma menjadi aktris yang dipoles dengan sempurna oleh Martin Scorsese.
Dalam Gloria, Lumet menang berjudi. Stone bisa diarahkan sebagai seorang kekasih mafioso Irlandia yang menyia-nyiakannya. Gloria dipenjarakan tiga tahun untuk menutupi kesalahan sang pacar, yang ternyata tak pernah menjenguknya sekali pun di bui. Setelah tiga tahun itu, Gloria menemukan dirinya dicampakkan, sementara kelompok mafioso itu baru saja menghabiskan nyawa keluarga Nunez, yang menyimpan sebuah disket yang berisi daftar nama polisi, jaksa, dan senator yang bekerja sama dengan mafia Irlandia di New York. Keluarga Nunez menyisakan si bungsu Nicky (Jean-Luke Figueroa), yang menyimpan disket itu. Maka, film ini kemudian berisi kejar-mengejar antara Gloria, yang ingin menyelamatkan nyawa anak itu, dan keluarga besar mafia Irlandia.
Lalu, apa yang istimewa?
Di masa mudanya, Lumet pasti memiliki tenaga yang cukup untuk merekam pori-pori Kota New York yang melahirkan karakter macam Serpico ataupun polisi New York yang beragam, dari yang korup hingga yang idealis. Lensa Lumet bagai memiliki sebuah kaca pembesar, sehingga karakter dalam film-filmnya tampil telanjang hanya dalam adegan-adegan diam, tanpa musik, tanpa dialog. Berlawanan dengan Woody Allen, yang sangat bertumpu pada dialog, intelektualitas, dan bahasa tubuh yang kaya, Lumet menyerahkan hawa New York yang gerah sebagai setting yang penting dalam pembentukan sosok utamanya. New York dan Lumet bergaul dan bercinta karena sama-sama memperlakukan lawannya sebagai "makhluk hidup" yang bergelora.
Tapi film Gloria jadi kehilangan gereget karena terlalu cerewet. Film ini ingin memperlihatkan kisah dua manusia yang secara tak sengajaoleh nasibdipertemukan dan akhirnya Hollywood menentukan bahwa perempuan segarang Gloria pun punya sentuhan ibu.
Tiba-tiba saja New York kehilangan "pasangan". Lumet teler tak bertenaga. Mungkin dia sudah tuameski itu tak ada hubungannya dengan kreativitas (bukankah karya sutradara Robert Altman malah semakin dahsyat dan bergelora di masa tuanya?). Film Gloria jadi seperti sebuah film gangster biasa yang kebetulan berlokasi di New York (bisa saja dipindahkan ke kota mana pun di AS).
Meski Stone sudah mencoba sebisanya tampil prima, film ini kehilangan gereget Lumet. Mungkin ada saatnya sutradara berusia lanjut yang sudah menjadi pendekar tua seperti dirinya sejenak meminyaki bagian-bagian tubuhnya yang sudah mulai lelah. Jika ia masih punya gairah, New York pasti akan tampil cemerlang di muka lensanya.
Leila S. Chudori
|