Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXIIIIIIII/14 - 20 Juni 1999
   
Ilmu dan Teknologi

Pesawat Pemantau Kerusuhan

Tim ahli ITB berhasil merancang pesawat tanpa awak untuk memantau kerusuhan. Teknologi ini juga bisa dipergunakan untuk berdialog jarak jauh.

KERUSUHAN, bagi banyak orang, membekaskan trauma yang mendalam. Bagi tim ahli dari berbagai disiplin ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), kerusuhan justru memunculkan gagasan kreatif. Dengan "mengotak-atik" teknologi pesawat pengintai yang biasa dipergunakan di medan tempur, mereka menghasilkan pesawat tanpa awak yang diusulkan untuk pemantauan kerusuhan. Teknologi itu dipaparkan dalam sebuah seminar dan lokakarya nasional di Universitas Ahmad Yani, Cimahi, Jawa Barat, Mei lalu.

Tentu, ini sebuah usulan menarik di tengah situasi rawan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Bayangkan, dengan pesawat tanpa awak rancangan ITB, suatu kerusuhan massal sudah bisa terdeteksi hanya dalam waktu 5-10 menit. Gambaran situasi itu diperoleh setelah sebuah pesawat sky spy (SS) diterbangkan, dikendalikan dengan global positioning system (GPS), dan data yang dibacanya diolah oleh sebuah digital signal processor (DSP). Sebuah cara yang lebih efisien dibandingkan dengan cara kerja manual yang melibatkan banyak personel. Yang jelas, ia tidak membutuhkan waktu panjang.

Menurut Ketua Tim Perancang dan Pengembangan Pesawat Tanpa Awak, Dr. Ir. Djoko Sardjadi, baru Indonesia-lah yang menciptakan pesawat yang semula untuk keperluan militer menjadi pesawat pemantau kerusuhan. Sebelumnya, Australia dan Swedia telah mengembangkan rancangan yang diilhami oleh pesawat pengintai Israel, Amerika, dan Italia, tapi hanya untuk keperluan komersial. Tim ITB sendiri sebenarnya telah mulai merancang pesawat tanpa awak untuk keperluan nonmiliter sejak tiga tahun silam, tapi baru sekarang merancang khusus untuk memantau kerusuhan. "Sekarang, kami memasuki ekspose dan penawaran-penawaran awal," kata Djoko.

Untuk memantau kerusuhan, selain pesawat tanpa awak, dibutuhkan pula radiokontrol dan kamera yang tahan terhadap gempa, getaran, guncangan, dan suhu tertentu. Dengan bantuan alat DSP, data dihimpun, dan setiap ada gerakan massa akan langsung diolah dan muncul pada layar monitor yang dikendalikan operator.

Bila ada kerusuhan, pesawat itu diterbangkan dengan bantuan alat pemandu otomatis berdasarkan data posisi dari GPS. Setiap perwira yang terlibat dalam operasi di lapangan dibekali satu peralatan standar komunikasi yang bisa memberikan petunjuk, misalnya peta koordinat lokasi kerusuhan. Sementara itu, di markas pusat, ada operator yang mengendalikan pesawat. "Arah pergerakan pesawat pun bisa dipantau dan dikendalikan sesuai dengan keinginan," kata Djoko.

Saat ini, tim ITB, yang melibatkan para peneliti dan ahli mikroelektronik, teknik elektro, dan geodesi, telah berhasil merancang dua jenis pesawat: SS5 dan SS20. Pesawat SS5, sesuai dengan namanya, mampu membawa beban seberat 5 kilogram dan terbang selama dua jam, dan punya daya jelajah 160 kilometer per jam. Sedangkan SS20, selain bisa membawa beban hingga 20 kilogram, juga bisa terbang selama enam jam dengan daya jelajah 200 kilometer per jam.

Kedua jenis pesawat itu ternyata bisa ditenteng ke mana saja sehingga bisa tersedia kapan pun dibutuhkan. Ini cocok untuk daerah-daerah yang belum punya jaringan pesawat SS. "Pesawat itu bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil, dan baru kemudian dirakit lagi bila dibutuhkan," kata Djoko. Untuk menerbangkannya pun tak perlu landasan pacu yang canggih. Cukup memanfaatkan jalan-jalan yang sudah ada atau areal tanah perkebunan yang rata seluas lapangan sepak bola.

Cukup praktis, memang. Namun, tentu saja bukan karena mengharapkan kekacauan bila tim ITB mengembangkan teknologi yang selama ini hanya dipergunakan untuk melakukan pemotretan dari udara itu. Selain dirancang untuk memantau kerusuhan, teknologi ini ditawarkan pula ke industri telekomunikasi—karena bisa menciptakan jaringan telepon "terbang" yang jauh lebih murah. Teknologi ini juga memungkinkan para pejabat pemerintah memantau kondisi daerah atau berdialog langsung dengan warga tanpa harus terjun langsung ke lapangan. Pada masa depan, pesawat buatan ITB ini bahkan bisa pula dipergunakan untuk memantau pemilu.

Secara teknis, pesawat tanpa awak ini memang bisa dimultifungsikan. Namun, apakah bisa dipergunakan di berbagai bidang, itu tergantung kemampuan kantong. Satu set pesawat (terdiri atas empat unit pesawat) rancangan ITB ini dihargai sekitar US$ 600 ribu—jauh lebih murah daripada pesawat tanpa awak Israel atau AS, yang mencapai US$ 6 juta. Saat ini, kata Djoko, baru TNI Angkatan Darat, Departemen Kehutanan, dan Kantor Lingkungan Hidup yang tampaknya memperlihatkan minat yang serius.

Gabriel Sugrahetty, Upik Supriyatun (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data