Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXIIIIIIII/14 - 20 Juni 1999
   
Nasional

Simalakama Lima Besar

Problem dan prospek lima partai Pemenang pemilu.



HARUS diakui, gairah berpartai di negeri ini sungguh besar. Mula-mula ada lebih dari 100 partai tumbuh, kemudian disisir oleh Tim 11 yang dipimpin cendekiawan Nurcholish Madjid, menjadi tinggal 48 partai saja yang boleh ikut pemilu. Namun, begitu suara dihitung, rasanya hanya sekitar 10 partai yang bisa mendapat kursi. Dari sepuluh itu, hanya lima partai yang benar-benar diperhitungkan masyarakat. Berikut potret persoalan lima partai besar tersebut dalam kancah politik Indonesia mendatang.


PDI PERJUANGAN

Pukulan menohok yang diarahkan ke PDI Perjuangan menjelang pemilu lalu adalah beredarnya amanat Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengajurkan umat Islam agar tidak memilih partai yang calon legislatifnya nonmuslim. Tentu banyak orang mafhum, "serangan" itu diarahkan ke PDI Perjuangan.

Nurcholish Madjid menilai sikap MUI itu menggambarkan semacam kepanikan kalangan Islam. Tapi, sementara kalangan menilai banyaknya caleg nonmuslim itu melukiskan ketidaksensitifan PDI Perjuangan terhadap kondisi masyarakat yang mayoritas muslim. Ide PDI-P untuk segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel, misalnya, adalah contoh kekurangpekaan yang lain.

Bahwa PDI Perjuangan adalah partai terbuka dan pluralistik, hal itu tidak ada yang menyangkal. Tapi persoalannya untuk bisa melaju di parlemen kelak, PDI Mega bagaimanapun perlu sokongan dari partai lain untuk menjadi mayoritas?apalagi suara PDI-P ditaksir akan berada di sekitar 35 persen saja?termasuk sokongan partai Islam. Ia, misalnya, harus meyakinkan para kiai PKB bahwa partainya bukan partai yang anti-Islam. Pemuka PKB pun perlu ekstrakeras meyakinkan sebagian kiainya agar tidak menolak presiden perempuan. Sampai di sini tidak pekanya PDI Perjuangan terasa bakal jadi ganjalan.

Belum lagi problem ketokohan. Ulil Abshar Abdala, peneliti di Lakpesdam NU, menilai ketokohan Mega disokong oleh dua hal. Pertama, citra Mega sebagai tokoh yang disingkirkan Orde Baru, dan citra Bung Karno yang merasuk dalam jiwanya. "Begitu Mega berkuasa, unsur ini akan hilang. Juga separuh dukungan untuknya yang diperoleh melalui perasaan sebagai korban Orde Baru," kata Ulil. Mega juga harus "berani" keluar dari pengaruh banyak tokoh militer di PDI-P agar ide-ide reformasinya bisa diterima masyarakat. Kurangnya "pemikir" di tubuh PDI Perjuangan, jika gagal ditambali dalam koalisi nanti, niscaya akan membuat pemerintahan Mega rapuh.



PARTAI GOLKAR


Sebelum masa kampanye, ketua Golkar Akbar Tandjung pernah sesumbar bisa meraup paling tidak 30 persen suara. Pada massa kampanye partai ini benar-benar jadi pesakitan: benderanya dibakar, kampanyenya sepi, dan arak-araknya di jalan raya diejek masyarakat dengan lambaian uang kertas?menyindir kesukaan Golkar "bagi-bagi uang". Tapi, setelah suara dihitung, perolehan suara partai ini tetap mencengangkan. Sampai Sabtu pekan lalu, paling tidak 99 kursi DPR Pusat telah diraih Pohon Beringin ini?nomor dua di bawah PDI-P.

Mengapa? Ingat, Golkar punya kader penggerak teritorial desa yang sudah mengakar lama. Money politics? Mungkin saja, tapi itu toh harus dibuktikan secara hukum lebih lanjut.

Dengan jaringan tersebut, Golkar sesungguhnya punya kans untuk tetap melaju. Persoalannya adalah apakah ia mau menyerap ide-ide reformasi seperti amandemen UUD 1945 atau perlawanan terhadap dwifungsi TNI yang sudah didengung-dengungkan partai lain. Dengan stok birokrat bejibun, jika Golkar benar mau jadi oposisi, dia bisa merepotkan PDI Perjuangan. Tapi jalan menuju oposisi murni ini tidak mudah untuk partai yang selama 30 tahun lebih "menetek" kepada pemerintah yang berkuasa itu. Syaratnya, kubu di dalam Golkar yang progresif harus mampu mengatasi kelompok birokrat yang masih setia kepada nilai-nilai lama. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)



PARTAI KEBANGKITAN BANGSA


Kekuatan dan sekaligus kelemahan PKB adalah Gus Dur. Meski tidak masuk dalam struktur kepengurusan PKB, Gus Dur memiliki nilai jual yang tinggi dari partai para kiai ini. Gus Dur pulalah yang punya jalur dan hubungan yang kuat dengan Megawati Soekarnoputri, yang diperkirakan akan memuluskan jalan jika kedua partai ini bergabung. Tapi siapa tokoh kuat selain Gus Dur? Rasanya kepemimpinan Matori Abdul Djalil belum akan mendongkrak partai ini. Ketergantungan PKB pada Gus Dur bisa memacetkan sistem pengambilan keputusan di sana.

Tapi persekutuan PDI Perjuangan dan PKB bukan tanpa batu sandungan. Para kiai NU bukanlah orang yang dengan mudah bisa menerima "imam" seorang perempuan, terutama di tingkat negara. Artinya, kursi presiden untuk Megawati, kalaupun diterima kiai PKB, akan dilakukan dengan penuh reserve.

Di luar itu, sebagai partai berbasis Nahdlatul Ulama, PKB punya kinerja yang memukau. Meski dijegal oleh partai berbasis NU lainnya seperti Partai Nahdlatul Umat (PNU) dan Partai Kebangkitan Ummat (PKU), dalam pemilu lalu PKB melaju kencang. Paling tidak ini mengindikasikan partai ini masih punya akar di massa pemilihnya.


PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

PPP selama 30 tahun menikmati betul rasanya meraup suara partai Islam. Tapi, dalam pemilu kali ini PPP tampaknya harus legawa mengembalikan suara-suara "titipan" itu kembali ke partai induknya. Suara dari pemilih berbasis NU, misalnya, harus "kembali" ke PKB. Dan, "Ternyata, partai baru seperti PAN dan PBB tidak hanya berhasil merebut suara Golkar, tapi juga menggerogoti suara PPP," kata Ketua Umum PPP Hamzah Haz kepada Raju Febrian dari TEMPO. PPP kini bukan lagi pemegang monopoli partai Islam. Sebuah label penting sudah hilang.

Pertanyaannya: apa lagi yang dapat "dijual" PPP? Saat ini partai berlambang Ka'bah itu mungkin masih bisa mempertahankan konstituen loyalnya mengingat sosialisasi partai Islam lain belum mampu membongkar memori partai Islam yang telah ditanam PPP selama hampir 30 tahun. Tapi nanti? Wallahualam.

Sesungguhnya, PPP gigih menjual agenda reformasi menjelang Soeharto runtuh, dan itu juga nilai jual yang bagus. Tapi, ketika banyak partai lahir, dan hampir semua berebut cap reformis, PPP seperti kehilangan "roh". Ada catatan: agenda reformasi bukan ide orisinal dari PPP yang pernah berkali-kali mencalonkan Soeharto sebagai presiden. Dengan kata lain, masih ada partai beride reformasi lain yang lebih diterima masyarakat, semisal PAN.

Satu-satunya keunggulan PPP di Senayan nanti adalah ia menyimpan banyak politisi ulung yang terasah bertempur dalam parlemen Orde Baru selama belasan tahun. Faisal Baasir, ketua DPP PPP, contohnya. Di tangan orang seperti Baasirlah nasib PPP dipertaruhkan. Seperti orang berdagang, ia harus memikirkan bagaimana menjajakan "barang lama" yang mulai tidak laku.


PARTAI AMANAT NASIONAL

Dibandingkan dengan label partai massa, PAN lebih cocok disebut partai ide. Platform partai ini memang menawarkan banyak pembaruan, mulai dari soal ekonomi, dwifungsi TNI, sampai perlunya dipikirkan Indonesia memilih bentuk negara federal. Walau ada akibat: PAN terasa jadi "partai orang kota" dan kurang mengakar di tingkat akar rumput seperti halnya PDI-P.

Beruntung PAN memiliki Amien Rais. Tokoh inilah yang "dijual" para jurkam PAN sepanjang kampanye lalu. Dan hasilnya lumayan. Sebagai partai yang belum genap berusia setahun, ia bisa mencapai posisi lima besar. Amien memang simbol pendobrak totalitarian Orde Baru. Tapi, ketika yang dihadapi musnah, apa lagi yang nanti jadi "dagangan" PAN? Ini menarik ditunggu.

Dengan keinginan mendekap citra reformis, PAN menemui banyak dilema. Dalam hitungan-hitungan koalisi, PAN banyak tersandung karena harus memelihara kesan baik itu. Jika bersatu dengan PDI Perjuangan, akan banyak perbedaan terjadi?misalnya soal perubahan UUD 45, ide negara federal, atau dwifungsi TNI. Persis sama ceritanya jika PAN harus ngumpul dengan Gus Dur di PKB.

Bersatu dengan Golkar? Pastilah citra reformis PAN segera ambruk. Nah, kalau kristalisasi calon presiden nanti adalah antara Megawati dan Habibie, posisi PAN lebih ruwet lagi. Memilih keduanya sama sulitnya dengan memutuskan untuk makan buah simalakama. Konon, belakangan Ketua PAN Amien Rais sulit tidur memikirkan dilema yang dihadapinya ini?juga suara partainya yang kempis.

Sementara itu, tidak memilih juga bukan pilihan yang baik. Bisa-bisa PAN malah dilupakan orang karena dinilai tidak berkiprah. Kalau itu terjadi, mungkin yang akan muncul adalah anggapan bahwa membangun sebuah partai berbasis pluralistik bukan persoalan yang mudah di negeri ini.

Arif Zulkifli, Darmawan S., Hani Pudjiarti, Andari Karina


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar - 17 Mei 2008 | 12:45 WIB
Keluarga Sudah Menerima Kabar Sophan Sophian Meninggal - 17 Mei 2008 | 12:08 WIB
Soetrisno Bachir Keliling Jawa Tengah - 17 Mei 2008 | 11:55 WIB
Keluarga Masih Menunggu Kabar Meninggalnya Sophan Sophian - 17 Mei 2008 | 11:46 WIB
Politikus Sophan Sophian Dikabarkan Meninggal - 17 Mei 2008 | 11:42 WIB
PAN Usul Gaji Pejabat Dipotong 30 Persen - 17 Mei 2008 | 11:00 WIB
Assegaf: Putusan Pemberhentian Todung Tidak Sah - 17 Mei 2008 | 10:29 WIB
Koantas Bima Tabrak Pejalan Kaki - 17 Mei 2008 | 09:35 WIB
Catatan Kecil Reformasi - 17 Mei 2008 | 09:34 WIB
Pengeroyokan Taruna Akpol Dibawa Ke Peradilan Umum - 17 Mei 2008 | 09:30 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data