Kembalinya Si Flamboyan Andre Agassi kembali masuk deretan papan atas petenis dunia setelah menjadi juara di Prancis Terbuka. Mengapa prestasinya naik turun? |
ANGGUR yang berumur sering kali lebih sedap. Di bumi anggur, Prancis, dua petenis yang sudah cukup berumur, Steffi Graf dan Andre Agassi, tampil seperti anggur tua yang dikeluarkan dari gudang: matang dan sangat asyik untuk dinikmati. Keduanya berhasil menjadi juara di turnamen Prancis Terbuka awal bulan ini. Kemenangan Graf atas Martina Hingis tak terlalu mengejutkan karena tahun ini Graf juga telah berhasil mengalahkan Hingis. Tapi Agassi?
Kemenangan Agassi tak pelak adalah sensasi terbesar tahun ini. Soalnya, petenis flamboyan kelahiran Las Vegas 29 April 1970 ini dianggap sudah habis. Tak banyak prestasi berarti yang diraihnya dalam setahun terakhir. Bahkan, akibat cedera berkepanjangan dan kesibukannya berbisnis, Agassi yang pernah mengecap manisnya peringkat pertama pada 1995 itu harus masuk tahun 1998 dengan peringkat yang menyedihkan, 144. Sudah begitu, hanya satu gelar yang bisa diraihnya. Wajar bila Agassi jadi kurang dilirik.
Menyadari hal tersebut, tahun ini Agassi rela ikut turnamen kategori challenger. Sebenarnya, keikutsertaannya dalam ajang seperti ini ibarat main dalam turnamen tarkam alias antarkampung. Tapi pengorbanan itu tak sia-sia: lima gelar bisa dibawa pulang dan peringkatnya pun melonjak ke posisi 14. Setelah juara di Roland Garros, ia kembali masuk urutan elite dengan menyabet peringkat keempat. Bukan itu saja. Dengan kemenangannya ini, Agassi mencatatkan diri sebagai legenda baru.
Ia satu-satunya petenis yang berhasil menjadi juara di empat turnamen grand slam di empat permukaan lapangan yang berbeda. Sebelum di lapangan tanah liat di Prancis Terbuka, petenis ini menjadi juara di Wimbledon (1992) di lapangan rumput, di Amerika Serikat Terbuka (1994) di lapangan plexy pave, dan di Australia Terbuka di lapangan rebound ace. Sebelum Agassi, memang sudah ada nama Fred Perry (Inggris), Donald Budge (AS), Rod Laver, dan Roy Emerson (Australia) yang berhasil menjadi juara di empat turnamen grand slam. Namun, saat itu hanya ada dua jenis lapangan, rumput dan tanah liat. Kelebihan lain Agassi, ia menggenapinya dengan gelar juara Olimpiade pada 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.
Ditilik dari kemampuannya, mengapa prestasi Agassi bisa seperti jalannya roller coaster? Untuk menjawab hal itu, kita perlu mundur beberapa tahun. Agassi mulai meniti karir di dunia tenis di kota kelahirannya saat menjadi pemungut bola untuk Ilie Nastase asal Rumania, petenis nomor satu dunia saat itu. Terkesan oleh permainan Nastase, Agassi pun mendaftarkan diri ke kampus tenis terkenal milik Nick Bolleittieri pada 1986. Teman seangkatannya adalah Michael Chang, Pete Sampras, dan Jim Courier.
Bakat Agassi yang besar membuatnya hanya membutuhkan satu tahun untuk meraih gelar pertamanya. Namun, barangkali tertular oleh Nastase yang terkenal eksentrik, Agassi juga gemar berulah. Alih-alih serius berlatih, Agassi malah sibuk bergaya. Dengan celana balap sepeda yang dijadikan seragam wajib di bawah celana gombrong, raket warna-warni, dan rambut gondrong, lengkap sudahlah keunikan Agassi?sebuah keunikan yang justru membuatnya dipuja banyak penggemarnya. Tak mengherankan bila perusahaan raksasa perlengkapan olahraga Nike terpikat untuk mengontraknya. Agassi lantas disorot lebih karena posisinya sebagai peletak trend busana ketimbang prestasinya. Meskipun begitu, pada 1988, peringkat ketiga bisa diraihnya.
Namun, bukan Agassi namanya bila berhenti berulah. Ia menghindari Wimbledon selama empat tahun karena dilarang tampil dengan kostum berwarna. Ketika akhirnya memutuskan ikut pada 1991, sekalipun gagal menjadi juara, ia membuat kejutan dengan kostum putih total. Puncak prestasi petenis keturunan Iran ini terjadi pada 1995 dengan peringkat pertama di tangannya.
Selain pakaian, ada satu lagi "prestasi" Agassi, yaitu dalam berhubungan dengan wanita. Ia ramai diberitakan ketika berpacaran dengan bintang film yang jauh lebih tua darinya, Barbra Streisand. Namun, yang berhasil membawanya ke pelaminan adalah si jelita Brooke Shields, pada 1997. Ia pun tampil baru dengan kepala plontos. Namun, akibat jarangnya pertemuan mereka, konsentrasi Agassi sering terganggu. Prestasi Agassi pun anjlok. Maka, perceraian dua selebriti tersebut baru-baru ini boleh jadi suatu berkah tersendiri bagi Agassi karena ia bisa lebih total ke tenis.
Faktor lain keberhasilan Agassi kali ini adalah peran pelatih Brad Gilbert, yang setia mendampinginya sejak 1994. Kemenangan di Prancis membuktikan Agassi belum habis. Namun, ditilik dari usianya, Agassi harus ekstra-hati-hati bila ingin terus berprestasi. Ia terancam tak bisa ikut turnamen Wimbledon setelah mengalami cedera pinggang di Jerman. Sayang, memang. Bila ia berhasil menjadi juara di Wimbledon dan Prancis pada tahun yang sama, ia akan kembali mengukir sejarah baru.
Yusi A. Pareanom
|