Hendra Rahardja Tertangkap di Australia |
SEPANDAI-PANDAI tupai melompat, suatu saat niscaya jatuh juga. Begitulah perumpamaan yang pas untuk mengilustrasikan nasib bekas Direktur Utama Bank Harapan Santosa (BHS), Hendra Rahardja. Setelah sekian lama menjadi buron jajaran aparat hukum Indonesia, Hendra ditangkap kepolisian Australia begitu mendarat di Sydney Kingsford Smith Airport, dari penerbangan asal Hong Kong. Hendra adalah kakak kandung Eddy Tansil, bos Grup Golden Key yang kabur dari penjara Cipinang, Jakarta, setelah dihukum akibat "menjarah" Rp 1,3 triliun uang Bapindo. Eddy hingga kini masih buron.
Berita penangkapan Hendra disampaikan oleh Komandan Korps Reserse Mabes Polri, Mayjen (Pol.) Da'i Bachtiar, kepada wartawan, Kamis pekan silam. Tapi, menurut Da'i, hingga sekarang Mabes Polri belum bisa begitu saja memboyong pria kelahiran 3 Desember 1942 itu ke Tanah Air. Soalnya, Hendra masih harus menghadapi persidangan ekstradisi di pengadilan negara Australia, sesuai dengan ketentuan Extradition Act 1988. Bila dalam persidangan itu Hendra diputuskan bisa diekstradisi, ia masih punya kesempatan mengajukan banding, kemudian kasasi. Adapun batas waktu permintaan ekstradisi adalah 45 hari sejak ditahan. Seandainya dalam kurun waktu itu Polri tak mengajukan permintaan ekstradisi, Hendra mungkin akan dibebaskan.
Pria yang bernama asli Tan Tjoe Hing ini menjadi buron karena membawa lari uang nasabah BHS sesaat setelah bank itu dilikuidasi pada 1 November 1997. Jumlahnya ditaksir US$ 50 juta sampai US$ 200 juta. Tapi, asal tahu saja, ayah kedua bankir buron itu, Tan Tek Hoat, juga pernah melarikan duit nasabah bank miliknya sendiri, Bank Banteng, di Ujungpandang, pada 1960-an. Ia kemudian lari ke Hong Kong dan menjadi buron, persis yang kemudian terjadi pada kedua anaknya. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.
Ditusuk Akibat Selebaran MUI
|
AMANAT ternyata tak selamanya membuat tenteram umat. Buktinya, di Karawang, Jawa Barat, selebaran berisi amanat Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat seorang warga tertusuk pisau. Aksi penusukan itu terjadi pada Minggu malam, 6 Juni 1999, persis sehari sebelum pelaksanaan pemilu.
Kisah bermula dari adanya setumpuk selebaran di Wartel Annisa, yang berada persis di sebelah Pondok Pesantren Yayasan Lampu Iman, Karawang. Selebaran itu berisi amanat MUI dan ormas-ormas Islam lain, yang sebetulnya sudah tersebar sebelum pemilu berlangsung. Isinya, seruan agar umat Islam dengan ikhlas dan niat ibadah kepada Allah memilih salah satu dari parpol yang secara sungguh-sungguh menonjolkan calon legislatifnya yang beragama Islam serta memiliki akhlak mulia.
Entah kenapa, seorang warga bernama Endang Habib tiba-tiba jadi berang setelah mengetahui di dalam wartel tersebut ada setumpuk selebaran tadi. Endang adalah calon legislatif urutan kelima dari PDI Perjuangan untuk DPRD tingkat II, dari Kecamatan Karawang. Ia mendatangi wartel tersebut dengan penuh emosi, sembari mengacung-acungkan pisau. Akibatnya, Nurhakim Zaky, yang kebetulan berada di lokasi kejadian dan mencoba melerai keributan, justru menjadi korban penusukan.
Nurhakim mengalami luka sedalam 1,5 sentimeter dan lebar 1 sentimeter di bagian tulang iga sebelah kiri. Malam itu ia segera dibawa ke seorang dokter praktek, tapi langsung boleh pulang dengan empat jahitan. Kini kasus penusukan itu sudah ditangani Kepolisian Resor Karawang. "Sejauh ini kami sudah melakukan pemeriksaan dan membuat berita acara pemeriksaan. Mungkin dalam jangka waktu 14 hari sudah ada persidangan," ujar Asep, pengacara Nurhakim, kepada Rubi Kurniawan dari TEMPO.
Heli Gelap Mendarat di Tim-Tim
|
BUMI Timor Timur ternyata tak cuma menyimpan ketegangan, tapi juga misteri. Ini diungkap oleh Komandan Resor Militer 164/Wira Dharma, Kolonel (Inf.) Tono Suratman. Dalam jumpa pers di Hotel Mahkota, Dili, Rabu pekan silam, Tono mengatakan, dari pantauan radar, pihaknya mendeteksi lima penerbangan gelap masuk wilayah Tim-Tim. Penerbangan tersebut terjadi selama April 1999, sebelum kedatangan pasukan PBB yang menjaga proses referendum, United Nations Assessment Missions on East Timor (UNAMET), di Dili.
Tono juga mengungkapkan bahwa ada dua helikopter Puma tanpa identitas telah mendarat di salah satu desa di Kabupaten Viqueque, 197 kilometer di timur Dili, pada 14 April silam, sekitar pukul 01.05 Wita. Helikopter itu diduga mengangkut senjata dan amunisi. Militer Indonesia mencurigai penerbangan gelap tersebut sebagai indikasi adanya suplai senjata terhadap kelompok Falintil, sayap militer CNRT pimpinan Xanana Gusmao. Aparatnya, menurut Tono, sekarang sedang melacak dan mencari konfirmasi dari pelbagai pihak di lapangan tentang temuan itu.
Tapi, dari Australia justru terdengar kabar, Deputi Menteri Pertahanan Hugh White memiliki bukti langsung yang menunjukkan bahwa militer Indonesia telah memasok persenjataan ke kelompok-kelompok bersenjata prointegrasi. Menurut White, Australia bahkan sudah berkali-kali memprotes Jakarta karena tindakan militer itu. Jadi, siapa yang benar, nih?
|