Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXIIIIIIII/14 - 20 Juni 1999
   
Seni

Menafsir Modernitas dengan Budaya

Galeri Nasional membuat pameran dengan pendekatan budaya. Sebuah upaya untuk membedakannya dengan Museum Nasional, yang menyusun pameran berdasarkan garis sejarah

SERATUS karya perupa Indonesia di sebuah ruang baru bernama Galeri Nasional. Apakah mereka berhasil mewakili "Modernitas Indonesia dalam Representasi Seni Rupa"?seperti judul pameran itu?

Paling tidak, pameran yang sekaligus diadakan untuk meresmikan Galeri Nasional ini ingin menunjukkan satu hal penting: seni rupa merupakan kawasan tafsir yang terbuka. Karya yang telah berulang kali dipamerkan bisa saja digali, disusun, dan dibangun kembali dalam pameran lain dengan kurasi yang lain pula, mengikuti visi dan gagasan kuratornya. Dan ini menjadi gagasan berikut dari pameran yang berlangsung dari 8 Mei hingga akhir Juni mendatang ini.

Berbeda dengan kebiasaan umum, pameran ini tidak bertolak dan tidak juga mempermasalahkan riwayat seni rupa Indonesia. Urutan tahun dan periode perkembangan tertentu justru diacak dan disederhanakan. Penyusunan lebih ditekankan pada empat kecenderungan besar dalam praktek seni rupa modern Indonesia, yaitu: lukisan potret, lukisan pemandangan, gambaran keseharian, dan narasi dalam ungkapan seni rupa.

Lukisan potret, walau tradisinya telah muncul sejak masa kolonial, hingga saat ini berlangsung tanpa putus. Namun, tampaknya para kurator pameran ini mencoba menggali dari aspek lain di luar seni rupa. Aspek sosio-budaya, seperti sosok obyek yang digambar, gaya dan pakaian yang dikenakan, merupakan faktor lain yang menjadi perhatian. Potret yang muncul pada masa Raden Saleh umumnya menggambarkan seorang tokoh dalam gaya yang khas: aristokrat, feodal, dan berhubungan dengan kekuasaan. Ini terlihat pada lukisan gubernur jenderal Belanda dalam pakaian kebesarannya, berdiri dalam posisi bertolak pinggang. Dengan porsi sedikit berbeda, tradisi pemujaan seperti itu terus berlangsung hingga masa pascakolonial. Ini terlihat pada lukisan potret Soekarno dan Soeharto karya R. Basuki Abdullah, yang dijajar berdampingan.

Lukisan S. Soedjojono dan Hendra Gunawan lebih menggambarkan realitas keseharian. Sosok yang muncul adalah orang biasa dalam perjuangan hidup sehari-harinya, tapi jauh dari sikap progresif?sebagaimana gambaran manusia modern di Barat. Seorang ibu digambarkan seperti umumnya orang biasa, yakni sosok yang berpakaian biasa dan mengerjakan rutinitas sehari-harinya; menjahit dan mendominasi kegiatan di dapur (menguliti pete).

Merekam realitas sosial di depan mata, agaknya, bagi S. Soedjojono jauh lebih pantas ketimbang membuat lukisan pemandangan indah (mooi Indie), yang hanya memuaskan selera kolonial. Melalui lukisan, Soedjojono sesungguhnya melontarkan perlawanan, menolak penjajahan, dan apa saja yang dekat dengan semangat kolonial. Jelas, sikap ini berangkat dari semangat nasionalisme, suatu kesadaran baru mengenai kebangsaan yang merupakan bagian dari modernitas bangsa kita. Seperti kita ketahui, faktor inilah yang secara kebetulan merupakan perekat terbentuknya Republik Indonesia. Dan selama 32 tahun, oleh Orde Baru, ia dijadikan retorika kosong untuk mempertahankan kekuasaannya.

Gambaran keseharian dalam pameran ini juga memperlihatkan bagaimana bercampurbaurnya nilai tradisi dan kemodernan. Lukisan Hendra Gunawan dan Ni Made Kadjeng, yang menggambarkan kegiatan wanita Jawa di pasar tradisional, berpakaian kebaya, berkerudung, memakai caping, meletakkan barang dagangan di atas kepala, menjadi kontras apabila disandingkan dengan lukisan Paduan Suara (1955) karya Sumarjo Lee. Di sini digambarkan sekumpulan wanita dalam pakaian modern yang rapi dengan berbagai mode, tengah menyanyi, dan salah seorang di antaranya memainkan piano. Ini adalah sebuah kebiasaan baru yang, pada saat itu, dipinjam dari Barat.

Melalui 100 karya perupa ini, kurator pameran ini, Jim Supangkat, dibantu Asmudjo Irianto, Rizki A. Zaelani, dan Sari Asih Joedawinata, tampak tak sekadar menyajikan pameran, tapi sekaligus menggali, menafsirkan, dan mengaitkan hubungannya dengan budaya.

Asikin Hasan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data