Sebuah Upaya Menafsirkan Seni Studiklub Teater Bandung kali ini menampilkan karya Yasmina Reza tanpa arahan Suyatna Anirun. Penonton membeludak, pertunjukan lancar. |
| ART | | Dipentaskan oleh | : | Studiklub Teater Bandung | | Naskah | : | Yasmina Reza | | Sutradara | : | Wawan Sofwan | | Tempat | : | Selasar Seni Sunaryo, Bandung |
Ini sebuah ide gila. Sang Dokter Serge berniat membeli "taik" berupa sebuah lukisan kontemporer berwarna putih mulus dengan harga luar biasa mahal. Dan Marc, sang arsitek, tak setuju dengan keputusan itu.
Keduanya lantas terlibat perang mulut. Kata-kata berubah menjadi senjata untuk saling melukai. Yvan, sang agen kertas, bersikap netral. Ia dengan sikapnya yang penuh common sense senantiasa menunjukkan toleransi.
Namun, bagi Marc, "si Teroris Moral"—demikian julukan bagi sosok demikian, bagi sejumlah kritikus teater Eropa—sikap Yvan sama artinya dengan apatisme. Secara tak terelakkan, Yvan tak luput dari kecamuk tersebut. Akhirnya, mereka pun rujuk setelah bersama-sama melangsungkan ritus yang ganjil: Serge mempersilakan Marc menggambar di kanvas putih bercat putih yang menjadi biang sengketa itu.
Lantas, Serge dan Marc bersama-sama menghapus kembali jejak spidol yang digoreskan Marc. Selanjutnya, mereka seolah sepakat bahwa lukisan itu bukan cuma putih polos, melainkan sebuah karya yang mengandung aneka warna dan nuansa. "Upacara" ini disaksikan oleh Yvan. Di sini seakan hendak ditegaskan bahwa prinsip dan pandangan hidup bukan kemutlakan, dan apresiasi seni bisa ditumbuhkan. Nilai persahabatan, kendati bisa retak oleh perbedaan prinsip dan pandangan hidup, akhirnya lebih berharga daripada materi atau gengsi. Begitulah kesan yang membekas pada pertautan tiga serangkai Serge, Marc, dan Yvan dalam drama Art. Lakon yang memenangi penghargaan Moliere 1995 itu merupakan karya kelima Yasmina Reza (1957), dramawan Pancis yang karirnya menjulang dalam satu dasawarsa terakhir.
Naskah yang dipentaskan oleh Studiklub Teater Bandung (STB) ini mengundang pengunjung yang membeludak di Arena Terbuka Selasar Seni Sunaryo, Bandung, akhir bulan silam. Disutradarai Wawan Sofwan, yang juga memerankan Yvan, pementasan itu berlangsung lancar dan segar. Naskah ini juga pernah dimainkan oleh aktor-aktor besar masa kini (Pierre Arditti, Pierre Vaneck, Fabrice Lucchini, dan juga Jean-Louis Trintignant) di Paris, Zurich, Berlin, dan London.
Ia berkisah tentang konflik yang pecah di tengah kekariban, yang menghanyutkan para tokohnya ke arus agresivitas yang konyol, di antara snobisme, dusta, dan kedunguan yang menggelikan. Keistimewaannya, antara lain, lakon ini dibangun oleh variasi pengucapan. Di antara dialog yang menyatakan lapis permukaan watak, sesekali terselip monolog yang justru dimaksudkan sebagai sarana penyibak bagian-bagian tersembunyi dalam pribadi para tokohnya. Semua itu jalin-menjalin seakan hendak menggambarkan karakter kolektif kalangan borjuis yang membaurkan basa-basi dan ekspresi diri yang sejati. Semua itu dilontarkan dengan logika yang komikal, sesekali tebersit nuansa tragis, melalui perdebatan tentang arti seni, media yang sekaligus menjadi cermin multi-interpretatif bagi kemungkinan berintrospeksi.
Kemungkinan itu tak hanya berlaku bagi para tokoh fiksi tersebut, tapi juga bagi penonton. Hal itu dimungkinkan lantaran penulis lakon ini dengan cerdik menyusupkan pelbagai problem personal sehari-hari dan remeh-temeh di antara bualan intelektual yang melambung.
Mohamad Sunjaya memainkan perannya dengan proporsional untuk menyatakan psikologi Serge yang snob, mementingkan citra diri, setia kawan, sekaligus dihinakan. Kematangan Sunjaya itu cukup mendapat imbangan dari akting Wawan dan Ign. Aktor Arya Sanjaya, yang berhasil menghidupkan Marc yang realistis dan konservatif, yang terkadang sinis dan pemberang.
Jika ada yang terasa kurang gereget, itu adalah adegan pertengkaran ketiga sahabat tersebut, akibat terlalu stabilnya proyeksi emosional para pemain. Namun, hal itu tak sampai mengganggu aksi-reaksi para aktor, yang tampak luwes di tengah kebersahajaan tata artistik garapan Sunaryo. Set yang terdiri atas lembaran-lembaran cermin itu mampu menghadirkan ruang transparan dan reflektif secara sugestif. Dikombinasikan dengan sketsa putih dan elemen lain berwarna hitam, penataan itu seakan hendak menegaskan kembali visi manusia modern tanpa menutup kemungkinan hadirnya beragam imaji.
Sitok Srengenge
|