Peta Tanaman Menyingkap Dunia Proyek pemetaan genetis tanaman sudah rampung. Inilah tonggak penting bagi pengembangan tanaman pangan dan pengobatan penyakit manusia.
|
DUNIA biologi memperoleh kado istimewa pada awal milenium ketiga ini. Para ilmuwan yang bekerja dalam proyek pemetaan genetis tanaman sejak tahun 1996 dikabarkan telah merampungkan penelitiannya pada awal Desember 2000. Inilah prestasi monumental yang menguak rahasia alam, sehingga bencana kelaparan, polusi, ataupun penyakit pada manusia akan segera tertanggulangi. Sejak saat ini pula, "Ilmu tanaman dan genetika akan berubah total," ucap Mike Bevan, koordinator ilmuwan Eropa, di London.
Tanaman yang bisa dipetakan dalam proyek bernilai US$ 70 juta itu adalah Arabidopsis thaliana, sejenis rumput liar. Arabidopsis bertangkai kurus, daunnya hijau kecil, serta berbunga putih mungil. Sebelumnya, tanaman itu tak punya nilai komersial ataupun kegunaan pengobatan, bahkan sekadar dijadikan hiasan pun tidak. Arabidopsis dipilih di antara 250 ribu tanaman yang lain. Itu karena ia secara biologis tergolong tanaman sederhana dan gampang tumbuh?bisa delapan generasi dalam setahun.
Dari hasil penelitian, Arabidopsis ternyata memiliki 25.500 gen pada lima kromosom. Dua pertiga dari fungsi gen-gen itu telah diidentifikasi. Gen pada tumbuhan ini mengandung 117 juta senyawa kimia. Sebagai perbandingan, jagung memiliki 3 miliar senyawa kimia. Sebelum Arabidopsis, organisme yang cetak biru DNA-nya sudah diketahui adalah lalat buah, cacing nematode, 600 virus, dan dua losin bakteri.
Seperti halnya pada model binatang, yang telah secara genetis diurutkan, senyawa kimia pada tanaman juga akan mudah diutak-atik di laboratorium. Dengan kata lain, Arabidopsis jadi semacam stand-in (tanaman pengganti) untuk tanaman lain yang lebih kompleks. "Arabidopsis sekarang jadi referensi untuk semua tanaman yang lain. Kini kita tahu apa yang diperlukan untuk membuat bunga," ujar Jeff Dangl, ahli penyakit tanaman dari Universitas North Carolina.
Namun, Patrick Schnable, ahli jagung dari Iowa State, menganggap pernyataan Dangl terlalu dini. Masalahnya, pemetaan yang rampung itu baru merupakan tahap awal dari pekerjaan besar. Fase kedua yang bertujuan mengidentifikasi semua fungsi gen diperkirakan selesai pada tahun 2010. "Setelah kita tahu tiap gen, kita harus memikirkan kenapa fungsi itu penting," kata Patrick.
Tanggapan Patrick sah-sah saja. Yang jelas, pada proyek penelitian di atas, gen Arabidopsis telah diujikan pada tanaman pangan. Dengan penyusupan gen rumput tersebut, ternyata tanaman menjadi tumbuh lebih cepat, tangguh pada cuaca buruk, tahan hama dan penyakit, serta mengandung vitamin lebih melimpah. Jelas, jenis tanaman pangan seperti ini akan mengurangi penggunaan bahan kimia pembasmi hama dan penyakit. Ribuan hektare hutan pun tak perlu digunduli untuk areal sawah karena kebutuhan pangan bisa terpenuhi dengan pesatnya populasi tanaman pangan hasil modifikasi genetis tadi.
Tak kalah pentingnya, para ahli telah menemukan 100 gen dari tanaman itu yang juga ternyata hampir mirip dengan gen penyakit manusia, seperti ketulian, kebutaan, dan kanker. Misalnya, Arabidopsis memiliki gen BRCA1 dan BRCA2 yang ketika bermutasi akan menyebabkan kanker payudara. Banyaknya kesamaan gen antara manusia dan rumput-rumputan keruan membuat para ahli yang terlibat dalam proyek itu terpesona. Sebab, kesamaan itu punya muara penting yang dulu tak terbayangkan. Tanaman bisa dijadikan uji coba pengobatan untuk manusia dalam terapi berbasis genetika. Dengan demikian, terapi bagi pelbagai jenis penyakit manusia menjadi lebih mudah dan murah.
Toh, belum banyak pihak yang mengaku gembira dengan proyek spektakuler itu. Mereka yang anti lazimnya mengkhawatirkan makanan dari produk utak-atik genetis. Mereka menganggap kesehatan justru bisa terancam. Selain itu, proses pengadaan tanaman modifikasi genetis juga dinilai bisa merusak lingkungan. Mungkin kekhawatiran itu layak dicermati, kendati tak harus sampai membuat proyek untuk sebuah dunia baru itu menjadi sia-sia.
Yusi A. Pareanom
|