Evakuasi Mengejar Kesembuhan Evakuasi medis lewat udara ternyata tak hanya diberikan kepada korban kecelakaan. Penderita demam berdarah pun bisa diterbangkan ke Jakarta.
|
GERIMIS masih turun ketika roda pesawat Super King Air 350 menjejak landasan Bandara Selaparang, Mataram, suatu sore, Desember lalu. Dari balik pintu, dua tenaga medis berpakaian putih bergegas menuju taksi yang akan membawanya ke RS Siti Hajar, Mataram. Di sana, ada pekerjaan penting menunggu: segera mengevakuasi Mardiono, 23 tahun, penderita demam berdarah, ke rumah sakit di Ibu Kota. Tak sampai satu jam menunggu, rombongan pasien tiba di bandara. Pesawat carter milik PT Pos Ekspres Prima itu pun segera take off menuju Jakarta.
Evakuasi medis dengan pesawat terbang sekarang memang bukan hanya bisa dinikmati korban kecelakaan kerja di daerah terpencil. Selama ini, jasa evakuasi medis jamak dinikmati pekerja di industri perminyakan atau pertambangan lainnya yang rawan kecelakaan, tapi sekarang penderita demam berdarah pun bisa mendapatkan pelayanan serupa.
Pelayanan evakuasi medis agaknya telah lebih memasyarakat. Namun, ternyata belum banyak perusahaan yang menawarkan jasa semacam ini. Dari yang sedikit itu adalah Global Assistance and Healthcare, Jakarta, yang didirikan sejak 1993. Perusahaan yang dikomandani pendirinya, Mario Babin, inilah yang melayani evakuasi Mardiono. Pegawai negeri sipil perikanan di Jakarta itu terserang demam ketika baru sehari menginjakkan kaki di Lombok, tempat ia ditugaskan.
Dikira panas biasa, Mardiono minum obat penurun demam yang dijual bebas di pasaran. Tak mempan. "Demam saya tak juga turun," ujarnya lirih kepada TEMPO yang ikut serta dalam proses evakuasi. Ia sempat datang ke puskesmas setempat, tapi kondisinya terus memburuk karena tenaga medis setempat belum bisa mendiagnosis penyakitnya. Karena itu, Mardiono meminta bantuan temannya untuk mengontak keluarganya di Jakarta.
Segera setelah menerima kabar buruk itu, ibunda Mardiono menghubungi Global. Beruntung ia ingat bahwa anaknya ikut program asuransi yang punya kerja sama dengan Global. Beres. Global menyanggupi untuk mengevakuasi Mardiono ke Jakarta. Sembari menunggu datangnya tim evakuasi dari Jakarta, Mardiono dibawa ke RS Siti Hajar, Mataram. Di situlah, baru ketahuan bahwa ia terserang demam berdarah.
Saat tim evakuasi tiba, panas tubuh Mardiono belum juga ada tanda-tanda mendingin. Trombositnya malah menurun drastis. Mau tak mau, ia harus segera mendapatkan transfusi darah. Ini yang membuat permintaan evakuasi ke Jakarta bagi Mardiono diluluskan.
"Permintaan evakuasi memang dilakukan oleh pasien, tapi keputusannya tetap ada pada kami," kata Mario. Ada sejumlah alasan, kapan permintaan evakuasi diloloskan. Misalnya, fasilitas di rumah sakit setempat tidak memadai sehingga tidak bisa menangani pasien yang membutuhkan penanganan lebih intensif. Evakuasi juga bisa dilakukan dalam peristiwa yang membahayakan nyawa pasien.
Bila salah satu kriteria tersebut terpenuhi, umumnya permintaan evakuasi disetujui. Selain mendasarkan diri pada analisis dokter di Global, persetujuan evakuasi juga lahir setelah manajemen Global mendapat masukan dari dokter di tempat pasien yang mengajukan evakuasi.
Seleksi ketat atas permohonan evakuasi sangat penting, terutama karena biayanya yang tak sedikit. Sekadar gambaran, untuk sewa pesawat yang dipakai untuk evakuasi Mardiono dengan rute Jakarta-Mataram-Jakarta, pihak Global musti mengeluarkan US$ 16 ribu.
Pelayanan evakuasi bisa diperoleh anggota asuransi yang menjalin kerja sama dengan Global. Namun, yang bukan anggota asuransi pun bisa mendapatkan pelayanan serupa bila membayar keanggotaan ke Global US$ 200 per tahun. Bila tidak, seseorang masih bisa meminta jasa evakuasi dengan tarif US$ 20 ribu untuk sekali evakuasi.
Dalam prakteknya, Global juga sering menerima limpahan pasien dari rumah sakit atau klinik kesehatan yang membutuhkan jasanya. Bali International Medica Citra, Denpasar, seperti diutarakan pengelolanya, Deni Tong, pernah pula memanfaatkan jasa perusahaan evakuasi. "Kami memang pernah menyalurkan pasien yang perlu dievakuasi ke luar negeri lewat Global," katanya kepada Rofiqi Hasan dari TEMPO.
Beberapa rumah sakit kini memang menawarkan layanan evakuasi karena mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan evakuasi medis. RS Internasional M.H. Thamrin, Jakarta, misalnya, sejak Maret 2000 memberi layanan evakuasi setelah bekerja sama dengan Kesatuan Udara Polri. Rumah sakit ini mengembangkan unit HEMES (Helicopter Emergency Medical Evacuation Service). Dengan helikopter, tim evakuasi bisa mendatangi tempat yang sulit didarati pesawat terbang. "Saat ini, yang banyak memanfaatkan jasa kami adalah perusahaan minyak lepas pantai dan pengelola resor di sekitar Jakarta," ujar Jacky Arjono, Public Relations Manager RSI M.H. Thamrin.
Ada sejumlah pertimbangan kenapa HEMES dikembangkan, antara lain karena evakuasi jalur darat sering ngadat terjebak macet. Bayangkan, berapa lama waktu yang terbuang di jalanan jika kecelakaan terjadi di Pantai Anyer, Jawa Barat, sementara pasien mesti dirawat di Jakarta. Padahal, bagi pasien, selisih hitungan detik dalam penanganan sangatlah bermakna. Tak berlebihan bila Jacky menilai, "Orang sekarang memang sudah butuh jasa evakuasi yang cepat dan bebas hambatan, termasuk dengan heli."
Tak seperti Global, yang melayani jasa evakuasi di dalam dan ke luar negeri, pelayanan HEMES baru sebatas Jakarta plus daerah di sekitarnya dalam radius 180 kilometer dari RSI M.H. Thamrin. Tanpa repot harus menjadi anggota terlebih dahulu, konsumen bisa mendapatkan jasa evakuasi dengan heli asal kuat membayar tarif US$ 1.500 per evakuasi.
Evakuasi lewat udara memang bukan pelayanan murah. Namun, seberapa pun mahalnya, jasa ini tak kekurangan peminat?bahkan kini mungkin bertambah seiring dengan kesadaran orang melengkapi diri dengan asuransi kesehatan. Evakuasi cepat memang bisa sangat menentukan keselamatan pasien. Pada beberapa kasus, pasien bakal sulit tertolong bila melewatkan golden period, masa-masa yang paling menentukan keberhasilan suatu tindakan atau terapi. Demi mengejar masa-masa emas itulah mahal sering tak jadi masalah. Tentu saja, itu bagi yang dikaruniai rezeki berlebih.
Dwi Wiyana, Dewi Rina Cahyani
|