Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXIX/15 - 21 Januari 2001
   
Nasional

Awas, Malari Jilid Dua, Katanya

Betulkah massa pendukung dan penentang Presiden Abdurrahman Wahid bakal bertemu di Jakarta Senin ini? Ataukah ini hanya sebatas saling gertak?

MALARI jilid kedua bakal meletus di Jakarta, Senin ini? Begitu kekhawatiran banyak warga Ibu Kota, Senin, 15 Januari 2001 ini. Beredar kabar, ribuan massa dari kelompok pendukung dan penentang Presiden Abdurrahman Wahid akan saling tumpah ke jalan, dan prahara akan kembali berulang. Sejumlah orang waswas, bahkan ada berita Departemen Pendidikan Nasional akan meliburkan sekolah di hari ini.
Pada tanggal yang sama, 27 tahun lalu, 15 Januari 1974 (ketika itu hari Selasa), Jakarta dilalap api rusuh. Saat itu ribuan mahasiswa turun ke jalan menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Mahasiswa mengusung pamflet anti-Soeharto dan anti-modal Jepang. Tapi aksi itu berubah brutal tanpa diketahui bagaimana ujung-pangkalnya. Kendaraan-kendaraan buatan Jepang dibakar, bangunan dan toko-toko dirusak, setidaknya 11 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Dua hari Jakarta lumpuh. Keterlibatan tangan-tangan intelijen militer banyak disebut ikut bermain.

Dan Jakarta di hari-hari ini adalah Jakarta yang hiruk-pikuk dengan pengerahan massa dari berbagai kekuatan politik?sebuah kondisi yang pernah dikritik cendekiawan Nurcholish Madjid sebagai sebuah tataran yang masih mengandalkan politik massa (mob politics). Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Sejak akhir pekan kemarin telah berlangsung berbagai rapat akbar, dari Muktamar Hisbullah sampai peringatan hari ulang tahun PDI Perjuangan, yang dihadiri 100 ribu anggotanya, Ahad kemarin. Tapi, menurut Roy Djanis, salah seorang Ketua DPP PDI-P, acara itu tak ada kaitannya dengan aksi dukung atau kontra-Presiden Abdurrahman. Bahkan keikutsertaan anggota Banser dilarang dalam apel Satgas PDI-P ini. Toh, Roy mengaku, Satgas PDI-P diperintahkan untuk berjaga-jaga di posnya masing-masing untuk mengantisipasi situasi yang tak diinginkan.

Hari Senin ini?ketika majalah ini beredar?menurut rencana semula akan berlangsung sebuah apel akbar 200 ribu barisan pendukung Gus Dur. Diberi tajuk Panggung Rakyat, dalam aksi unjuk kekuatan yang dipusatkan di Parkir Timur Senayan ini, dekat Gedung MPR/DPR, digelar 16 elemen gerakan yang dimotori Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)?organisasi kemahasiswaan di bawah payung Nahdlatul Ulama. Ikut bergabung antara lain: Gerakan Pemuda Ansor, Forkot, Famred, Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia, Partai Rakyat Demokratik, dan Serikat Buruh Seluruh Indonesia?meskipun kemudian ada yang membantah ikut dalam barisan pendukung Gus Dur. Dan seperti sebelum-sebelumnya, mereka kembali mengusung tema anti-Orde Baru. Dan yang bikin hati banyak kalangan kecut sekaligus heran adalah rencana didatangkannya ribuan Barisan Serbaguna (Banser) Ansor dari Jawa Timur, dengan dalih menghadiri perhelatan itu. Namun, belakangan, rencana itu konon dibatalkan.

Adapun pengerahan Banser sudah dirancang sejak pertengahan Desember lalu. Pasalnya, para petinggi NU mendapat kabar bahwa pada pertengahan Januari, kekuasaan Presiden Abdurrahman bakal digoyang habis-habisan. Instruksi untuk itu, kata Komandan Satuan Koordinator Wilayah Banser Ja-Tim, Muslim Mustajab, langsung diberikan Syaifullah Yusuf, Ketua Umum Ansor yang juga keponakan Presiden. Sinyal ke arah itu pun juga telah dinyalakan Ketua Umum NU, Hasyim Muzadi, sejak 19 Desember lalu. Restu bahkan diberikan kelompok kiai khos yang amat disegani, salah satunya K.H. Abdullah Abbas, pimpinan Pesantren Buntet, Cirebon. Menurut ulama sepuh berusia 80 tahun ini, berdasarkan "isyarat dari langit" yang diperolehnya, tak ada pilihan lagi bagi NU selain memberikan dukungan kepada kebenaran. Dan menurut NU, Presiden Abdurrahman masih berada di jalan yang benar.

Banser pun bergerak. Untunglah, belakangan perintah diralat. Presiden turun tangan langsung meminta Banser tak merangsek ke Jakarta. "Ada informasi bahwa ada kelompok militer yang akan masuk dan ikut bermain," kata Nusron Wahid, Ketua Umum PMII. Rencana pun diubah. Banser cuma akan menjaga keamanan berbagai aksi unjuk rasa yang dimotori para santri NU ke berbagai gedung DPRD di seluruh Jawa. Toh, Banser tetap disiagakan. Pihak Polda Metro Jaya bahkan menyatakan telah mensinyalir adanya 3.000-an anggota Banser yang keburu diberangkatkan, dan kini tersebar di kawasan Senen, Tanjungpriok, Bekasi, dan Pasarminggu.

Rekrutmen dan segala persiapan pun terus berlangsung. Di Mojokerto, pendaftaran jalan terus. Semula, sebelum akhirnya dibatalkan, mereka sudah akan diberangkatkan dari alun-alun Mojokerto sejak Kamis lalu. Mereka juga mendapat berbagai gemblengan bak hendak berangkat perang. Di Jember, tiap anggota Banser dibekali sebilah rotan. Bukan sembarang rotan, benda ini telah "diisi" oleh para kiai, dan?ini kata Miftahul Ulum, Komandan Banser setempat?rotan itu bisa menghancurkan sebongkah batu. Di Jember juga telah dibentuk Pasukan Pelopor, yang berintikan pendekar Madura berseragam hitam-hitam. Di kalangan Ansor, mereka dijuluki salah satu pasukan elite-nya NU.

Sejak dua bulan lalu, ratusan Banser juga ditempa baik fisik maupun spiritual di Desa Bendungan, Pasuruan?cabang NU yang dikenal garang dan pernah menghadang Amien Rais saat kampanye pemilu lalu. Di Surabaya, 800 anggota Banser bahkan diberi latihan survival di tengah hutan belantara dengan bekal persediaan yang minim. Kini, pasukan loreng NU itu dalam keadaan siaga satu untuk digerakkan setiap saat. "Pokoknya tunggu perintah. Ini saya yang bilang, kalau Gus Dur sampai dijatuhkan, Surabaya akan saya bakar," kata Masduki Toha, Ketua Ansor Surabaya, dengan amat galaknya, seolah-olah presiden itu tak bisa dijatuhkan.

Gelar "tentara sipil" ini bukan tanpa sebab. Mereka mengantisipasi sebuah gerakan lain?juga dalam skala massa ratusan ribu?yang akan datang ke Senayan pada hari yang sama. Menurut Alvian Tandjung, Koordinator Nasional Majelis Ukhuwah Masyarakat Mahasiswa Indonesia (Mukmmin), mereka antara lain terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam, Brigade Hisbullah, Barisan Muda PAN, Hammas, Gerakan Pemuda Islam, Gerakan Pemuda Ka'bah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, Cikago (Cikini, Kalipasir, dan Gondangdia), Massa Macan Kemayoran, dan eks pasukan Pam Swakarsa dari Tangerang, Banten, Pandeglang, Tasikmalaya, dan Serang. Jumlah seluruhnya diklaim bisa mencapai setengah juta orang. Pada 20 November lalu, Mukmmin memang menggelar demo di DPR untuk menuntut mundur Presiden Abdurrahman.

Selain itu, kata Alvian, juga akan bergabung berbagai elemen mahasiswa dari tiga kampus terkemuka seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI), Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Meski menyatakan tak akan turun ke jalan Senin ini, BEM-UI telah mengultimatum Presiden untuk serius menjalankan amanat reformasi paling lambat dalam tempo tiga bulan. "Kalau dirasakan sudah tidak sanggup, kami meminta Gus Dur mengundurkan diri," kata Taufik Riyadi, Ketua BEM-UI. "Kami solid, aksi ke jalan pada Senin depan cuma awal dari serangkaian agenda besar untuk menuntut Gus Dur turun," kata Alvian. Ia juga menyatakan, pihaknya akan mempergunakan sensitifnya isu halal-haram Ajinomoto sebagai pintu masuk bagi gerakan mereka selanjutnya, yakni mendukung Panitia Khusus Buloggate yang berencana memanggil Presiden pada 17 Januari. Kebetulan, Senin ini DPR kembali bersidang setelah selesai reses. Pada rangkaian sidang ini akan digelar sidang paripurna untuk membahas usulan pernyataan pendapat/memorandum?bisa menjadi pintu pembuka ke arah Sidang Istimewa MPR?yang telah diteken 151 anggota dewan. "Kami akan terus melakukan aksi sampai diputuskan Sidang Istimewa MPR untuk menurunkan Gus Dur," kata Ketua Umum Hammas, Moh. Fajar.

Tapi begitulah, sama seperti pendukung Presiden, sejauh ini mereka pun (syukur) baru melancarkan perang urat syaraf. Keputusan akhir baru akan diambil pada rapat Ahad kemarin (yang tak bisa lagi diliput TEMPO), meski massa pendukung telah disiagakan. GPI Jakarta sampai-sampai memberlakukan jam malam segala bagi sekitar 4.000 pasukannya, mulai Jumat malam lalu.

Memang tak terbayangkan akibatnya jika kedua kutub itu bertemu lalu bentrok di jalan-jalan Ibu Kota. Tengok saja sinyalemen yang dilansir Menteri Pertahanan Mahfud M.D. Dari temuan intelijen, katanya, ada dua kelompok yang diketahui bertemu secara intensif di sebuah kota di Jawa Tengah. Tujuannya: mengambil alih pemerintahan dengan cara mengobarkan kerusuhan di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta ketika massa pro dan anti-Presiden berhadap-hadapan. "Kami tahu orangnya, tapi kan tidak bisa asal tangkap," kata Mahfud. Seseram itukah? Menurut Presiden Abdurrahman, sih, tidak. Usai salat Jumat kemarin di Masjid Baiturrahim, Istana Merdeka, Presiden menyerukan supaya masyarakat tenang. "Kalau ada orang yang mau bertindak macam-macam, pasukan yang sangat besar akan menjaga keselamatan kita semua," katanya.

Aparat memang telah disiagakan. Rapat koordinasi politik, sosial, dan keamanan, Rabu pekan lalu, memutuskan mensterilkan sejumlah wilayah strategis seperti Istana Negara, Gedung MPR/DPR, bundaran Hotel Indonesia, dan berbagai sarana vital serta pusat-pusat ekonomi lainnya. Untuk keperluan ini, 9.700 personel aparat gabungan polisi dan TNI?bisa segera ditambah menjadi 40 ribu orang jika rusuh terjadi?dikerahkan di bawah koordinasi sebuah tim khusus yang dipimpin Kepala Kepolisian RI, Jenderal Suroyo Bimantoro, dan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara, Letjen Arie J. Kumaat. Panglima Daerah Militer Jakarta Raya, Mayjen Slamet Kirbiantoro, pun telah menunjukkan kekuatan personelnya. Berpuncak pada peringatan hari ulang tahun Kodam Jaya, Kamis kemarin, sepuluh batalion pasukan (dua pertiga kekuatan Kodam Jaya) plus panser dan meriam digelar di Kemayoran. Di pundak mereka bergantung sebuah beban berat: mencegah "Malari jilid dua" meletup. Dan kalaupun akhirnya Jakarta aman-aman saja, seperti dambaan jutaan orang, anggap saja ini latihan bersama bagaimana menghadapi sebuah gertak.

Karaniya Dharmasaputra, Adi Prasetya, Rian Suryalibrata (Jakarta), Adi Sutarwijono (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
Jawa Barat Tingkatkan Citra Sekolah Kejuruan - 09 Jul 2008 | 06:37 WIB
Impor Daging Selandia Baru Dihentikan - 09 Jul 2008 | 02:16 WIB
PLN: Transportasi Publik Tak Boleh Padam - 09 Jul 2008 | 01:06 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data