|
TAK ada lagi gemerlap dan ingar-bingar panggung musik untuk Deddy Stanzah. Musisi rock ternama Indonesia pada 1970-an ini memasuki tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Pemakaman Umum Cikutra, Bandung, Selasa pekan lalu, setelah delapan bulan berjuang melawan penyakit jantung dan paru-paru basah yang menggerogoti tubuhnya.
Musisi kelahiran Bandung, 1 April 1949, ini aktif bermain musik selepas bangku sekolah menengah atas. Nama Deddy semakin melambung setelah ia ikut mendirikan band The Rollies dan turut melahirkan lagu Hanya Bila Haus di Padang Tandus, Bimbi, Hari-Hari, dan Kemarau, yang pernah menjadi hit di kalangan pencinta musik rock Indonesia.
Bersama Deddy Dores dan Jelly Tobing, Deddy membangun pula band Superkids. Kesibukan Deddy bermain musik pun tidak berkurang meski penyakitnya terus menggerogoti tubuhnya. Bapak dua anak ini, sembari berobat jalan, tetap mengurus peredaran album terakhirnya, Lukisan Setan, yang mulai beredar pada 1993 silam.
* * *
"BIJAKSANA Menggunakan Air." Inilah hasil suntingan artikel terakhir Slamet Soeseno, 73 tahun, sebelum Senin pekan lalu tutup usia. Belum jelas benar apa penyebab kematian penulis yang dikenal sebagai pemimpin redaksi Trubus dan redaktur Intisari ini. Slamet sempat jatuh pingsan ketika menunggu lift di kantor Intisari.
Slamet mulai belajar menyusun tulisan ilmiah secara populer ketika bekerja di Laboratorium Perikanan Darat Bogor pada 1951-1958. Secara otodidak, bapak tiga anak ini mempelajari berbagai artikel di Star Weekly, Wereld (Belanda), dan buku karya Dr. Fritz Kahn untuk mencari gaya penulisan yang tidak membuat kening pembaca bekernyit.
Nyatanya, tulisannya memang enak dikunyah. Tengok saja artikel Slamet seperti Skandal Sex Kaum Belut dan Ikan Mas sebagai Tukang Nonton Langit atau bukunya Dari Kutu Sampai ke Gajah. Slamet pintar dalam memilih kata-kata yang memikat pembaca. Isi tulisannya pun padat. Tak aneh bila majalah Intisari membukukan kumpulan tulisannya dalam seri Fauna Jenaka pada 1995.
|