Teror Negara, Kematian bagi Jiwa Sebuah buku tentang studi teror negara yang terjadi di berbagai belahan bumi ini, termasuk teror tentara Indonesia pada Timor Timur sebelum kemerdekaannya. Mengapa pemerintah tak kunjung belajar bahwa teror negara adalah kematian bagi jiwa masyarakatnya?
|
Death Squad: The Anthropology of State Terror
Penyunting : Jeffrey A. Sluka
Penerbit : University of Pennsylvania Press, 2000
MAX Weber tak terlalu salah ketika mengatakan bahwa negara adalah lembaga yang memiliki keabsahan untuk melakukan paksaan dan kekerasan. Hal ini bisa terjadi dengan taruhan ketertiban sosial politik, penegakan hukum, dan keadilan. Namun, yang tidak terpikirkan pada pemikiran ini adalah bagaimana jika negara menyalahgunakan keabsahannya yang dimiliki untuk memaksakan kehendak dan kepentingannya sendiri. Pada titik ini kita kemudian mengenal istilah kekerasan negara ataupun teror negara.
Teror negara bukanlah sesuatu yang baru. Hitler di Jerman dan Mussolini di Italia dalam Perang Dunia II adalah contoh yang paling nyata dari kekerasan dan teror, tempat negara secara aktif terlibat di dalamnya. Persoalannya kemudian, teror negara terus berjalan, berkembang, dan bahkan semakin canggih kehadirannya di berbagai tempat di dunia meskipun fasisme sudah dikalahkan oleh negara-negara demokrasi. Untuk itu, melacak akar-akar persoalan di balik keberadaan teror negara adalah sesuatu yang harus diangkat karena sejarah telah menunjukkan teror negara melibatkan beribu-ribu korban manusia.
Namun, sebagaimana dicatat oleh Jeffrey A. Sluka, seorang antropolog asal Selandia Baru, kekerasan yang dilakukan oleh negara sering diabaikan oleh kalangan akademis, media massa, dan juga pemerintah. Sebaliknya, banyak tulisan dan penelitian yang mengangkat masalah terorisme yang dilakukan oleh pihak-pihak yang antinegara. Padahal, kualitas dan kuantitas korban dari mesin teror negara begitu mengerikan dan bahkan susah untuk diwakili oleh bahasa atau kata-kata karena kekejamannya. Tidak mengherankan jika Noam Chomsky, pakar linguistik dan aktivis politik asal AS, membedakan antara wholesale terror, yang dijalankan oleh negara, dan retail terror, yang pelakunya adalah individu atau kelompok antinegara. Yang pertama taruhannya adalah status quo, sementara yang belakangan rujukannya adalah perubahan.
Buku yang merupakan kumpulan tulisan ini merupakan kajian kasus etnografi yang menaruh perhatian pada antropologi teror negara dan dampaknya kepada komunitas pada tingkat lokal. Ia menyebutkan berbagai prosedur atau alat yang dipakai oleh negara dalam melakukan aksi terornya, misalnya penculikan, penyiksaan, penghilangan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Organisasi yang terlibat di dalamnya biasanya juga terorganisasi, seperti death squad, paramiliter, dan kamp-kamp konsentrasi atau penyekapan. Yang menarik, para peneliti ini mencoba melihat fenomena teror negara ini dari perspektif korban (victims) dan mereka yang selamat (survivors). Sedangkan studi kasusnya merujuk pada tujuh negara yang memang dikenal sarat dengan kekerasan negara di dalamnya. Sebut saja Spanyol, yang dikenal dengan "Dirty War", tempat paramiliter yang merupakan kelompok pembunuh begitu kejam menghabisi musuh-musuhnya yang dianggap sebagai public enemy, atau Argentina, Guatemala, dan India, yang terkenal dengan mekanisme disappearances untuk menyebarkan rasa demoralisasi di kalangan oposisi pemerintah. Hal yang tak kalah kejamnya merujuk pada kasus Timor Timur sebelum berpisah dari Indonesia. Di sana, terjadi berbagai bentuk tekanan oleh negara seperti teror fisik, pemerkosaan, dan teror labeling terhadap mereka yang dianggap sebagai musuh republik.
Meskipun dengan derajat yang berbeda-beda, kehadiran teror negara di berbagai tempat tersebut begitu dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk ketakutan dan ketidakpastian, tapi wujud dan kiprahnya begitu tertutup dan tidak jelas. Jika harus diterjemahkan, teror negara merujuk pada penggunaan atau ancaman kekerasan oleh negara atau aparat dan pendukungnya yang ditujukan kepada individu atau masyarakat sipil, sebagai suatu cara untuk mengontrol atau mengintimidasi secara politik.
Buku yang merupakan hasil dari penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi internasional yang diadakan American Anthropological Association di San Francisco ini memberikan banyak informasi bagi kita, tapi juga sekaligus menimbulkan rasa ngeri mengingat ribuan dan bahkan jutaan orang sudah menjadi korban teror negara. Dan ironisnya, rasionalisasi di baliknya adalah slogan-slogan hebat seperti persatuan dan kesatuan, pembangunan, serta stabilitas dan keamanan nasional. Korban manusia meskipun satu tetap saja korban, dan ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Nur Iman Subono
|