Yang Nakal karena Otak? Kondisi otak menyebabkan remaja melanggar norma. Tapi kesimpulan yang dianggap langkah mundur itu ditentang beberapa ahli.
|
IBU mana yang tak ingin anaknya tumbuh sehat dan cepat besar? Agaknya, hasrat manusiawi itulah yang membuat seorang ibu memberikan obat hormonal kepada anak. Memang, si anak lantas jadi remaja yang cepat tinggi atau lebih besar fisiknya ketimbang anak-anak sebaya. Tapi, selain hasil yang kasat mata itu, ada pula ongkos mahal yang mesti ditanggung. Ternyata, pemberian obat yang merangsang pertumbuhan hormon di otak justru mengganggu perkembangan otak si anak yang berangkat remaja. Akibatnya?ini yang mungkin kurang disadari si ibu?perilaku sosial sang remaja menyimpang. Dia sering cepat gelisah, pemarah, berang, bahkan melanggar norma yang berlaku.
Dampak negatif yang amat serius itu tergambarkan dari hasil penelitian Fulton Crews, Kepala Pusat Penelitian Saraf Universitas Carolina Utara, Amerika Serikat. Menurut penelitian Fulton, awal tahun ini, penggunaan obat-obatan tadi menyebabkan gangguan pada urat saraf di otak. Rupanya, perubahan hormon kemudian mengakibatan kontradiksi urat saraf. Buntutnya, rangkaian sistem jaringan saraf di otak sebelah kiri mandek. Aktivitas otak sebelah kiri itu lalu ditanggapi oleh otak dalam yang berfungsi mengatur perilaku sosial anak-anak sampai menjelang dewasa. Melalui penelitian itu, Fulton menandaskan bahwa sinyal-sinyal impuls yang dikirim ke saraf otak sebelah kiri terhambat di otak dalam, sehingga terakomodasi dalam bentuk perilaku sosial si anak.
Ternyata, tak lama setelah hasil penelitian Fulton muncul, Linn Ponton, psikolog di Universitas California, mendukungnya. Lewat salah satu edisi jurnal ilmiahnya, Ponton menambahkan bahwa masa remaja merupakan masa kritis bagi perkembangan otak. Sebab, pada masa itulah otak anak yang sedang berkembang ke remaja sedang giat-giatnya merekam dan meniru pelbagai perilaku sosial di sekitarnya, yang kemudian diakses oleh sinyal-sinyal saraf ke otak dalam.
Menurut Ponton, perkembangan itu berlanjut hingga anak menjadi dewasa atau berusia usia 21 tahun?saat pertumbuhan otak diperkirakan maksimal. Ponton juga mengingatkan, pemakaian obat jenis lainnya pun bisa mengganggu kinerja otak. Apalagi, kata Ponton, bila remaja yang sedang tumbuh itu sampai mengonsumsi alkohol atau rokok dalam dosis berlebihan.
Tak cuma Ponton yang mendukung hasil penelitian Fulton. Craig Ferris dari Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts juga membenarkannya. Rupanya, Ferris menemukan kecocokan hasil penelitian itu dengan hasil penelitiannya terhadap tupai. Dari riset Ferris diperoleh hasil, ternyata ada perbedaan sifat antara tupai remaja dan dewasa. Tupai dewasa dengan kemampuan otak yang stabil memperlihatkan sikap jauh lebih tenang. Sedangkan tupai remaja yang disuntik dengan sedikit hormon tampak begitu agresif. "Hal itu membuktikan bahwa semakin stabil pertumbuhan otak, akan semakin mampu pula ia mengendalikan perilaku sosialnya," tutur Craig.
Dengan membesarnya dukungan terhadap hasil penelitian Fulton, seakan-akan semakin kuat teori yang menganggap bahwa perilaku sosial seseorang yang menyimpang ataupun remaja yang amat nakal tak lain disebabkan kondisi otaknya yang terganggu. Tapi, sesederhana itukah korelasinya? Dengan kalimat lain, kenakalan remaja disebabkan hanya oleh faktor tunggal berupa kelainan pada otak yang bermula dari perlakuan hormon?
Seto Mulyadi, psikolog anak dan remaja di Yayasan Nakula Sadewa, mengaku tak setuju dengan kesimpulan penelitian Fulton. Bagi Seto, ia masih berpegang pada pendapat bahwa kenakalan remaja lebih disebabkan oleh hasil interaksi sosialnya. "Psikososial yang ada dan dialami seorang anak atau remaja lebih berpotensi menyebabkan munculnya penyimpangan perilaku sosial. Teori perubahan hormon dan perubahan otak tidak signifikan dengan masalah kenakalan remaja," kata Seto. Itu berarti Seto lebih mempercayai lingkungan sosial serta interaksi antara anak dan dinamika masyarakat di sekitarnya yang dominan mempengaruhi perilaku anak.
Pendapat senada juga diutarakan Susanto Wibisono dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Memang, Susanto mengakui bahwa kerja otak sebagai pengontrol sikap dan perilaku seorang anak serta remaja punya peranan penting. Tapi, "Otak bukan satu-satunya faktor penentu munculnya kenakalan remaja. Penyebabnya sangat kompleks, tak bisa hanya dari sisi spesifik soal kerja saraf otak. Kondisi sosial dan faktor lain juga menyebabkan kenakalan remaja," kata dokter yang juga memahami soal saraf itu.
Hadriani Pudjiarti
|