Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXIX/29 Januari - 04 Februari 2001
   
Olahraga

Ratu Padang Pasir yang Rendah Hati

Jutta Kleinschmidt adalah wanita pereli pertama yang menjuarai Paris-Dakar. Ia memulai karirnya sebagai pembalap motor

GURUN Sahara terasa berbeda aromanya akhir Januari lalu. Padang pasir yang membentang sepanjang wilayah Afrika Utara ini jadi saksi sejarah baru. Pembalap Jutta Kleinschmidt dari Jerman mencatatkan dirinya sebagai wanita pertama yang berhasil menjuarai reli Paris-Dakar, lomba reli paling bergengsi di dunia. Jutta meraih kehormatan itu bersama navigator Andreas Schulz di atas mobil Mitsubishi Pajero.

Bagi kalangan awam, kemenangan Jutta cukup mengejutkan. Betapa tidak, reli berjarak total sekitar 10.739 kilometer ini terkenal akan keganasannya. Tak sedikit peserta yang terpaksa memupus impiannya karena tak mampu meneruskan lomba yang terbagi dalam 20 babak ini. Bukan itu saja. Sejak pertama kali tergelar pada 1979, belasan pembalap sudah terampas nyawanya. Bahkan, tak kurang dari sang penggagas, Thierry Sabine, juga tewas dalam satu kecelakaan helikopter pada 1986, saat mengawasi lomba. Tak mengherankan bila kini nama Jutta jadi ?kosakata? baru dalam entri bintang olahraga.

Jutta sendiri tak menutupi kegembiraannya. Soalnya, pembalap yang lahir di Koeln, 25 Agustus 1962, itu selama ini seperti dalam bayang-bayang pembalap pria lainnya. Nasib ini sejatinya memang tidak cuma dialami Jutta, tapi juga semua wanita pembalap. Sindiran umumnya menyuarakan, apa sih pentingnya wanita berlaga di ajang seberat Paris-Dakar. ?Ajang ini memang berat untuk wanita, tapi juga berat untuk pria. Kondisi yang sama ini diterima semua orang,? kata Jutta.

Harus diakui, kemenangan Jutta ini sedikit-banyak terwujud karena kesialan para rivalnya. Sampai etape ke-18, pucuk klasemen masih dipegang Jean-Louis Schlesser, pembalap elite dari Prancis. Namun, Schlesser melakukan ketololan dengan berbuat curang (start lebih awal) pada etape ke-19, sehingga ia harus dikenai hukuman penambahan waktu satu jam. Akibatnya, defisit waktu Jutta, yang semula 35 menit, justru berbalik jadi keunggulan 25 menit. Pada etape ke-20 atau yang terakhir, yang berjarak 25 kilometer, lajang yang kini tinggal di Monako ini tinggal main aman. Saingan terdekatnya, rekan satu timnya Hiroshi Masuoka dari Jepang, akhirnya tetap tertinggal tiga menit.

Sebetulnya, wanita yang juga sarjana teknik ini bukan muka baru di dunia balap. Prestasinya pun tak bisa diremehkan. Empat tahun lalu ia sudah tercatat sebagai wanita pereli pertama yang memenangi satu stage di wilayah Afrika dalam lomba yang sama. Dua tahun lalu, ia juga sudah naik ke podium akhir dengan status urutan ke-3. Namun, lagi-lagi, perannya tak pernah dianggap sepenting rekan satu timnya seperti Masuoka atau Jean-Pierre Fontenay dari Prancis.

Dengan prestasi barunya ini, Jutta, yang dijuluki ?Cahaya Matahari? oleh rekan sesama pembalap karena selalu murah senyum ini, jadi wanita kedua yang mencatat sejarah monumental. Sebelumnya, Michele Mouton asal Prancis tercatat pertama kalinya sebagai wanita yang menjuarai reli San Remo pada 1981.

Lomba Paris-Dakar tahun ini merupakan kali ke-11 bagi Jutta. Uniknya, tidak setiap tahun ia ikut dalam kelas mobil. Awal karirnya justru pada kelas motor. Ia mulai berlomba reli pada tahun 1987, dalam ajang reli Pharaohs di Mesir. Namun, gelar pertamanya baru mampir pada 1992, saat ia menjuarai kelas motor dalam reli Paris-Cape Town, yang berjarak 12.700 kilometer. Hanya, gelar Jutta, yang saat itu mengendarai motor BMW R100GS, khusus untuk kelas wanita.

Jutta baru beralih ke mobil pada 1994. Saat itu ia mengawalinya sebagai co-driver alias navigator bagi Schlesser. Namun, dasar bakatnya besar, pada tahun itu juga ia sudah berhak duduk di belakang kemudi. Berpasangan dengan Tina Thoner, mereka jadi tim wanita pertama yang berhasil malang melintang di pelbagai ajang dunia. Dalam ajang elite UAE Desert Challenge, misalnya, mereka mencatat prestasi yang bagus: peringkat ke?4 (1998), ke-3 (1999), dan ke-6 (2000). Tak mengherankan jika ia akhirnya beroleh julukan Ratu Padang Pasir.

Eloknya, kemenangan besar di awal tahun ini tidak membuat Jutta besar kepala. ?Kami bisa berhasil karena tak membuat kesalahan. Tanpa navigasi dari Andi yang begitu bagus, tak akan ada kemenangan ini,? kata Jutta, yang masih mengingat hari-harinya selaku orang kedua.

Dalam klasemen sementara dunia, sampai saat ini nama Jutta memang belum tercatat dalam lima besar. Namun, bila keteguhan dan pembawaan rendah hatinya bertahan, bukan tak mungkin Jutta kelak akan tercatat sebagai salah satu legenda reli dunia.

Yusi Avianto Pareanom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data