Mendukung Presiden, Membakar Golkar Demonstrasi mendukung Presiden di berbagai berubah menjadi anarki. |
Ribuan manusia berkumpul di depan dan belakang bangunan berlantai dua mirip joglo milik Partai Golkar, Surabaya, siang itu. Sambil meneriakkan yel-yel "bubarkan Golkar", sebagian orang tampak beringas dan ingin masuk. Ratusan aparat, gabungan polisi dan tentara, mencoba menghadang laju warga dari berbagai kota di Jawa Timur itu. Sekelompok anak muda bersenjata celurit malah menantang. "Ayo tembak saya, tembak," kata mereka.
Aparat keamanan tidak menanggapi. Melihat ada peluang, beberapa pemuda langsung memberi komando, "Ayo, maju terus, jangan mundur." Abdul Mujib Manan, Sekretaris Presiden Abdurrahman Wahid yang berada di tempat itu, mencoba menghalau. Ia berdiri di depan para demonstran. "Saya pembantu dekat Gus Dur, saya minta Saudara tenang dan mundur," teriaknya menggunakan pengeras suara. Beberapa anggota Banser NU mencoba ikut membantu. Imbauan itu ditanggapi acungan senjata oleh sekelompok warga.
Massa akhirnya berhasil masuk gedung. Sebagian langsung menebang pohon beringin yang berdiri di halaman. "Ambil bensin cepat," terdengar teriakan dari seorang pria. Sejurus kemudian terlihat asap mengepul dari dalam bangunan. Beberapa anak muda tampak keluar dari gedung sambil membawa barang elektronik seperti komputer dan televisi. Aparat keamanan tak berkutik, hanya bisa menyaksikan aksi penjarahan itu.
Kobaran api membesar dengan cepat. Gegap-gempita suara "hidup Gus Dur, hidup Gus Dur" dari massa terdengar seperti nyanyian pengiring "ritual" penghancuran itu. Tidak lebih dari tiga jam, bangunan milik Partai Golkar di wilayah Jawa Timur itu menjadi puing. Hari itu, Surabaya seolah menjadi milik pendukung Presiden Abdurrahman Wahid.
Hampir bersamaan, aksi perusakan dan pembakaran kantor Golkar juga terjadi di kota lain Jawa Timur. Kemarahan massa terhadap partai berlambang pohon beringin itu terjadi di Situbondo, Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Sampang, dan tempat lain. Pendek kata, hampir tidak ada kantor Golkar di Jawa Timur yang selamat dari amuk massa.
Selama empat hari berturut-turut, pekan lalu, gelombang massa pendukung Presiden Abdurrahman turun ke jalan. Mereka menuntut tiga hal, memorandum DPR dicabut, Partai Golkar dibubarkan, dan duet Wahid-Megawati dipertahankan sampai 2004.
Di beberapa kota kemarahan itu tidak hanya dilampiaskan kepada kantor Golkar, tetapi juga merusak kantor partai lain seperti Partai Amanat Nasional di Sidoarjo. Beberapa sekolah dan panti asuhan milik Muhammadiyah?organisasi Islam tempat Amien Rais berasal?juga ikut dirusak dengan cara dilempari batu. Sebelumnya, puluhan pohon yang tumbuh di pinggir jalan antara Situbondo dan Banyuwangi juga ditebangi. Praktis, jalur lalu lintas yang menghubungkan kedua kota itu beberapa saat lumpuh total.
Tidak sekadar itu. Para wartawan juga jadi sasaran kekerasan para pendemo, di antaranya menimpa wartawan TEMPO dan Radar Surabaya. Saat menjalankan tugas memotret aksi massa di Gedung DPRD di Surabaya, keduanya dipukul dan ditendang oleh segerombol pemuda. Menurut catatan Aliansi Jurnalis Independen, wartawan peliput juga jadi sasaran pemerasan pendemo. Dompet mereka dirampas.
Aksi brutal itu memicu protes dari berbagai pihak. Salah satunya dari Akbar Tandjung. Ketua Umum Golkar itu bahkan menyebut teror massa itu menjurus seperti cara-cara PKI pada 1960-an. "Itu licik dan kotor," katanya. Jajaran petinggi Golkar, Jumat pekan lalu, melaporkan insiden tersebut kepada polisi.
Siapa penggerak aksi brutal itu? Sumber TEMPO, aparat intelijen militer, melihat Ketua Partai Kebangkitan Bangsa wilayah Jawa Timur, Choirul Anam, berada di tengah massa saat demo berlangsung di Surabaya. Meski tidak tegas menuduh, "Saya melihat Anam melambaikan tangan dari arah massa ke gedung Golkar," katanya. Tudingan itu dibantah Anam. "Saya justru berusaha mencegah agar massa tidak anarkis, kok, dikatakan memberi komando. Bagaimana, sih?" katanya.
Bantahan senada dilontarkan Ketua PBNU, Hasyim Muzadi, seorang pendukung Presiden Abdurrahman yang setia. "Kami justru melarang adanya anarki," ujarnya. Bisa jadi, kata Hasyim, ada penyusup yang sengaja dimasukkan oleh kelompok tertentu untuk melakukan perusakan dan pembakaran.
Dari pengamatan TEMPO, aksi Rabu pekan lalu memang bukan monopoli warga NU. Selain masyarakat umum, beberapa kelompok organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga ikut demonstrasi. Selain itu, puluhan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) juga terlihat turun ke jalan di Surabaya.
Turunnya aktivis PRD itu kemudian memunculkan tuduhan. "Ada kesan, berdasarkan pengamatan internal partai kami, unsur PRD terlibat dalam aksi pembakaran kantor partai kami," kata Akbar Tandjung, petinggi Golkar. Sinyalemen itu juga diungkap Menteri Pertahanan Mahfud M.D. Menurut Akbar, PRD-lah?partai kecil yang tidak memperoleh satu pun kursi di parlemen?yang selama ini gencar menyuarakan agar Partai Beringin dibubarkan. Tudingan itu dibantah Ketua Umum PRD, Budiman Sudjatmiko. "Itu fitnah, kami akan melaporkan petinggi Golkar ke polisi," katanya.
Kenapa Golkar menjadi sasaran? Memorandum untuk Presiden Abdurrahman didukung oleh hampir semua partai, dengan perbandingan telak 394 lawan 4. PDI Perjuangan, partai terbesar di parlemen, memberikan semua suaranya pada memorandum. Meski Golkar, PDI-P, serta PPP adalah partai yang sudah ada sejak zaman Orde Baru, Golkar mafhum benar bakal menjadi bulan-bulanan yang paling lemah. Itu sebabnya, mereka memutuskan sikapnya atas memorandum setelah PDI-P mengambil suara bulat.
"Saya sendiri juga heran, mengapa Golkar yang jadi sasaran," kata Hasyim Muzadi. Memang mengherankan. Di masa lalu, Abdurrahman Wahid pernah menjadi anggota MPR yang ditunjuk oleh Golkar. Orang juga belum lupa benar bagaimana hubungan dekat Abdurrahman dengan Siti Hardijanti Rukmana?tokoh Golkar dan putri Soeharto?menjelang Pemilihan Umum 1997.
Namun, Choirul Anam, pendukung lain Presiden Abdurrahman, tidak heran. Menurut Anam, politisi Golkarlah, terutama Akbar Tandjung, yang menjadi simpul dari skenario DPR selama ini. "Amien Rais dan politisi PDI-P lain hanya sebagai ujung tombak," ujarnya. Sumber lain, salah satu pengurus Ansor Jawa Timur, bahkan yakin bahwa Akbar Tandjung adalah kekuatan yang punya potensi menjatuhkan Abdurrahman Wahid.
Mudjib Imron, Ketua Pengurus Cabang NU Pasuruan, mencoba menjelaskan suasana hati pendukung Presiden. "Massa bawah membaca goyangan terhadap Gus Dur sebagai pekerjaan kekuatan Orde Baru yang tidak lain adalah Golkar," katanya. Demikian pula Hasyim Muzadi. "Analisis saya, rakyat melihat rongrongan terhadap pemerintah itu pekerjaan dari kekuatan masa lalu," ujarnya.
Beruntung bahwa aksi brutal itu hanya berlangsung di Jawa Timur?basis terkuat Partai Kebangkitan Bangsa, partainya Presiden Abdurrahman Wahid yang kuat berafiliasi dengan NU.
Aksi massa itu marak setelah baik PKB maupun NU gagal melakukan lobi di parlemen. Pertemuan sejumlah ulama NU dengan petinggi DPR beberapa waktu yang lalu, misalnya, adalah upaya mencari kompromi politik agar Presiden tetap bertahan sampai 2004. Namun, usaha itu tidak mampu mengubah keinginan wakil rakyat mengeluarkan memorandum. Dan, isu pembubaran Golkar adalah pelengkap untuk menambah daya penekan. "Satu-satunya cara menghadapi aksi penggoyangan (terhadap Presiden), ya, aksi massa itu," kata salah satu pengurus NU.
Kini, gelombang demonstrasi di Jawa Timur memang reda. Kondisi itu tercipta setelah Presiden berkunjung ke Pasuruan, Jumat pekan lalu. Dalam dialog dengan warga nahdliyin di Masjid Al-Anwar, Presiden minta agar pendukungnya tenang dan menyerahkan persoalan DPR padanya. Namun, dia juga mengungkapkan kata bersayap lain: "DPP Golkar bisa memperbaiki diri dan mengubah kelakuannya."
Di bawah, pernyataan berbau ancaman belum reda benar. "Jika elite politik di Jakarta masih saja celometan memojokkan Gus Dur, jangan harap kami berdiam diri," kata Ali Hanafiah, mahasiswa yang juga warga NU. Kalangan muda NU, terutama Banser Jawa Timur, kini telah bersiaga untuk datang ke Jakarta. "Tinggal tunggu komando," kata Muslim Mustajab, salah satu komandan Banser Jawa Timur.
Di Jember, pendaftaran Banser yang ingin ke Jakarta membludak. Padahal, untuk bisa ikut ke Ibu Kota mereka dikenai pungutan Rp 100 ribu. Kalangan politisi PKB di Jawa Timur bahkan siap menyuplai dana untuk transportasi dan logistik. "Teman-teman memang telah sepakat demikian," ujar Choirul Anam yang juga Ketua PKB Jawa Timur.
Menurut informasi yang didapat TEMPO, setiap anggota DPRD PKB di Jawa Timur harus menanggung pemberangkatan dua bus. Persiapan itu kini semakin meningkat sejalan dengan batas waktu pencabutan memorandum DPR pada pertengahan Februari mendatang. PBNU sendiri merencanakan menggelar istigotsah di Jakarta pada 18 Februari mendatang. "Saya masih menunggu izin dari K.H. Sahal Mahfudz dan K.H. Abdullah Faqih," kata Hasyim Muzadi.
Adakah istigotsah dipakai sebagai sarana unjuk kekuatan? "Acara itu berkaitan dengan hari lahir NU dan bertujuan mendoakan keselamatan bangsa dan negara ini," kata Hasyim Muzadi.
Itulah doa yang akan disetujui oleh siapa pun?dari semua partai, ormas, serta agama?di negeri ini. Mudah-mudahan, doa tanpa kekerasan.
Johan Budi S.P., Jalil Hakim, Adi Sutarwijono (Surabaya)
|