|
SAYA ingin mengoreksi sekaligus menambah informasi berkaitan dengan tulisan di Majalah TEMPO, Edisi 7-13 Mei 2001, pada halaman 132-133, rubrik Ekonomi & Bisnis, berjudul "Garuda Sakit, Star Air Datang".
Meskipun menurut keterangan TEMPO kalimat tersebut cuplikan dari komentar Bapak Bachrul Hakim, Direktur Niaga Garuda Indonesia, saya kira kurang fair bila dijadikan headline. Beberapa alasan dan informasi tambahan dapat saya sampaikan sebagai berikut.
- Cuplikan komentar Pak Bachrul sendiri (kalau memang benar demikian), "Garuda dan Merpati kan sedang sakit", jadi kenapa "hanya" Garuda yang dijadikan si sakit?
- Gambaran sakit tersebut bisa bermacam-macam maknanya. Pertama, bisa sakit besar; kedua, sedang sakit; atau ketiga, masih sakit tetapi sudah dalam proses penyembuhan (lebih sehat dari proses sebelumnya).
- Khusus untuk Garuda, saya mengetahui benar termasuk kategori ketiga. Di TEMPO sendiri dalam edisi sebelumnya manajemen Garuda menempatkan satu suplemen khusus menunjuk kinerja operasi dan kinerja keuangan Garuda, yang semakin baik semenjak tahun 1999, dengan laba Rp 400 miliar lebih. Mestinya judul yang fair adalah "Garuda Lebih Sehat, ?".
Saya perlu menyampaikan tanggapan ini karena Garuda Indonesia adalah aset bangsa kita, yang bagaimanapun harus kita dukung untuk menjadi lebih baik, sebagaimana tekad manajemen Garuda. Atau apakah bangsa kita hanya punya selera "mencela", kurang "menghargai".
T.S. REZA, S.E., M.M.
Jalan Pangkalan Asem Raya 55, Cempakaputih
Jakarta
|