Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXX/28 Mei - 03 Juni 2001
   
Opini

Aksi Massa dan Mobokrasi

Berbagai tindak kekerasan oleh massa ternyata lolos dari tindakan aparat hukum. Ini sebuah bahaya untuk demokrasi.

AKSI massa belakangan ini makin brutal. Februari silam, Kantor Golkar di Surabaya dibakar. Pekan lalu, di Situbondo dan Bondowoso, sembilan rumah pengurus Partai Amanat Nasional dan Muhammadiyah dirusak dan disulut api. Kamis siang, rombongan yang menamai diri Laskar Diponegoro membakar rumah Ketua PAN di Tegal?yang baru dilantik pagi harinya?dan menghajar enam wartawan yang meliput kejadian itu. Sabtu dini hari lalu, rumah Ketua PAN di Sidoarjo dilempari mercon ukuran besar, kaca rumah hancur berantakan. Teror telepon bukan lagi barang baru bagi aktivis PAN ataupun Muhammadiyah di banyak kota di Jawa.

Sumber kejadian yang melibatkan PAN ataupun Muhammadiyah ini mudah dimengerti: pendukung Presiden Abdurrahman Wahid marah kepada Ketua Umum PAN dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah Amien Rais. Sebagai Ketua MPR, Amien dinilai banyak andilnya dalam gerakan menggiring Presiden Abdurrahman ke "pengadilan politik", yakni Sidang Istimewa MPR. Padahal, dulu Amien juga yang membujuk kiai-kiai NU agar merelakan Gus Dur menjadi presiden.

Amien dan Gus Dur jelas hanya "berperang pernyataan" di Jakarta. Tapi apakah keduanya lupa bahwa para pendukungnya di tingkat akar-rumput?yang tidak terbiasa dengan "bahasa diplomasi"?lantas menerjemahkan setiap perbedaan sebagai ketidaksukaan, kebencian, yang harus dihadapi secara fisik? Dan harus diakui, dari Istana dan Gedung MPR, keduanya terkadang lupa bahwa membangun demokrasi sekali-kali tak boleh dilakukan dengan aksi "gertak" dan unjuk kekuatan massa. Ketika Gus Dur bilang "berusaha keras mencegah warganya datang ke Jakarta" atau "enam wilayah akan merdeka jika dia turun", dia sesungguhnya sedang bermain-main dengan "gertak" dan "kekuatan massa". Ketika Amien datang menghampiri demonstran di Istana, dia lupa bahwa itu bisa diartikan bahwa ia setuju gerakan massa itu?sekaligus seakan meremehkan Dewan Perwakilan Rakyat untuk menyelesaikan persoalan.

Jika tekanan massa yang bisa mengegolkan keinginan suatu kelompok, yang akan menang jelas yang punya otot, massa, senjata, celurit, dan parang. Penguasa adalah mereka yang sanggup melindas kelompok lain secara fisik atau dengan kekuatan senjata. Mungkin itulah yang dinamai mobokrasi?pemerintahan ala rimba raya, yang kuat yang bertakhta.

Kalau hukum tak ditegakkan sekuatnya, mungkin kita pelan-pelan menuju ke mobokrasi itu. Dalam kasus pembakaran Kantor Golkar Surabaya, umpamanya, polisi bilang 36 orang sudah diperiksa dan 11 ditahan sebentar, tapi belum satu pun yang jadi tersangka. Di Tegal, dalam kasus pembakaran rumah Ketua PAN, sudah 23 saksi dimintai keterangan, tapi tak seorang pun ditangkap. Polisi sangat terkesan "ragu" berhadapan dengan kekuatan massa begini. Apalagi jika atribut agama dikibar-kibarkan di sana.

Seharusnya partai atau organisasi yang anggotanya bertindak kelewatan itulah yang membantu polisi menertibkan anggotanya. Dan para pemimpinnya di Jakarta pun wajib menekankan ketaatan pada hukum untuk pendukungnya, bahkan kalau perlu menindak anggotanya yang membakar gedung, merusak kantor, atau menganiaya wartawan.

Hanya dengan cara itu kita menghindari mobokrasi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data