Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXX/18 - 24 Juni 2001
   
Nasional

Ketika Pak Mayor Ikut Berdemo

Seorang tentara ditangkap saat demo buruh. Semula dia dituduh sebagai provokator.

BENARKAH gerakan buruh yang panas belakangan ini "disusupi" militer? Sulit mencari jawabnya. Seorang mayor Angkatan Darat tertangkap di Surabaya, Jumat pekan lalu, tapi masih perlu bukti lebih lengkap untuk menyebutnya menggerakkan demo.

Mayor Sutomo, anggota militer yang ditangkap itu, siang itu mengaku terpaksa ikut mengawal buruh pabrik PT Jangkar Nusantara, tempatnya bekerja. Soalnya, Jumat siang itu pabriknya kedatangan ratusan buruh berbagai pabrik di kawasan Sepanjang Sidoarjo, Karangpilang Surabaya, dan Driyorejo Gresik. Mereka memaksa buruh PT Jangkar ikut berdemo menuntut pembatalan Kepmenaker 78/2001. Ketimbang ribut dengan buruh lain, akhirnya 24 orang buruh pabrik PT Jangkar diperintahkan mengikuti kemauan massa buruh dari luar.

Rupanya, demonstran "amatir" dari Jangkar ini tidak siap. Mereka minta diantar naik truk menuju pusat Kota Surabaya. Permintaan itu dipenuhi pihak pabrik. Tak berapa lama, truk pun datang. Dan Sutomo ikut serta "mengawal" buruh pabriknya. Ia seorang perwira TNI aktif, berpangkat mayor, anggota Detasemen Markas Kodam IX Udayana.

Malang buat Sutomo. Tak lama kemudian, rombongan itu dicegat barikade aparat gabungan dari Polsekta Karangpilang, Polresta Surabaya Selatan, marinir, dan pasukan TNI-AD dari Kodam V Brawijaya. Mereka bermaksud mencegah gerakan massa buruh agar tidak melaju ke jantung Kota Surabaya. Saat itu pula pecah bentrok.

Tembakan peringatan pun sempat diletuskan aparat ke udara. Massa semburat berlarian. Di tengah keributan itulah aparat menghampiri rombongan karyawan PT Jangkar yang dikawal Mayor Sutomo. Saat ditanya aparat, Sutomo, yang ada di depan kendaraan truk, mengaku sebagai pekerja PT Jangkar. Namun, tak semua karyawan PT Jangkar mengaku mengenal Sutomo. Merasa terpojok, Sutomo terpaksa mengakui jatidirinya sebagai perwira TNI aktif.

Polisi curiga. Mengapa Sutomo, perwira dari Kodam Udayana di Bali sana, ikut-ikutan berdemo di Surabaya? Kecurigaan ini yang kemudian membuat mereka menuduh si perwira ini sebagai salah satu provokator unjuk rasa itu. Keterlibatan oknum TNI memang sempat mencuat seperti yang dituduhkan Presiden Abdurrahman Wahid dalam kerusuhan Pasuruan, Jawa Timur, 30 Mei lalu.

Belum tentu benar, tapi hadirnya sosok Sutomo di tengah-tengah massa buruh itu rasanya belum jelas benar. Mengapa ia tak langsung menunjukkan kartu tanda anggota TNI ketika dijaring polisi? Mengapa pula dia tidak langsung mengaku sebagai tentara yang dikaryakan oleh kesatuannya?

Di Polresta Surabaya Selatan, Sutomo mengaku tak terlibat unjuk rasa. Ia bersikukuh bahwa ia ingin mengelabui buruh dari pabrik lain. Caranya, pura-pura mengikuti kemauan buruh lain, dan di tengah perjalanan, rombongan buruh PT Jangkar akan "dibelokkan" ke kantor perwakilan pabrik di kawasan Jalan Benteng, Tanjungperak, Surabaya.

Sutomo, yang bekerja sebagai petugas keamanan pabrik, tampaknya hilang kontak dengan rekan sejawatnya di Surabaya. Meski statusnya perwira aktif, Sutomo merupakan salah satu perwira yang ditempatkan di Jangkar sebagai perwakilan Kodam Udayana. Itu sebabnya ia "putus hubungan" koordinasi dengan rekan-rekan sejawatnya yang juga terlibat dalam pasukan keamanan yang ikut mengamankan aksi unjuk rasa itu.

Polisi tampaknya puas dengan jawaban itu. Setelah diperiksa penyidik Polwiltabes hingga larut malam, ia kemudian dilimpahkan ke Detasemen Polisi Militer Kodam V Brawijaya. Namun, Sutomo tak lama berada di sana. Menurut Kepala Perwakilan Kodam IX Udayana di Surabaya, Lettu Suci Waluyo, Sutomo memang sempat dibawa ke instansi itu lalu dicatat identitasnya, tapi setelah itu ia dipulangkan kembali. Sayang, ia tidak bisa dimintai konfirmasi.

Pihak penyidik Polwiltabes sendiri tidak menemukan indikasi terjadinya tindak pidana berat atas keterlibatan Sutomo. "Tak ada poster atau spanduk yang ditemui aparat kami dalam rombongan Pak Tomo itu," ujar Jumatno. Meski begitu, Polwiltabes menjaring dengan tuduhan tindak pidana ringan, yakni mengganggu ketertiban umum, kemudian melimpahkannya ke Pengadilan Negeri Surabaya untuk disidangkan.

Siapakah sebenarnya Mayor Sutomo ini? Menurut Komandan Detasemen Markas IX Udayana, Letkol Hartono, Sutomo memang benar perwira yang dikaryakan di PT Jangkar, Surabaya. Penugasan itu langsung diberikan oleh Panglima Udayana waktu itu, Letjen Kiki Syahnakri (kini Wakasad), sekitar dua tahun silam. PT Jangkar sendiri memang punya kerja sama dengan TNI.

Penempatan Sutomo dilakukan karena perusahaan itu membutuhkan kepala keamanan, dan Sutomo yang dipilih. Pertimbangannya, ia sudah memasuki masa persiapan pensiun. Mungkin "mengawal" buruh berdemo adalah penugasan terakhirnya.

Irfan Budiman, Johan Budi S.P., Adi Sutarwijono (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data