Merpati Airlines Diskriminatif |
KAMI mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan saat akan menggunakan penerbangan Merpati Airlines MZ 6555 jalur Waingapu (Sumba)-Denpasar (Bali), Sabtu 30 Juni 2001, pukul 15.10 WITA. Ketika tiba di Waingapu, Selasa 26 Juni 2001, kami segera menghubungi agen Merpati Waingapu untuk konfirmasi ke-berangkatan. Staf Merpati di sana mengatakan nama kami belum terdaftar. Padahal, dalam tiket yang kami beli dari Jakarta, status tiket kami sudah OK. Namun, kami tetap harus masuk daftar tunggu karena yang diprioritaskan adalah penumpang yang membeli tiket di Waingapu.
Kami segera menghubungi biro perjalanan di Jakarta, dan setelah mereka mengecek ke Merpati Jakarta, ternyata tidak ada masalah dengan status OK pada tiket kami. Sabtu pagi, beberapa jam sebelum keberangkatan, kami kembali mengecek ke Merpati Waingapu, dan dikatakan tidak ada masalah.
Namun, di bandara, muncul persoalan. Beberapa menit sebelum pesawat berangkat, salah seorang dari kami (Eric Sasono) dipanggil dan diberi tahu bahwa namanya dicoret dari daftar penumpang. Ketika kami meminta penjelasan, petugas Merpati bernama Primus Napa menjawab dengan gaya yang menyepelekan kami bahwa ada dua penumpang berkulit putih yang harus berangkat sehingga mesti ada penumpang lain yang dikorbankan. Dari daftar penumpang, tertera jelas bahwa kedua penumpang kulit putih itu berada di urutan yang lebih bawah dari nama kami. Ketika kami tanyakan mengapa kami yang harus dikorbankan, dengan kasar dia menjawab, ”Dua orang bule itu dari LSM, dan mereka harus didahulukan.”
Kami sangat tersinggung dengan jawaban yang sangat diskriminatif dan rasialis ini. Saat itulah kami jelaskan bahwa kami bekerja di UNESCO, salah satu lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan berada di Waingapu untuk sebuah tugas resmi. Kami perlihatkan kartu identitas PBB dan kartu pers kepada Saudara Primus, tetapi dia tidak peduli. Bahkan dia mempersilakan kami melakukan tindakan apa pun kalau kami merasa tak puas dengan perlakuan mereka.
Ketika kami tetap berkeras masuk pesawat, pimpinan agen Merpati Waingapu, Willy B. Elim, mengatakan bahwa pesawat sudah sangat kelebihan berat. Selain itu, jumlah penumpang yang naik dari Kupang juga tidak sesuai dengan apa yang dilaporkan oleh perwakilan Merpati Kupang, semula 10 orang, bertambah menjadi 15. Malah kemudian bukan hanya Eric Sasono yang dicoret dari daftar penumpang, melainkan kami berdua plus tiga orang lainnya (dua orang Indonesia dan seorang turis Jepang). Barang-barang kami yang sudah dimuat ke kargo pesawat juga diturunkan kembali. Kami merasa heran dengan keputusan ini karena ada tiga pemuda turis berkulit putih di antara para penumpang yang membawa papan selancar dengan berat yang sangat berlebih (total sekitar 150 kilogram) sehingga ketiga turis ini diminta membayar biaya kelebihan berat sebesar Rp 200 ribu.
Apakah memang tidak ada koordinasi sama sekali di Merpati? Meski akhirnya kami berangkat dalam penerbangan berikutnya, Rabu 4 Juli, kami merasa sangat dirugikan dengan kejadian ini karena harus memperpanjang masa tinggal di Waingapu dan tertunda untuk menangani sejumlah kegiatan yang sudah menunggu di Jakarta. Mohon penjelasan rinci dari Merpati. Jika tidak, kami akan mempertimbangkan untuk menempuh langkah hukum.
ARYA GUNAWAN dan ERIC SASONO
Staf UNESCO Jakarta
Gedung PBBJalan M.H Thamrin 14, Jakarta
|