Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXX/06 - 12 Agustus 2001
   
Opini

Kabinet Penting, Korban Bencana Lebih Genting

Bencana di mana-mana, perhatian pemerintah begitu minim.

SAMPAI akhir pekan lalu, sudah 50 mayat korban banjir dan longsor di Pulau Nias ditemukan, sementara 200 orang lagi dinyatakan hilang. Di Padang, 20 ribu rumah terendam air bah. Di Kalimantan Tengah, sekian ribu penduduk pedalaman terancam mati kelaparan akibat transportasi sungai macet gara-gara airnya surut. Di seluruh Kalimantan, penduduk dibekap asap yang berasal dari hutan yang terbakar. Di Jakarta? Presiden, Wakil Presiden, para petinggi partai, dan para (calon atau bekas) menteri sibuk banget-banget: mempersiapkan kabinet baru, membagi-bagi posisi kementerian.

Tugas membentuk kabinet jelas penting: bukankah salah susun bisa membuat pemerintahan baru "di-Gus-Dur-kan" dan ter-ancam tak bertahan sampai 2004? Tapi semoga yang di pusat tak berpikir: soal bencana tolong bersabar; bukankah nanti Menteri Pekerjaan Umum yang baru, juga Ibu Menteri Sosial yang baru, segera mengurusnya? Atau berpikir begini: tolonglah pemerintah daerah dulu turun tangan; sekarang ini pokoknya kami di pusat harus memberikan prioritas utama kepada jatah kursi, kursi, kursi. Jangan lupa, ini tugas mulia. Kursi menentukan nasib bangsa, lo, bukan terbatas penduduk yang dilanda bencana saja, tapi seluruh tumpah darah Indonesia….

Mana yang lebih penting? Kami tak ingin mewakili ibu-bapak petinggi di Istana untuk menjawabnya. Tapi, sampai hari terakhir pekan lalu, belum sepotong pernyataan pun meluncur soal bencana ini, belum satu tapak sepatu pejabat pusat pun menapaki lokasi bencana. Jam demi jam, hari demi hari berlalu, jumlah korban bertambah seperti deret ukur: kemarin masih 20-an, hari ini sudah 50-an korban Nias ditemukan. Sudah begitu, kabinet juga tak kunjung dibentuk. Kabarnya, Kamis atau Jumat men-datang, kabinet "keruk-nasi" atau kerukunan nasional itu bakal terbentuk. Artinya, empat atau lima kali 24 jam lagi penduduk di lokasi bencana harus sabar menunggu….

Majalah ini mengingatkan, jangan sampai kasus bencana gempa bumi di Bengkulu, Juni 2000 lalu, terulang dalam menangani Nias. Korban gempa itu cukup luar biasa: 87 tewas dan 642 luka berat. Tapi Presiden Abdurrahman Wahid malah meneruskan lawatannya ke luar negeri. Wakil Presiden Megawati akhirnya sempat menjenguk Bengkulu, walau agak terlambat. Kedatangan Presiden dan Wakil Presiden bagi masyarakat sebenarnya sangat penting sebagai ungkapan simpati atas penderitaan yang sangat.

Maka, di tengah kesibukan menyusun kabinet—di Bogor, Presiden sempat menengok bunga bangkai yang tengah mekar—penting benar bencana di berbagai daerah ini secepatnya ditanggulangi. Bila kementerian sosial belum terbentuk, Presiden bisa saja membentuk panitia sementara untuk mengurus bantuan pangan dan obat-obatan atau memperbaiki rumah yang rusak. Panitia sementara itu bisa melekat di Sekretariat Negara agar Presiden bisa langsung mengawasinya.

Perhatian untuk mereka yang menderita tentu akan meng-undang simpati yang luas. Bukankah itu penting untuk seorang presiden yang baru dipilih?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data