Melongok Dapur Politik di Gedung Putih Sebuah serial menarik yang mengisahkan kesibukan sehari-hari Presiden AS beserta para pembantunya di Sayap Barat Gedung Putih. Ada episode lucu tentang kunjungan Presiden Indonesia. |
West Wing, atau Sayap Barat Gedung Putih, memiliki banyak mata dan telinga bagi tingkah laku Presiden AS. Itulah sebabnya, penulis skenario Aaron Sorkin bukan hanya merasa harus berkisah melalui The American President arahan sutradara Rob Reiner. Kali ini, Sorkin menggunakan kepiawaiannya menulis serial televisi West Wing, yang kini mulai disorot di Indonesia.
Syahdan, Presiden AS Josiah Bartlet (di-perankan oleh Martin Sheen; yang justru berperan sebagai Kepala Staf Gedung Putih dalam The American President) adalah sosok politisi yang sempurna. Bekas Gubernur New Hampshire ini terpilih menjadi presiden pada November 1998 dan mulai menjalankan tugasnya sejak Januari 1999—terlahir dari le- luhurnya yang merupakan salah satu penanda tangan Declaration of Independence sebagai utusan dari New Hampshire.
Kehidupan pribadinya pun lurus dan santun. Pernikahannya yang telah berlangsung 32 tahun tetap langgeng. Bartlet adalah penganut Katolik yang taat. Namun, sebagai kader Partai Demokrat, ia toleran terhadap aborsi. Barangkali ini merupakan gambaran kerinduan masyarakat AS terhadap pemimpinnya, yang sempat tercoreng akibat ulah Bill Clinton yang tersengat kasus Monica Lewinsky, tetapi toh tetap memiliki pandangan yang toleran terhadap kebebasan individu.
Namun, dalam serial ini Presiden Bartlet bukanlah tokoh sentral. Sesuai dengan judulnya, serial ini mengambil lokasi di Sayap Barat, di kompleks Gedung Putih, tempat presiden dan para pembantunya sehari-hari bekerja. Seperti juga kisah Presiden Andrew Sheperd (Michael Douglas) dalam film The American President yang dikelilingi beberapa kepercayaannya—yang konon terinspirasi dari orang-orang kepercayaan Presiden Clinton—serial ini pun menampilkan beragam karakter pembantu Presiden di sekelilingnya, para abdinya yang masing-masing memiliki latar belakang yang unik.
Sam Seaborn (Rob Lowe), misalnya. Penulis naskah pidato presiden ini pernah berkencan dengan perempuan panggilan. Sedangkan tangan kanannya, Leo McGarry (John Spencer), memiliki problem kecanduan alkohol. Adapun Leo, saking cintanya pada politik, harus kehilangan istrinya. Hal-hal yang menyentuh sisi kemanusiaan para pejabat tinggi Sayap Barat itulah yang menjadikan serial ini bertengger di papan atas tontonan di AS. Tahun lalu, West Wing merebut sembilan buah Emmy Award.
West Wing tidak saja memaparkan wajah politik kontemporer AS, seperti persoalan aborsi dan hak-hak kaum homoseksual. Melalui serial ini, penonton pun disuguhi cerita di balik sebuah peristiwa. Dalam beberapa episode, Presiden Bartlet kerap digambarkan mengambil kebijakan terhadap isu yang berkembang, misalnya kebijakan hubungan luar negeri dengan Indonesia, seperti yang dikisahkan dalam episode The State Dinner. Meski menarik, ini salah satu episode yang akurasinya agak menggelikan, paling tidak untuk penonton Indonesia. Bayangkan, ada nama Bambang Sumahijo, yang disebut sebagai orang Batak dan hanya bisa berbicara bahasa Batak. Itu terjadi karena Indonesia tidak memiliki bahasa nasional dan mereka berbicara dalam 500 bahasa daerah yang berbeda. Wow. Bagaimana bisa periset skenario film ini begitu ceroboh?
Tapi, katakanlah ini episode lucu-lucuan. Tersebutlah, Presiden Bartlet menjamu Presiden Indonesia Siguto, inilah presiden baru Indonesia setelah negeri tersebut dikerangkeng kekuasaan seorang diktator. Tapi, aduh, ternyata beliau adalah sosok yang kaku. Sang Presiden AS sampai kebingungan, bagaimana mungkin pemimpin yang pelit bicara itu bisa keluar sebagai pemenang pemilu. Toh, mereka mencoba memahami bahwa tamunya berasal dari negeri Dunia Ketiga.
Sikap arogan itu berlanjut di benak Ziegler, seorang staf Gedung Putih yang meminta Bambang, salah satu diplomat yang ikut kunjungan itu, untuk membebaskan temannya yang berkebangsaan Prancis yang ditangkap karena dituduh mengorganisasi kegiatan demonstrasi antipemerintah. Dengan jumawa, Ziegler meminta agar si teman itu diantarkan ke per-batasan dan membiarkannya pergi.
Alih-alih mengiyakan, Bambang malah membantai Ziegler. Ia menuduh pemerintah AS munafik dalam soal hak asasi manusia. Ia juga menyentuh materi pidato Presiden AS yang menyinggung hak asasi manusia yang dianggap melecehkan Siguto (wah, kok seperti pejabat Orde Baru saja). Ziegler berdalih pidato itu dilakukan karena AS mengagungkan soal hak asasi manusia dan bersikeras agar temannya dibebaskan. Dengan wajah dingin, Bambang menjawab, "Go to hell," sambil berlalu.
Ya, sudahlah. Inilah bayangan Hollywood mengenai Indonesia. Artinya, periset film ini kurang bekerja keras.
Meski demikian, tentu saja rating AC Nielsen yang hanya berada dari angka 1 hingga 2 tampaknya bukan karena episode ngawur itu. Penyebabnya antara lain karena serial ini ditayangkan di tengah malam setiap akhir pekan dan karena West Wing dianggap steril adegan adu tembak dan nihil bodi seksi.
Irfan Budiman
|