|
KEMATIAN itu menjadi pilihan. Dan Selma pun dikerudungi entah plastik entah kain hitam sebelum lingkaran tambang itu dikalungkan kelehernya. Lantai tempat ia berada pun terbuka. Tubuh Selma tersentak ke bawah, terayun-ayun. Ia memilih hukuman itu daripada membuka kembali perkara, hukuman diubah, tapi uang yang sudah disetorkan ke rumah sakit harus ditarik untuk diserahkan kepada pemiliknya. Itu berarti anak yang dicintainya sepenuh hidup tak bisa menjalani operasi dan karena itu bakal menyusul bernasib seperti ibunya: pelan-pelan, tapi pasti, kehilangan penglihatan. Selma memilih memberikan hidup yang terang kepada anaknya. Ia tahu sengsaranya hidup dalam kegelapan.
Adakah pilihan Selma dalam film Dancer in the Dark itu sejajar dengan pilihan para pembajak dari Timur Tengah, yang meledak bersama pesawat dan sasarannya? Kita tak tahu; proses Selma memilih disodorkan kepada kita, kisah para pembajak belum terungkapkan. Tapi, tentunya dua-duanya punya tujuan. Bila tidak, apa arti kematian mereka dan para korban?
Untuk mempertahankan uang itu, Selma harus membunuh—setelah terlebih dahulu ia diancam akan ditembak—dan karena itu ia pun mempertaruhkan hidupnya. Apa yang dicoba dipertahankan oleh para pembajak hingga harus mengakhiri hidup diri dan ribuan orang lain?
Demikianlah, sementara Selma menjemput maut dengan keyakinan anaknya terhindar dari kegelapan, keyakinan apa yang dibawa para pembajak ke dunia lain?
Alangkah mudahnya untuk mengatakan, misalnya, keyakinan itu adalah agar Amerika mengubah sikapnya yang mendua tentang hak-hak asasi manusia, tentang demokrasi, tentang mengorbankan rakyat sipil. Agar Amerika menghentikan pengeboman terhadap Irak, mengendurkan dukungannya kepada Israel yang menembaki anak-anak muda yang bersenjatakan hanya batu.
Itu sama tak sukarnya untuk berteriak-teriak agar dunia mengutuk kekejian para "teroris" yang menghilangkan jiwa ribuan orang di New York, ratusan di Washington, dan puluhan di Pennsylvania. Seolah sebuah jumlah menentukan makna kehilangan hidup. "Tiap kehidupan punya makna," kata Hanan Ashrawi, juru bicara Palestina itu, ketika didesak membandingkan ribuan kematian di sebuah kehancuran besar dan "sejumlah" kematian yang menumpuk dari hari ke hari karena bentrokan kecil.
Dunia berubah bagi anak Selma—perubahan yang diyakini mendatangkan kebahagian, setidaknya hidup yang normal. Apa yang berubah setelah New York digempur, Pentagon diporandakan? Ternyata kemarahan masih yang itu-itu juga: unjuk otot, siap berperang, dan lupa becermin. Ketika pelacur yang dianggap pendosa itu diburu massa yang hendak merajamnya, Yesus, yang juga disebut Isa alaihi salam, berdiri di tengah: mereka yang bersih dari dosa silakan melemparkan batunya. Adakah yang bisa mencegah ketika Amerika, umpamanya, menjatuhkan bom-bomnya di Kabul, di Bagdad, di tempat-tempat lain?
Kematian tak di mana pun tak kapan pun, bunyi sekalimat sebuah sajak. Tapi Selma dan para pembajak memilih kematian di sebuah tempat, di ketika waktu. Selma tahu persis anaknya kehilangan ibunya. Para pembajak juga tahu dengan pasti, ada yang kehilangan: keluarganya, keluarga para korban. Tapi Selma tampaknya yakin, itulah yang terbaik bagi si anak. Ia mungkin membayangkan, ketika kacamata anaknya mengantarkannya di menit-menit terakhir perjalanan mautnya, anak itu akan berterima kasih kepadanya sambil merasakan kepedihan yang menggores.
Siapa tahu, kain merah yang diikatkan di kepala pembajak, pisau lipat yang mereka bawa, dan sesuatu yang lain yang disimpan di saku adalah milik anak atau istri mereka. Dengan itu, kekuatan diperoleh. Dengan itu, jejak sejarah di belakang mereka menjadi tampil, dan gemanya mereka suarakan bersama teriakan para korban: alangkah indah bila mereka adalah pelaku dan korban yang terakhir. Bukankah Selma, setelah anaknya dioperasi, adalah pembawa terakhir dalam garis keluarganya penyakit yang membutakan itu?
Bambang Bujono
|