Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXX/17 - 23 September 2001
   
Ilmu dan Teknologi

Bobolnya Teknologi Super

Setelah lepas landas, pesawat penabrak Pentagon baru diketahui dibajak. Risiko amat mahal pun muncul akibat sistem komunikasi di bandara yang ternyata rentan.

SEBUAH pesawat Boeing 757 berkelebat di langit di pinggiran Distrik Columbia, dekat Washington, Amerika Serikat, Selasa pagi pekan lalu. "Saya tak pernah melihat pesawat penumpang menempuh jalur itu," kata Jenderal Clyde Vaughn, perwira tinggi Angkatan Bersenjata AS, yang menyaksikan pemandangan itu dari mobilnya saat dalam perjalanan ke kantornya, Markas Departemen Pertahanan AS, Pentagon.

Ternyata, beberapa menit kemudian, Vaughn kaget. Dari kejauhan, dilihatnya pesawat tadi menghunjam bangunan kantornya. Api berkobar, disusul asap raksasa yang membuncah dari bangunan segi lima itu. Dengan wajah sedih, direktur peralatan militer di Departemen Pertahanan AS itu, seperti dikutip Washington Post, berkata, "Tak ada yang tampak keliru dari pesawat itu kecuali jalurnya yang melenceng di atas Sektor Georgetown."

Aksi pesawat gila tadi mengakibatkan sisi barat perkantoran Pentagon hancur. Dikabarkan, sedikitnya 190 orang tewas. Diduga, pesawat yang dibajak empat orang tak dikenal itu hendak diarahkan ke Gedung Putih. Namun, entah kenapa, pesawat tersebut melenceng ke Pentagon, yang berjarak 22 mil dari Bandar Udara Internasional Dulles, Washington, DC, tempat pesawat itu lepas landas.

Sayangnya, pembajakan itu baru diketahui setelah pesawat American Airlines 77 itu lepas landas. Setidaknya, melencengnya jalur penerbangan pesawat dengan rute Washington-Los Angeles itu beberapa saat setelah lepas landas belakangan diketahui dari laporan rekaman di menara pengontrol rambu-rambu Bandara Dulles.

Menurut sumber di Asosiasi Penerbangan Federal, radar masih menangkap jalur penerbangan pesawat tersebut di sekitar perbatasan Negara Bagian Ohio-Kentucky. Tapi, setelah pesawat itu meninggalkan bandara, seseorang di kokpit mematikan jet's transponder, alat penghubung antara pesawat dan menara pengontrol. Sejak saat itulah pesawat tersebut menghilang dari pemantauan radar.

Petugas menara kontrol sempat menjejaki adanya pesawat tanpa identitas bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Gedung Putih. Bersamaan dengan itu, petugas pengontrol juga sibuk mencermati dua pesawat jet yang tak diketahui pula identitasnya. Belakangan, dua pesawat ini menabrak menara kembar World Trade Center di Manhattan, New York.

Petugas pun sempat memperingatkan pihak Bandara Nasional Ronald Reagan, Washington, dekat Pentagon, tentang pesawat yang nyasar. Mereka lantas mengontak Gedung Putih saat pesawat itu mendadak berputar dalam sudut sempit membalik menuju Pentagon. Namun, pesawat tersebut keburu jatuh dan lenyap dari layar pengontrol.

Ternyata, pesawat itu menghajar Pentagon. Setelah semua itu terjadi, baru disadari adanya kelengahan pada sistem deteksi dini di Bandara Dulles, khususnya untuk menangkal kemungkinan penyelundupan senjata lewat bagasi penumpang. Sehari sebelum terjadinya pembajakan, Kevin McCree, seorang petugas detektor logam yang sudah empat tahun bekerja di Bandara Dulles, menganggap sistem deteksi di bandara itu terhadap senapan, bom, dan senjata tajam sudah karatan.

Janggalnya pula, Pentagon tak segera bereaksi begitu menerima informasi awal dari bandara. Padahal, selama ini, Pentagon didengung-dengungkan memiliki sistem peringatan dini terhadap berbagai keadaan darurat. Seabrek prosedur dan fasilitas sudah mapan di Pentagon, yang dibangun pada 1943. Divisi informasi teknologinya menyediakan dukungan pengelolaan level tinggi untuk semua operasi yang meliputi seluruh area gedung. Divisi itu juga terhubung secara simultan dengan organisasi pemerintahan di Washington, DC.

Pada awal 1990-an, gedung Pentagon, yang memuat 24 ribu orang staf militer dan sipil, memperoleh dana US$ 530 juta untuk memajukan infrastruktur teknologi serta mengganti sistem perangkat keras dan lunak. Pelaksanaannya dipercepat setelah aksi bom di gedung World Trade Center pada 1993. Jalur komunikasi supercepat dan modern antara Pentagon dan semua konsul AS di seluruh dunia pun dibangun. Sistem ini dimaksudkan untuk mencegah teroris masuk ke AS lewat darat ataupun udara.

Memang, Jumat pekan lalu, kotak hitam (black box) American Airlines 77 sudah ditemukan di antara reruntuhan sudut Pentagon. Dari kotak hitam itu bisa diketahui lebih lengkap kisah pembajakan tersebut. Agaknya, informasi dari kotak hitam berguna untuk merevisi sistem keamanan dan informasi bandara dan Pentagon, yang selama ini dianggap super tapi ternyata tak mampu mendeteksi ulah teroris.

Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
Jawa Barat Tingkatkan Citra Sekolah Kejuruan - 09 Jul 2008 | 06:37 WIB
Impor Daging Selandia Baru Dihentikan - 09 Jul 2008 | 02:16 WIB
PLN: Transportasi Publik Tak Boleh Padam - 09 Jul 2008 | 01:06 WIB
John Calvin International School Tutup - 09 Jul 2008 | 00:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data