Komplotan Bogor-Surabaya Tergulung Enam anggota komplotan perampok uang Rp 1,8 miliar di Bogor digulung polisi. Tapi tujuh tersangka lainnya, termasuk satu penembak korban, masih buron. |
KEJAHATAN selalu melibatkan orang dalam. Keyakinan klasik itu tetap dipegang polisi begitu mengusut kasus perampokan uang nasabah Bank Lippo Bogor sebesar Rp 1,8 miliar. Perampokan ini terjadi pada Jumat, pukul 11.45, 31 Agustus 2001. Dua dari empat perampok yang mengendarai sepeda motor Yamaha RX King dan Suzuki Satria memberondongkan peluru ke arah empat korban di mobil Kijang yang membawa uang untuk gaji 1.500 pekerja PT Great River. Akibatnya, dua pengawal uang, yakni Bripka Polisi Sudiran dan Jeny Tohir, satpam Bank Lippo, tewas. Adapun dua korban lainnya luka parah.
Kontan, kasus yang memecahkan rekor perampokan uang nasabah bank itu mengentak masyarakat. Hari itu juga, kepolisian Bogor dan Jawa Barat mengusut peristiwa yang menewaskan seorang polisi itu. Pemeriksaan awal diarahkan ke PT Great River, mulai dari direksi sampai satpamnya. "Kami mencurigai orang dalam terlibat perampokan yang terhitung profesional, bahkan langsung menembak korban hingga tewas itu," kata Kepala Bagian Reserse Kepolisian Wilayah Bogor, Komisaris Eddy S. Tambunan.
Benar saja. Akhirnya, seorang satpam, Yustinus Lelatobur, "buka mulut". Satpam yang sudah empat tahun bekerja di PT Great River itu mengaku menjadi pemberi informasi tentang kegiatan pengiriman uang dari Bank Lippo ke PT Great River. Tapi, "Sebelum kasus ini, saya tak pernah terlibat perampokan," tutur Yustinus, 40 tahun, yang juga mengaku mengetahui perampokan sadistis itu dari berita media massa.
Ceritanya, pada Juni 2001, Yustinus mengaku didatangi teman lamanya, Benny. Dulu, ia dan Benny, sesama "anak kolong", pernah tinggal di Asrama Polisi Militer Angkatan Darat di Bogor, dekat lokasi perampokan. Benny menanyakan waktu dan jumlah uang kiriman untuk PT Great River. Benny lantas mengenalkan Yustinus kepada Tugyanto, seorang tukang AC di Gunungputri, Bogor. Sementara itu, Yustinus pun mengenalkan Benny pada rekannya sesama satpam PT Great River, Adi Setyo.
Dari informasi Yustinus dan Adi, Benny dan Tugyanto lantas mengajak lima rekannya, antara lain Haji Matsudi, pengusaha besi tua di Gunungputri. Berkali-kali mereka mematangkan skenario perampokan uang tersebut.
Kelompok Bogor ini, menurut Komisaris Eddy, ditengarai mengkhususkan diri pada perampokan uang nasabah bank di atas Rp 500 juta. Pada 1 Desember 2000, kawanan ini diduga merampok uang gaji karyawan PT Samsung sebesar Rp 780 juta di Gunungputri.
Namun, untuk peran eksekutor dalam rencana perampokan uang gaji karyawan PT Great River, ternyata kelompok Bogor meminta bantuan empat orang kelompok Surabaya, lewat Matsudi. Kelompok dari ibu kota Jawa Timur ini di antaranya Antono Dwi, 36 tahun, mantan marinir berpangkat kapten. Antonolah yang memuntahkan timah panas dari pistolnya ke arah korban pada hari kejadian.
Malam hari setelah kejadian, komplotan itu bertemu di Hotel Matra, Jakarta. Mereka membagi-bagikan hasil rampokan. Sebesar Rp 500 juta untuk kelompok Bogor, sementara Rp 1,3 miliar untuk kelompok Surabaya, yang kemudian dibawa Antono pada esok harinya.
Setelah memeriksa 62 orang saksi, akhirnya polisi meringkus Tugyanto dan Matsudi serta Suyono. Istri Tugyanto, Micah, juga ditangkap. Wanita yang mengetahui rencana jahat itu diberi uang Rp 50 juta hasil rampokan oleh suaminya. Sebagian uang itu dibelikannya perhiasan emas 58 gram. Tapi Micah tak ditahan karena sedang hamil. Sedangkan tujuh tersangka lainnya masih buron.
Adapun Yustinus dan Adi ditangkap pada Senin pagi pekan lalu. Padahal, Sabtu se-belumnya, Yustinus baru diberi imbalan Rp 2 juta oleh Benny. "Saya dijanjikan akan diberi uang Rp 50 juta. Sisanya nanti diberikan dua minggu lagi," kata Yustinus.
Bersamaan dengan itu, kepolisian Jawa Barat, didukung kepolisian Jawa Timur, memburu Antono di Surabaya. Namun, lama dibayangi, Antono tak kunjung keluar dari rumah menterengnya di lingkungan pas-pasan di Tambaklaban, Gresik, dekat Surabaya. Baru pada Selasa sore pekan lalu, lulusan Akabri tahun 1988 itu mengendarai mobil Panther ke Surabaya.
Begitu Antono turun dari mobil dan menyusuri trotoar di Jalan Urip Sumoharjo, dekat Pasar Wonokromo, beberapa polisi segera mengepungnya. Tapi Antono cepat melawan dan berusaha merebut pistol polisi. Tiba-tiba, dor, dor, dor. Tubuh tegap Antono yang dihiasi tato itu tersungkur. Darah bercucuran dari lengan dan kakinya. Sekejap kemudian, para polisi memasukkan buruan itu ke mobil Kijang yang sudah disiapkan. Adapun kerumunan orang yang kaget dengan adegan seperti film itu cuma terbengong-bengong.
Happy S., Ardi Bramantyo, dan Adi Sutarwijono (Surabaya)
|