Sosok Baru dari Masa Silam Fretilin menang telak dalam pemilu di Timor Loro Sa'e. Ironisnya, kemenangan ini bisa menyingkirkan Xanana Gusmao dari panggung politik. |
KERAMAIAN itu untuk sementara berakhir sudah. Rakyat Timor Loro Sa'e yang Kamis dua pekan lalu mengikuti pemilihan umum kini tak lagi berkumpul di tanah-tanah lapang. Jalan-jalan sudah sepi dari hiruk rombongan orang yang berkampanye: laki-laki dan perempuan yang mengecat wajah mereka dengan pupur aneka warna.
Yang tersisa adalah penduduk yang asyik memantau siaran radio UNTAET (pemerintahan transisi PBB di Timor Loro Sa'e), yang melaporkan perkembangan penghitungan suara. Di Aeliu, 70 kilometer dari Dilimarkas besar tentara Timor Loro Sa'e, Falintilseorang prajurit mendengarkan radio dengan khusyuk. Sesekali lagu Wakil Rakyat yang dinyanyikan Iwan Fals diputar untuk menyelingi berita resmi. Di jalanan, udara panas. Debu-debu beterbangan dan terik matahari menusuk hingga ke bulu-bulu mata.
Hasil pemiluyang diikuti 380 ribu pemberi suaramemang babak yang paling ditunggu. Partai-partai yang menang akan mengisi Dewan Konstituante, lembaga yang akan membentuk undang-undang dasar dan menyusun perangkat politik dan ekonomi negeri itu. Inilah pemilu pertama di bumi Loro Sa'e setelah negeri itu lepas dari Indonesia berdasarkan jajak pendapat 1999 lalu.
Hasil penghitungan suara baru akan diumumkan pekan ini. Tapi sudah bisa dipastikan Fretilin akan menguasai Dewan Konstituante. Data final yang diperoleh TEMPO dari UNTAET menyebutkan, partai itu meraup 57 persen suara dan menduduki 43 dari 75 kursi Dewan Konstituante. Di bawahnya, dengan komposisi yang timpang, menyusul Partido Democrático (PD) dan Partido Social Democrata (PSD) dengan tujuh dan enam kursi.
Kemenangan Fretilin yang telak itu bukanlah hal yang sulit dijelaskan. Sejak awal, partai yang berdiri pada 20 Mei 1974 ini dielu-elukan publik Timor sebagai penyelamat bangsa Loro Sa'e. Ketika Indonesia menguasai Timor pada tahun 1975, Fretilinlah lembaga pertama yang menjawab penyerangan itu dengan memproklamasikan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Mereka juga bertempur hingga masa jajak pendapat tiba. Apalagi nama pemimpin Timor, Xanana "Kay Rala" Gusmao, tak bisa dipisahkan dari partai berhaluan kiri ini.
"Biarlah Fretilin menang. Mereka sudah melakukan kampanye selama 24 tahun," kata Mario Viegas Carrascalao, bekas Gubernur Timor Timor yang kini menjadi Presiden PSD.
Partido Social Democrata, seperti juga partai-partai lain, merupakan pendatang baru. PSD didirikan September tahun lalu, sedangan Partido Democratico, yang diketuai Fernando Araujo, baru berusia sembilan bulan. Araujo adalah sarjana lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali. Ia pernah lama ditahan pemerintah Indonesia karena aktivitas politiknya. Anggota partainya sendiri umumnya terdiri dari mahasiswa Loro Sa'e yang pernah belajar di Indonesia. Itulah sebabnya dalam Dewan Konstituante mereka akan memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi.
Dengan komposisi Dewan Konstituante yang telah bisa diterka (lihat tabel), tak sulit menebak ke mana arah bentuk negara Loro Sa'e. Fretilin, misalnya, sejak awal menghendaki agar negeri mereka menggunakan sistem semipresidensial. Artinya, ada presiden dan perdana menteri. Perdana menteri akan mengurus pemerintahan sehari-hari, sedangkan presiden akan menjadi simbol negara yang hanya mengurus bidang luar negeri dan pertahanan. "Xanana akan jadi presiden dan saya yang akan menjadi perdana menteri," kata Mari Alkatiri, Sekretaris Jenderal Fretilin.
Tersingkirkah Xanana? Begitulah tampaknya. Meski terus digadang-gadang publik Timor, di Fretilin sejatinya politisi ganteng itu tak lagi punya gigi. Meski mendirikan partai itu pada 1975, sejak 1980-an Xanana memutuskan keluar. Ia lalu membentuk dan menjadi Presiden CNRM (Conselho Nacional Resistencia Maubere), yang kemudian berubah menjadi CNRT (Conselho Nacional Resistencia Timorense), lembaga perjuangan bersenjata rakyat Timor yang menghimpun semua kelompok termasuk Fretilin. "Saya tahu maksud Xanana adalah agar dirinya netral untuk memimpin semua kekuatan yang ada di Timor Timur," kata Mario Viegas.
Tapi netralitas Xanana tampaknya dimanfaatkan banyak partai, termasuk Fretilin. Dalam setiap kampanye, nama dan poster Xanana selalu diarak keliling kota. Bagi rakyat, Xanana adalah satu-satunya pemimpin yang mereka punya. Karena itu, ia laku dijual di tiap kampanye.
Adapun tokoh sentral Fretilin adalah Mari Alkatiri. Lelaki keturunan Arab (ayah Alkatiri berasal dari Yaman) berusia 56 tahun ini ikut mendirikan partai tersebut pada tahun 1974. Ia satu-satunya muslim dalam kepengurusan Fretilin. Saat partai itu didirikan, Alkatiri adalah Ketua Komunitas Muslim Dili. Tapi, setelah invasi militer Indonesia, Katiri hijrah ke Mozambik, Afrika. Di sana ia menjadi dosen hukum internasional di Universitas Eduardo Mondlane, Mozambik. Setelah jajak pendapat 1999, Katiri kembali ke Loro Sa'e dan menjabat Sekretaris Jenderal Fretilin. Dengan jabatan itu, Katiri seakan "bertiwikrama" dari seorang pelarian politik di masa silam menjadi tokoh sentral baru dengan sejumlah kekuasaan di tangannya. Katiri juga menjadi anggota kabinet UNTAET sebagai Menteri Urusan Ekonomi.
Posisi Ketua Partai Fretilin dipegang oleh Lu Olo, 57 tahun. Berbeda dengan Alkatiri, yang mahir berpolitik, Lu Olo adalah tentara murni: cenderung lurus dan tak luwes bermain politik. Hidupnya dihabiskan di hutan bersama prajurit Falintil lainnya. Pria yang hanya bisa berbahasa Tetun itu adalah komandan lapangan yang disegani. "Lu Olo itu kan cuma bisa perang. Kalau soal organisasi modern, dia sama sekali buta," kata Mariano Sabuno Lopes, Sekretaris Jenderal Partido Democrata. Dalam Dewan Konstituante nanti, Olo akan ditempatkan sebagai ketua.
Bagian dari para anggota Fretilin pro-Xanana, Olo sebenarnya hanya "boneka" yang dipasang Katiri untuk menyamarkan konflik. Maklum, ini bukan perseteruan kemarin sore. Konflik itu lahir bersamaan dengan pecahnya Fretilin ketika mereka masih bergerilya di hutan. Kubu yang satu dipimpin Xanana dan "kubu Mozambik" diketuai Katiri. Dengan menaruh Olo di kursi ketua partai, Katiri bisa jadi ingin menunjukkan bahwa tak ada masalah antara dirinya dan Kay Rala. Buktinya? Olo, prajurit yang bahu-membahu dengan Xanana di hutan, dijadikan pemimpin partai.
Perseteruan itu berlanjut hingga menjelang pemilu lalu. Xanana, yang secara formal diusung Fretilin sebagai presiden, nyatanya tak digubris di sepanjang masa kampanye. Dalam kampanye Fretilin putaran terakhir, 28 Agustus lalu, misalnya, tak seorang juru kampanye pun meminta Xanana naik panggung. Seorang petinggi Fretilin menyebutkan bahwa Katiri juga kerap menjelek-jelekkan Xanana dalam rapat internal partai. "Xanana itu bukan pemimpin rakyat Timor Loro Sa'e. Dia adalah selebriti," kata Mari Alkatiri seperti ditirukan sumber itu. Xanana sebetulnya sadar dengan kondisi ini. Dalam putaran-putaran sebelumnya, ia lebih sering datang ke kampanye PD ketimbang hadir dalam kampanye Fretilin.
Tapi mengapa Xanana harus disingkirkan? Ada dugaan, persoalannya adalah sentimen Fretilin dan bukan Fretilin. Sejak keluar dari partai itu, Xanana lebih suka menyuarakan ide kesatuan nasional ketimbang mengusung isu partai dan ideologi. Hal inilah yang ditolak sejumlah petinggi Fretilin. Politisi Loro Sa'e lainnya menduga penyingkiran itu hanyalah karena ego Katiri semata. Semua cerita ini dibantah oleh Mari Alkatiri. "Kami tetap menghormati Xanana. Tidak benar kami mendepak dia," katanya.
Untuk sementara, perseteruan ini memang belum akan merambat ke akar rumput. Maklum, di tengah terbatasnya penduduk yang berpendidikan tinggi di Loro Sa'e, belum banyak orang sadar bahwa Xanana sebenarnya akan menjadi presiden yang "dikandangi". Bahkan tak banyak orang tahu bahwa calon presiden itu bukan lagi anggota Fretilin. "Saya memilih Fretilin karena ada Xanana," kata Laurentina Sarmento, pesuruh di sebuah hotel di kawasan Bukit Bintang, Dili.
Menurut Mario Viegas Carrascalao, pelan-pelan mata rakyat akan terbuka. Dia menduga pada pemilu berikut Fretilin akan kalah. "Saya berani memastikan, Fretilin tak akan lagi memperoleh mayoritas suara. Saat itulah PSD akan mengambil alih peran," katanya berapi-api. Xanana sendiri, seperti biasa, tak banyak berkomentar. "Saya memang berusaha berdiri di semua kekuatan," katanya.
Di Aeliu, matahari masih melepuhkan hari. Radio tua prajurit itu masih melaporkan perkembangan penghitungan suara dari detik ke detik. Ketika berita resmi usai, lagu mars yang dulu kerap dipakai dalam pemilu Indonesia terdengar: "Pemilihan umum telah memanggil kita. Seluruh Rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Timor Leste
."
Arif Zulkifli, Setiyardi (Timor Loro Sa'e)
10 Besar Pemenang Pemilu Timor Loro Sa’e | Partai | Persentase Suara dalam Pemilu | Jumlah Kursi dalam Dewan Konstituante | | Frente Revolucionária do Timor Leste Independente (Fretilin) | 57,37% | 43 | | Partido Democrático (PD) | 8,72% | 7 | | Partido Social Democrata (PSD) | 8,18% | 6 | | Associação Social-Democrata Timorense (ASDT) | 7,84% | 6 | | Partido Democrata Cristão (PDC) | 1,98% | 2 | | União Democraticá Timorense (UDT) | 2,39% | 2 | | Klibur Oan Timor Asuwain (KOTA) | 2,13% | 2 | | Partido Nacional Timorense (PNT) | 2,21% | 2 | | Partido Povo de Timor (PPT) | 2,01% | 2 | | Partido Democrata-Cristão de Timor (UDC/PDC) | 0,66% | 1 | Sumber: UNTAET (Catatan: enam partai lainnya tidak memperoleh kursi sama sekali. Total kursi Dewan Konstituante adalah 75 kursi.) |
|