Burung Dara Evelina Kelompok Tarantula Hypertext O'rchestra dari Italia membawakan lagu Yahudi pelarian Spanyol dalam Art Summit pekan lalu. Sebuah bahasa yang hampir musnah. |
SOPRANO itu melantunkan lagu murung. Bahasa yang ia gunakan terdengar seperti campuran bahasa Arab. Intonasi suaranya tak berat, bergetar seperti laiknya penyanyi seriosa, tapi mirip penyanyi balada, mengolah kesedihan dari dalam. Itulah Evelina Meghnagi, salah satu soprano Italia yang disebut-sebut sebagai penafsir terbaik untuk repertoar Yahudi. Tak banyak penonton yang tahu bahwa pertunjukan Tarantula Hypertext O'rchestra malam itu menyuguhkan repertoar berbahasa Ibrani.
Sei Yona, weskimini bachinot najeni…. "Ini lagu Yahudi Yaman dari abad ke-17," kata Evelina. Lagu ini berkisah tentang burung dara, simbol perdamaian. "Terbanglah dara, dengarkan aku, denting harpaku, cepat, jangan terlihat musuh…." Evelina adalah seorang Yahudi kelahiran Libia. Empat repertoar dinyanyikannya dalam campuran bahasa Ladino, bahasa Ibrani logat Spanyol kuno yang sekarang hampir musnah, dan bahasa Ibrani Yaman. Di antaranya Kirya Yefefiya (Kota nan Indah), yang bercerita tentang Yerusalem yang bersinar, malam yang indah, perjalanan Musa membelah laut.
Gedung Kesenian Jakarta seolah dibawa dalam suasana liturgi. Bagi penonton yang mengharap tontonan yang semarak, tentu saja ini menjemukan. Dari satu lagu ke lagu lain datar. Latar belakang pemain Tarantula Hypertext adalah musik klasik. Mereka mengeksplorasi lagu rakyat Mediterania dan memberi tafsiran modern. Vokal tampaknya merupakan kekuatan utama kelompok ini. Improvisasi klarinet yang ditiup Luigi Cinque, biola yang digesek Luca Zanco, keyboard dan rekaman vokal yang diolah (sampling) Luca semuanya melanskapi vokal.
Yang menarik mungkin adalah nilai historis lagu yang dinyanyikan Evelina. Semuanya lagu-lagu kuno dari Yahudi Sephardi, etnis Yahudi yang diusir dari Spanyol oleh penguasa Katolik Ferdinand dan Isabel (raja zaman Columbus) pada tahun 1492. Oleh kalangan Yahudi Ashkenazic, Yahudi dari Eropa, Prancis, Jerman (mayoritas Yahudi Amerika adalah keturunan Ashkenazic), etnis ini sering dianggap kelas dua. Itu karena Yahudi Sephardi banyak berasimilasi dengan tradisi Timur Tengah, Afrika Utara, dan Balkan.
"Boleh percaya atau tidak, Yahudi Sephardi dahulu ditolong oleh Sultan Bayazid II, Kesultanan Turki. Maka, sisa-sisa yang bisa berbahasa Ladino adalah orang-orang tua di Istanbul dan Yerusalem," kata Uri Tadmor, seorang linguis, ahli bahasa Ibrani dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Jerman, yang kebetulan menonton. Kesultanan Turki tidak hanya menampung pengungsi, tapi juga memberi perlindungan. Pada Maret 1556, ketika di Ancona, Italia, terjadi pembakaran Talmud dan buku-buku Yahudi, Sultan Suleman dari Turki mengirim surat kepada Paus Paulus IV agar membebaskan orang Yahudi di Ancona.
Zaman kekhalifahan Kordoba, periode 1000-1148 di Spanyol, boleh disebut sebagai the golden age of Hebrew literature. Tak syak, ketika mereka di bawah kekuasan Turki yang membentang dari Anatolia sampai Maroko, Yaman, dan Libia, sastra lisan, balada, dan romansa Yahudi Sephardi bercampur dengan kekayaan puisi Arab. Evelina sendiri mewarisi kekayaan bahasa dari keluarganya. "Ibu dahulu waktu saya kecil selalu menyanyi bahasa Arab ketika meninabobokan saya," Evelina mengenang.
Nama Tarantula, yang berarti kalajengking, pun diilhami dari musik daerah Puglia, Itali Selatan, yang irama musiknya lebih dekat ke Arab. "Musik itu semacam musik terapi, penyembuhan untuk orang kesurupan," ujar Luca Spagnoletti, pemain keyboard. "Tentu saja suara saya tidak bisa seasli petani-petani Italia Selatan," kata Evelina. Tapi, entah kenapa, nada bauran antara Yahudi dan Islam yang disajikan Evelina seperti sudah akrab di telinga kita. Sesungguhnya Tarantula Hypertext memiliki banyak penyanyi dengan latar belakang repertoar-repertoar muslim Timur Tengah. Biasanya, dalam pertunjukan mereka saling bersahut-sahutan dengan para soprano Yahudi. Tapi kini yang dibawa cuma Evelina.
"Saya lebih suka mendengar Sei Yona yang tradisional. Lebih mantap, lebih riang. Tafsiran kontemporer malah terlalu hening," Uri berkomentar. Memang, tafsir modern kadang ingin berlebihan memaknai kekudusan masa lampau. Maka, tatkala Tarantula pada menit-menit akhir mengundang perkusionis Jalu Pratidina ke panggung untuk berimprovisasi dengan seperangkat kendang Sunda, sontak suasana yang pekat jadi cair. Nada muram Yahudi tiba-tiba dibasuh dengan energi kerancakan tabuhan Sunda
Seno Joko Suyono
|