Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXX/17 - 23 September 2001
   
Teater

Anatomi Penghancuran Manusia

Black Tent, kelompok teater Jepang yang banyak menjadi inspirasi teaterawan Indonesia, manggung di TIM dengan lakon Woyzeck. Sangat impresif.

Entah sudah berapa banyak kacang polong yang ditelan oleh Woyzeck. Adegan awal Jiro Shigemori yang memainkan Woyzeck langsung menyergap. Panggung ditata dengan lampu-lampu kecil yang impresif. Woyzeck tercakung di meja, terus-menerus memakan polong. Lihatlah kemudian bagaimana Black Tent mengoyak imajinasi penonton untuk menggambarkan eksperimen ilmiah dokter (Natsuko Kiritani). Kayu-kayu beroda segi tiga, mengandaikan berbentuk teropong atau mikroskop, disorong ke sana-kemari di panggung memeriksa Woyzeck.

Naskah George Buchner (1813-1837) itu dipandang sebagai salah satu naskah pertama yang merefleksikan dominasi ilmu pengetahuan modern atas manusia. Ini kisah Woyzeck, kopral lugu yang menjadi kelinci percobaan dunia kedokteran atau industri farmasi. Lambat-laun, ketika ia memandang kedalaman dirinya sendiri, ia hanyut dalam kebingungan. Ia bercinta dengan kekasihnya, Marie (Hitomi Iwai), dan menghasilkan anak. Tapi klimaksnya Woyzeck hidup di antara dua pilihan ekstremitas: memangsa atau dimangsa. Hubungannya dengan Marie berubah menjadi hubungan yang paling fatal: memiliki atau membunuhnya.

Tafsiran Makoto Sato, sutradara yang drop out filsafat Universitas Waseda, tak hanya berhenti seputar penjajahan ilmu atas manusia. Ia melacak jauh sampai situasi kekinian: sistem sosial yang dikontrol militerisme. Black Tent dianggap sebagai cikal bakal pembaruan teater di Jepang pada akhir 1960-an. Eksperimen-eksperimen mereka sangat politis. Pada zaman lalu mereka dianggap sebagai kelompok kiri yang ideologis. Mereka sangat banyak menggarap lakon sejarah yang sarat visi sosial dengan konteks Jepang kontemporer. Lakon Woyzeck kali ini diwarnai persoalan pelecehan perempuan di Okinawa, pangkalan militer Amerika di Jepang.

Lakon Woyzeck yang dipanggungkan di Jakarta ini sendiri merupakan tafsir ketujuh yang dilakukan Black Tent sejak 1984. Yang menarik dari garapan Makoto Sato ini, walaupun sarat dengan meminjam istilah Erich Fromm "the anatomy of human destructiveness, kita tidak merasakan suatu semburan slogan atau jargon-jargon yang biasanya selalu memenuhi ruangan pertunjukan ke-banyakan teater kita. Tak ada kecerewetan, kenyinyiran, kebombastisan yang mem-benamkan penonton pada segala penjelasan yang harus dimengerti dan lalu malah kehilangan inti masalahnya.

Lakon Woyzeck ini terasa sekali mem-berikan ruang imajinasi kepada kita. Lihatlah bagaimana Black Tent menciptakan kejutan-kejutan estetis. Mulai ilustrasi gerak dengan lampion-lampion kecil. Atau saat adegan pembunuhan Marie, kita tak menyangka kain yang mereka tapaki tiba-tiba berubah menjadi kolam kecil, membuat tubuh keduanya basah. Lakon ini juga kaya dengan humor getir. Iringan piano Kiyoko Ogino sebagai "musik hidup" juga bukan sekadar tempelan. Panggung semuanya serba efisien, tapi iramanya lancar.

Inilah watak dan bukti dari Black Tent, yang memang biasa dengan desain panggung yang "minimalis" sebagaimana kebiasaan mereka "ngamen" keliling membawa tenda ke berbagai kota. Saya pernah mengikuti perjalanan mereka keliling 14 kota di Jepang pada 1996. Mereka memang selalu siap dengan kondisi apa pun. Sebagaimana pernah diucapkan Yamamoto "Genksan" Kiyokazu, aktor senior mereka, kepada saya di markas Black Tent lima tahun silam, "Setiap ruang bisa menghasilkan sejarah bagi siapa pun."

Saya senang dengan lakon Woyzeck Black Tent ini bukan karena saya kenal dan akrab secara pribadi dengan senior-senior mereka. Mereka memiliki sistem rekrutmen setiap tahunnya untuk menjadi anggota baru melalui kursus akting. Bekas anggotanya tersebar di mana-mana di Jepang. Di antara mereka, bekas anggota dan simpatisannya, selama 20 tahun ini tetap menjalin kontak dan saling membantu bila Black Tent manggung di daerahnya. Dan pertunjukan Woyzeck kali ini penuh dengan kader muda, aktor baru yang energetik yang tak saya temui ketika hidup dengan Black Tent di Jepang sepanjang tahun 1996. Semangat pertunjukan pentas Woyzeck mengingatkan saya pada semangat Woyzeck Teater SAE pada 1987-1988. Di tangan keduanya seolah ada energi kemanusiaan yang terpancar dari sosok Woyzeck. Sedangkan beberapa grup lain yang menyajikan Woyzeck sekadar melucu seperti dagelan warung kopi Prambors yang bebal.

Halim H.D.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
Impor Daging Selandia Baru Dihentikan - 09 Jul 2008 | 02:16 WIB
PLN: Transportasi Publik Tak Boleh Padam - 09 Jul 2008 | 01:06 WIB
John Calvin International School Tutup - 09 Jul 2008 | 00:14 WIB
Artis dan Kiai Bertarung di Jalur Independen - 08 Jul 2008 | 23:49 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Sudah Masuk Isolasi - 08 Jul 2008 | 23:13 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data