|
PERISTIWA bom berdarah akhir tahun lalu rupanya hendak diulang oleh sekelompok orang. Namun, karena Jakarta, yang tahun lalu disibukkan oleh beberapa gereja yang diledakkan, dijaga ketat, dan Poso, yang selama ini membara oleh konflik Islam dan Kristen, sudah tenang setelah ditandatanganinya deklarasi Malino, provokasi pun dialihkan ke tempat lain. Saat pergantian tahun, Senin pekan lalu, sejumlah gereja di Palu, Sulawesi Tengah, diguncang ledakan bom.
Aksi itu, entah karena apa, hanya berhasil meledakkan halaman dan pagar empat gereja. Bangunan gereja sendiri tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya seorang anggota penjinak bom Brimob, Baratu Yani Afanto, yang mengalami luka cukup parah ketika bom yang diperiksanya meledak. "Di Palu ini tingkat kerukunan umat beragama sangat tinggi, provokasi itu tidak akan berhasil," kata W.J. Pangguna, seorang pendeta Gereja Pantekosta di Jalan Gajah Mada, salah satu gereja yang terkena sasaran. Hal yang sama juga diungkapkan tokoh Islam. "Provokasi murahan itu tidak akan berhasil, di sini tidak ada persoalan antara Islam dan Kristen," ujar Yahya Alamrie dari Perguruan Islam Al-Khairat Palu. Nyatanya, hingga Jumat pekan lalu, memang tidak ada aksi balasan dari masyarakat.
Siapa pelaku aksi rendahan itu? Menurut polisi, ada tiga orang yang resmi dinyatakan sebagai tersangka. Jono, Munir alias Anshori, dan Muaz tidak bisa berkelit setelah di rumah mereka ditemukan barang bukti berupa weker, bahan peledak, dan peta Kota Palu. Tertangkapnya para tersangka yang berasal dari Poso itu semakin menguatkan dugaan ada upaya mengalihkan wilayah konflik dari Poso ke Palu. Malahan Jono tercatat sebagai salah satu penanda tangan deklarasi Malino, 20 Desember lalu.
Motif mereka, menurut Kapolda Sul-Teng, Brigjen Zainal Abidin Ishak, masih diselidiki. Menurut Munir, bahan peledak berikut buku petunjuk merakit bom adalah milik Reza, rekannya dari Poso?kini dinyatakan sebagai tersangka dan buron. "Reza di sini dari tanggal 22 Desember lalu. Ia ingin mencari pekerjaan di Palu," ujarnya kepada Darlis Muhammad dari TEMPO.
Kendati menolak tuduhan sebagai pelaku peledakan, Munir mengaku ia sudah mengetahui bahwa barang yang dititipkan oleh Reza adalah bahan peledak. "Kami jaga-jaga kalau-kalau ada kerusuhan," ujarnya. Beberapa hari sebelumnya, terjadi aksi pembakaran Pasar Masomba Palu dan nyaris terjadi bentrok antara etnis Kaili, suku asli lembah Palu, dan etnis Bugis, pendatang.
Hingga kini masih belum jelas sejauh mana keterlibatan Jono dan Muaz dalam aksi peledakan itu. Menurut Munir, ia mengenal Jono delapan bulan silam. Pemuda lajang asal Palopo, Sulawesi Selatan, itu juga mengaku menjelang malam pergantian tahun berada di rumah Jono di Jalan Anoa. "Kami hanya ngobrol santai sambil makan dan minum menanti pergantian tahun," ujarnya.
Benar atau tidak pengakuan tersangka, aksi peledakan gereja di Palu membuktikan upaya mengadu domba umat yang berlainan agama jalan terus. Provokasi serupa juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Hampir ber-samaan waktunya, juga terjadi ledakan bom di arena Kongres Umat Islam II di Makassar, 30 Desember silam.
Agaknya, upaya itu tidak akan terhenti sampai polisi benar-benar mampu menangkap sang dalang.
Cirebon
Kelangkaan Minyak Tanah
INI betul-betul ironi: sulit mencari padi di lumbungnya. Pekan lalu, masyarakat Cirebon, Jawa Barat, kesulitan mencari minyak tanah meski di wilayah itu terdapat kilang Exor I Balongan milik Pertamina, yang antara lain memproduksi bahan bakar jenis itu. Konsumen harus antre berjam-jam untuk mendapatkannya, dengan harga yang naik dua kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET) yang Rp 650.
Kelangkaan ini terjadi di seluruh wilayah III Cirebon, seperti Kuningan, Cirebon kota dan kabupaten, Indramayu, serta Majalengka. Bahkan sudah pula merembet ke Kabupaten Purwakarta dan Subang. Akibatnya, sejumlah industri kecil di wilayah itu menghentikan produksinya. Sentra industri terasi dan rajungan matang di Cirebon sudah berhenti berproduksi selama seminggu. Adapun industri kerupuk udang malah sudah berhenti hampir dua pekan.
Wali Kota Cirebon, H. Lasmana, khawatir bila situasi ini terus berlanjut akan terjadi gejolak dalam masyarakat. Alasannya, di Kuningan, masyarakat sudah berani menghentikan truk tanki minyak tanah dan memaksa sopirnya untuk menjual minyak tanah dengan harga Rp 1.000 per liter. Sedangkan di Majalengka, rumah sub-agen dibakar karena menjual minyak tanah dengan harga Rp 1.500 perliter.
DPRD Kota Madya Cirebon sendiri, menurut wakil ketuanya, Sunaryo, sudah meminta pihak Balongan dan Kantor Dinas Deperindag setempat untuk melakukan operasi pasar. Meski pihak UPPDN Pertamina III Balongan belum mengeluarkan pernyataan atas situasi tersebut, Sunaryo menduga, kelangkaan itu akibat ulah sejumlah pengusaha yang melakukan penimbunan menjelang kenaikan harga BBM.
Pendapat itu masuk akal. Sebab, kelangkaan juga terjadi di sejumlah daerah lain. Di Kota Madya Ternate-Tidore, Kabupaten Halmahera, Maluku Utara, minyak tanah juga menghilang dari pasaran tiga hari terakhir. Masyarakat hanya bisa membeli maksimal 5 liter dengan harga rata-rata Rp 2.000 per liter.
Kondisi serupa terjadi di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara. Di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tenggara, seperti Kabupaten Muna, minyak tanah dijual dengan harga Rp 2.500-3.000 per liter. Sedangkan di Sulawesi Utara, akibat kelangkaan itu, sejumlah pangkalan penjualan minyak tanah memberlakukan sistem kupon. Misalnya di pangkalan Kelurahan Perkamil, Kecamatan Tikala, Manado. Dalam kupon tertulis nama keluarga warga kelurahan tersebut. Setiap keluarga bisa membeli 10 liter per minggu dan warga kelurahan lain tak bisa membeli di sana.
Bandung
Stiker Sakti Antitilang
Sementara di televisi ada film kera sakti, di Bandung ada stiker sakti. Bila Anda memakai stiker itu di angkutan truk, dijamin armada Anda tak bakal dirazia polisi. Itu janji si penjual stiker. Malah ada iming-iming yang lebih hebat: pemakai stiker akan aman dari tangan-tangan jail seperti para penjahat bajing loncat.
Karena "kesaktiannya" itu, sebuah stiker bisa dijual sampai Rp 200 ribu. Para pengusaha angkutan banyak yang membelinya. Bukan karena termakan rayuan, tapi karena para sales stiker tersebut?umumnya preman atau bekas penjahat?juga memakai teknik ancaman dalam menjualnya. Padahal, sudah terbukti, stiker itu cuma sakti di sebuah rute. Misalnya, stiker bernomor A05 hanya manjur di wilayah Purwakarta, sementara nomor 34S berkhasiat di rute Bandung-Tasikmalaya. Akibatnya, truk yang melewati sejumlah rute harus membeli sejumlah stiker.
Tapi keampuhan stiker itu berakhir Senin pekan lalu. Polda Jawa Barat rupanya risi karena ada tudingan bahwa polisi ikut bermain dalam penjualan stiker itu. Mereka menggelar operasi untuk menangkap penyebar stiker. "Kalau ada oknum polisi yang terlibat, akan di-mahkamah-militer-kan," kata Kadispen Polda Jawa Barat, Ajun Komisaris Besar Dade Ahmad.
Hingga akhir pekan lalu, belum ada anggota polisi yang tertangkap. Namun Polres Sumedang sudah menangkap dua pengurus lembaga swadaya masyarakat Bouncer dengan tuduhan pemerasan melalui penjualan stiker. Organisasi ini diketahui mengoordinasi penjualan stiker antitilang itu.
Gowa
Banjir Menewaskan Enam Orang
Malam pergantian tahun dirayakan masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan, dengan pilu. Hujan deras pada akhir tahun itu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor di tujuh kecamatan. Akibatnya, enam warga tewas terbawa banjir atau tertimbun tanah longsor, ribuan hektare sawah dan ratusan rumah terendam air. Sejumlah ruas jalur transportasi provinsi juga terputus, termasuk jalan yang menghubungkan Sungguminasa, ibu kota Gowa, dengan Malino sepanjang 75 kilometer.
Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Kabupaten Gowa, Abbas Hadi, menjelaskan bahwa longsor terjadi karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Curah hujan mencapai 172 milimeter, padahal curah hujan tertinggi yang tercatat selama ini adalah 125 milimeter. "Akibatnya, tanah di area perbukitan terdesak oleh air dan longsor," ujarnya.
Bupati Gowa, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan kerugian yang disebabkan banjir pekan lalu itu lebih dari Rp 6 miliar. Kerugian terbesar akibat adanya dua jembatan yang dibangun dengan biaya Rp 1,6 miliar mengalami kerusakan parah. Selain itu, tiga titik jalan terputus. Sedangkan kerugian yang berasal dari rumah yang hanyut dan rusak, serta sawah yang terendam, mencapai Rp 2 miliar. "Rendaman banjir menyebabkan kerusakan tanaman padi di areal itu, sehingga harus ditanami ulang," katanya.
Sementara itu, peristiwa hujan yang sama juga menyebabkan Makassar mengalami banjir. Ketinggian banjir di sejumlah ruas jalan di dalam kota mencapai satu meter.
Tangerang
Sandal Bolong ke Pengadilan
Sandal ternyata bisa menjadi jurus perusahaan untuk memecat dan menyeret buruhnya ke pengadilan. Ini yang dilakukan PT Osaga Mas Utama, yang berdomisili di Tangerang, Banten. Kamis pekan lalu, perusahaan ini menuntut bekas buruhnya, Hamdani, di Pengadilan Negeri Tangerang dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Jika terbukti, ia bisa dipenjara lima bulan.
Saksi pelapor, Kepala Personalia Osaga Mas Utama, Susanto, dalam keterangannya di pengadilan menyebut Hamdani telah mencuri sandal milik perusahaan pembuat sandal dan sepatu itu. Sandal yang dituduhkan dicuri itu sendiri bukan produk baru siap jual, tapi sudah bolong tengahnya, bagian atas dan bawahnya (sol) pun sudah dicabut. Menurut Susanto, "Sandal itu adalah barang sampel untuk calon pembeli."
Namun Laka Dodo Laila dari PBHI, pengacara Hamdani, menuding hal itu hanya alasan untuk memecat kliennya yang dianggap salah satu otak unjuk rasa buruh perusahaan itu menuntut hak-hak normatifnya. Buktinya, Hamdani ditangkap satpam perusahaan dengan tuduhan mencuri sandal tiga minggu setelah demo buruh pada Agustus 2000. Sandal itu dinilai Laka adalah barang apkiran yang tak terpakai. "Sebelumnya banyak buruh lain yang memakai sandal sejenis tapi tak ada masalah," kata Laka.
Lagi pula, kilah Laka, setelah penangkapan, kliennya itu menerima sangsi PHK, dan pengaduan perusahaan ke polisi dicabut Oktober 2000. Tapi rupanya demo di Osaga tak berhenti, dan Hamdani dinilai perusahaan masih terus ikut bermain, maka kasus yang sudah dipendam setahun lebih itu pun dihidupkan.
Johan Budi S.P., Prasidono L., dan Tempo News Room
|