Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXX/14 - 20 Januari 2002
   
Buku

Ketika Layar Putih Dimulai di Asia

Sebuah buku yang membahas fungsi film di awal berdirinya negara-negara di Asia Tenggara dan kelanjutan industri itu kini.

ADAKAH persamaan sejarah film di kawasan Asia Tenggara? Buku Film in Southeast Asia: Views from the Region karya David Hanan mencoba mencakup kisah tumbuhnya industri dan budaya film di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, bahkan Australia dan Selandia Baru. Setiap bagian yang menggambarkan sejarah perkembangan suatu negara ditulis seorang praktisi dari negara itu masing-masing. Dengan luasnya jangkauan kawasan itu, tidakkah liputan ini menjadi agak dangkal? Ternyata buku ini menyajikan panorama yang memungkinkan kita menempatkan Indonesia dalam konteks kawasan Asia Tenggara. Artinya, kita menyimak pola yang membuat industri film di Indonesia unik. Buku ini juga berupaya menarik sebuah benang merah, yang samar-samar, yang mengaitkan seluruh kawasan.

Kecuali Thailand, persamaan sejarah dari negara-negara di kawasan ini adalah mereka semua pernah dijajah oleh negara Barat: Indonesia oleh Belanda; Malaysia, Singapura, dan Myanmar oleh Inggris; Vietnam dan Kamboja oleh Prancis. Fakta ini memainkan peranan penting tidak saja dalam tema film-film dalam masa perjuangan kemerdekaan, tapi juga dalam jatuh-bangunnya industri film, salah satunya, karena harus melawan sensor penguasa.

Garis-garis pola yang sejajar juga bisa dilihat pada film dokumenter sebagai pemuka dari kebanyakan industri film di kawasan ini. Film dokumenter pada awal berdirinya negara setelah merdeka juga lazimnya dibuat oleh sineas atau dokumentator Eropa atau Amerika. Banyak teori yang dapat disusun dari fenomena ini. Di antaranya, berkat konsep-konsep etika yang mulai menyebar dan berpengaruh serta berita perjuangan kemerdekaan yang sampai juga ke dunia Barat, banyak penulis dan cendekiawan yang sadar bahwa negeri-negeri jajahan mereka sebenarnya punya kehidupan serta budaya sendiri. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong para perekam sejarah dan aktualitas untuk merekam apa yang saat itu cuma menghuni dunia bawah sadar mereka sebagai alam impian.

Di Indonesia, umpamanya, menurut catatan H. Misbach Yusa Biran, pembuatan film pada 1911, dengan film dokumenter, dimotori oleh orang-orang Eropa. Belakangan, inisiatif ini diteruskan oleh orang-orang Eropa yang tinggal di Indonesia waktu itu. Sementara itu, di Filipina, menurut Agusto Sotto, pada 1899, Raymond Ackerman dari American Mutoscope and Biography datang untuk meliput perang Filipina-Amerika dengan film dokumenternya. Pada 1901, rekannya dari organisasi yang sama, Robert K. Bonine, berdiam di Manila beberapa minggu untuk merekam adegan-adegan kehidupan sehari-hari di kota ini.

Sebagai perbandingan, perkembangan industri perfilman Indonesia tampil lebih lambat daripada industri film di negara-negara lain di kawasan ini. Bahkan di Malaysia, yang saat itu masih mencakup Singapura, film mendapat sambutan lebih hangat dari masyarakat penonton dan ini memberikan semangat kepada para produser untuk terus membuat film baru.

Di Vietnam, semula film dijadikan alat propaganda bagi penguasa Prancis. Dan justru contoh ini yang ditarik para sineas Vietnam, yang menggunakannya untuk membina rasa nasionalisme yang kuat. Dengan begitu, kedua pihak menggunakan film untuk kepentingan masing-masing. Film-film cerita yang menyusul film perjuangan pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat lokal.

Tampaknya, di Indonesia, setidaknya hingga 1970-an, ketika cinemascope masuk dalam perfilman, masyarakat masih ter-perangkap dalam konsep bahwa film buatan lokal lebih rendah mutunya daripada film impor. Akibatnya, masyarakat kelas menengah lebih suka menonton film impor, sementara film lokal ditonton rakyat kelas menengah ke bawah.

Sutradara yang berani bereksperimen seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, dan Garin Nugroho sempat membawa film Indonesia ke berbagai festival film internasional, tapi tidak menjamin terjual habisnya karcis di negara sendiri. Tentu saja studi ini belum memasukkan studi beberapa kasus yang menunjukkan adanya film Indonesia yang mampu meraup banyak penonton, seperti Daun di Atas Bantal karya Garin Nugroho, Petualangan Sherina karya Riri Riza, serta Jelangkung karya Rizal Manthovani dan Jose Purnomo. Di masa yang akan datang, studi-studi tentang perfilman di Indonesia—dan kawasan Asia Tenggara—tampaknya harus membuat sebuah updating tentang perkembangan terkini.

Dewi Anggraeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data