Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXX/14 - 20 Januari 2002
   
Monitor

Semakin Sakit, Semakin Bahagia

Responden terbelah dalam menyikapi abolisi: separuh menerima, sisanya menolak.

PENYAKIT mungkin telah menjadi sumber kesedihan sekaligus sumber anugerah bagi bekas presiden Soeharto. Semakin ia sakit?dengan berkali-kali keluar-masuk rumah sakit?semakin gencar suara orang meminta pengampunan atas dirinya. Pertengahan Desember 2001 lalu, saat ia ditandu masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina akibat radang paru-paru, banyak orang mengira, inilah akhir dari hidup Soeharto. Nyatanya tidak. Ia pulang dari rumah sakit dengan senyum dan lambaian tangan. Tak cuma itu: kegembiraan Soeharto semakin lengkap karena suara orang yang menginginkan pengampunan dirinya tak berhenti bergema.

Tak cuma dalam debat seru antara anggota DPR yang pro dan yang kontra abolisi, kontroversi juga berkembang di level publik. Maka kebahagiaan Soeharto seakan kian lengkap: publik ternyata tak lagi bersikap keras kepadanya. Setidaknya separuh responden jajak pendapat TEMPO menyokong usulan abolisi.

Mungkin inilah potret dari keletihan sebuah masyarakat menghadapi krisis politik dan ekonomi yang tak berkesudahan. Di awal-awal kejatuhan Soeharto dulu, masyarakat bulat tekad menuding Soeharto sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kebangkrutan Indonesia. Kini, setelah berbagai persoalan datang silih berganti, pengadilan dan status bersalah bagi Soeharto tampaknya tak penting betul bagi masyarakat.

Sejatinya, pengadilan Soeharto bukan peristiwa yang remeh. Meski ia bisa diampuni di kemudian hari, status bersalah baginya akan menjadi preseden yang baik bagi publik di masa datang: bahwa Soeharto, dengan semua jasa dan kebaikannya, adalah orang yang punya andil terhadap banyak penyelewengan di Indonesia. Tanpa itu, sejarah Soeharto akan putih bersih. Beberapa dasawarsa ke depan, bukan tak mungkin Soeharto menjadi pahlawan tanpa cacat di mata publik.

Sialnya, di tengah kecapekan psikologis publik terhadap kasus ini, ide abolisi justru muncul dari kalangan pemerintah sendiri. Meski belakangan terjadi saling tunjuk antara Presiden dan menterinya tentang siapa penggagas ide abolisi, tak bisa ditolak bahwa pemerintah seperti kehilangan pegangan. Responden jajak pendapat TEMPO menilai lontaran ide itu didasarkan atas simpati kepada Soeharto. Sebagian lainnya mencurigai ada motif mencari keuntungan dari Keluarga Cendana dari si pelontar ide. Tak jelas mana versi yang benar.

Tapi satu hal sudah jelas: jika pemerintah nanti benar-benar mengeluarkan abolisi, genaplah sukacita Soeharto.

Arif Zulkifli

















Perlukah abolisi untuk Soeharto?
Perlu50,69%
Tidak perlu49,31%
 
Jika perlu, apa alasan Anda?*
Bagaimanapun, Soeharto berjasa besar terhadap Indonesia62,89%
Soeharto sakit sehingga tak bisa diadili48,83%
Mengadili Soeharto bisa membuat pendukung-pendukungnya marah dan membuat keributan di Indonesia7,81%
* Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban
 
Jika tidak perlu, apa alasan Anda?*
Kesalahan Soeharto tidak hanya dalam kasus yayasan; memberi abolisi kepada Soeharto berarti mengampuni semua kesalahannya52,61%
Dengan abolisi, tak pernah ada catatan sejarah bahwa Soeharto bersalah42,97%
Soeharto boleh diampuni, tapi memberi abolisi terlalu berlebihan32,93%tr> * Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban
 
Siapa yang melontarkan kasus ini pertama kali?
Pengacara dan anggota keluarga Soeharto, baik secara langsung maupun tidak56,24%
Presiden dan anggota kabinet Megawati, baik secara langsung maupun tidak41,19%
 
Apa motivasi pelontar ide ini?*
Hanya bersimpati terhadap kondisi Soeharto50,69%
Membuka wacana baru tentang pengampunan Soeharto39,21%
Ingin mendapat balas jasa dari keluarga Soeharto23,76%
* Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban
 
Jika pemerintah Mega jadi memberikan abolisi kepada Soeharto, apa pendapat Anda?
Pemerintah mengkhianati cira-cita reformasi51,68%
Pemerintah telah bersikap adil terhadap keluarga Soeharto48,32%
 


Metodologi jajak pendapat:



  • Jajak pendapat ini dilakukan Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 505 responden di lima wilayah DKI pada 5-9 Januari 2002. Dengan menggunakan ukuran sampel tersebut, estimasi terhadap nilai parameter mempunyai margin error 5 persen. Survei dilakukan dengan metode multi-sampel acak bertingkat dengan unit analisis kelurahan dan rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tatap muka dan melalui telepon.

    Independent Market Research

    Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data