Semakin Sakit, Semakin Bahagia Responden terbelah dalam menyikapi abolisi: separuh menerima, sisanya menolak. |
PENYAKIT mungkin telah menjadi sumber kesedihan sekaligus sumber anugerah bagi bekas presiden Soeharto. Semakin ia sakit?dengan berkali-kali keluar-masuk rumah sakit?semakin gencar suara orang meminta pengampunan atas dirinya. Pertengahan Desember 2001 lalu, saat ia ditandu masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina akibat radang paru-paru, banyak orang mengira, inilah akhir dari hidup Soeharto. Nyatanya tidak. Ia pulang dari rumah sakit dengan senyum dan lambaian tangan. Tak cuma itu: kegembiraan Soeharto semakin lengkap karena suara orang yang menginginkan pengampunan dirinya tak berhenti bergema.
Tak cuma dalam debat seru antara anggota DPR yang pro dan yang kontra abolisi, kontroversi juga berkembang di level publik. Maka kebahagiaan Soeharto seakan kian lengkap: publik ternyata tak lagi bersikap keras kepadanya. Setidaknya separuh responden jajak pendapat TEMPO menyokong usulan abolisi.
Mungkin inilah potret dari keletihan sebuah masyarakat menghadapi krisis politik dan ekonomi yang tak berkesudahan. Di awal-awal kejatuhan Soeharto dulu, masyarakat bulat tekad menuding Soeharto sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kebangkrutan Indonesia. Kini, setelah berbagai persoalan datang silih berganti, pengadilan dan status bersalah bagi Soeharto tampaknya tak penting betul bagi masyarakat.
Sejatinya, pengadilan Soeharto bukan peristiwa yang remeh. Meski ia bisa diampuni di kemudian hari, status bersalah baginya akan menjadi preseden yang baik bagi publik di masa datang: bahwa Soeharto, dengan semua jasa dan kebaikannya, adalah orang yang punya andil terhadap banyak penyelewengan di Indonesia. Tanpa itu, sejarah Soeharto akan putih bersih. Beberapa dasawarsa ke depan, bukan tak mungkin Soeharto menjadi pahlawan tanpa cacat di mata publik.
Sialnya, di tengah kecapekan psikologis publik terhadap kasus ini, ide abolisi justru muncul dari kalangan pemerintah sendiri. Meski belakangan terjadi saling tunjuk antara Presiden dan menterinya tentang siapa penggagas ide abolisi, tak bisa ditolak bahwa pemerintah seperti kehilangan pegangan. Responden jajak pendapat TEMPO menilai lontaran ide itu didasarkan atas simpati kepada Soeharto. Sebagian lainnya mencurigai ada motif mencari keuntungan dari Keluarga Cendana dari si pelontar ide. Tak jelas mana versi yang benar.
Tapi satu hal sudah jelas: jika pemerintah nanti benar-benar mengeluarkan abolisi, genaplah sukacita Soeharto.
Arif Zulkifli
| Perlukah abolisi untuk Soeharto? | | Perlu | 50,69% | | Tidak perlu | 49,31% | | |
| Jika perlu, apa alasan Anda?* | | Bagaimanapun, Soeharto berjasa besar terhadap Indonesia | 62,89% | | Soeharto sakit sehingga tak bisa diadili | 48,83% | | Mengadili Soeharto bisa membuat pendukung-pendukungnya marah dan membuat keributan di Indonesia | 7,81% | | * Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban | | |
| Jika tidak perlu, apa alasan Anda?* | | Kesalahan Soeharto tidak hanya dalam kasus yayasan; memberi abolisi kepada Soeharto berarti mengampuni semua kesalahannya | 52,61% | | Dengan abolisi, tak pernah ada catatan sejarah bahwa Soeharto bersalah | 42,97% | | Soeharto boleh diampuni, tapi memberi abolisi terlalu berlebihan | 32,93%tr> | * Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban |
|
| Siapa yang melontarkan kasus ini pertama kali? | | Pengacara dan anggota keluarga Soeharto, baik secara langsung maupun tidak | 56,24% | | Presiden dan anggota kabinet Megawati, baik secara langsung maupun tidak | 41,19% | | |
| Apa motivasi pelontar ide ini?* | | Hanya bersimpati terhadap kondisi Soeharto | 50,69% | | Membuka wacana baru tentang pengampunan Soeharto | 39,21% | | Ingin mendapat balas jasa dari keluarga Soeharto | 23,76% | | * Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban | | |
| Jika pemerintah Mega jadi memberikan abolisi kepada Soeharto, apa pendapat Anda? | | Pemerintah mengkhianati cira-cita reformasi | 51,68% | | Pemerintah telah bersikap adil terhadap keluarga Soeharto | 48,32% | | |
Metodologi jajak pendapat:
|