Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXX/14 - 20 Januari 2002
   
Pariwisata

Kapan Aceh Berhenti Bergolak?

ACEH tak pernah sepi dari berita yang berkaitan dengan konflik di sana. Sepekan kemarin, misalnya, berbagai berita meramaikan wilayah itu, mulai dari rencana pemerintah menghidupkan kembali Kodam I Iskandar Muda, terbunuhnya anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), konsul SIRA yang dituntut dua tahun penjara, hingga keinginan organisasi nonpemerintah, Henry Dunant Center, membantu dialog antara pemerintah dan GAM.

Berita pertama soal keinginan pemerintah menghidupkan kembali Kodam I Iskandar Muda ternyata memanen reaksi negatif. Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) dan Kontras mengatakan rencana itu tidak realistis dan perlu dicurigai. Menurut Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Munir, alasan untuk mengatasi konflik regional hanya rekayasa, karena tidak ada inisiatif tempur dari daerah. Untuk itu, Komisi I DPR akan segera berapat untuk melihat apa yang diinginkan masyarakat Aceh. Rencana ini sendiri, menurut Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, masih belum final. Pemerintah masih mempertimbangkannya.

Kabar lain, soal upaya dialog dengan GAM yang belum memberikan hasil optimal, mendapat respons dari fasilitator nonpemerintah, Henry Dunant Center (HDC). Pemimpinnya, Henry Dunant, Kamis sore pekan lalu menemui Susilo Bambang untuk membicarakan kemungkinan dialog Februari mendatang. Tapi pemerintah tampaknya tidak mau terpengaruh pihak luar negeri dan lebih mempercayai penyelesaian dari dalam negeri, sehingga Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Ketua Tim Perunding, Wiryono, ditunjuk untuk merumuskan proses dialog tersebut.

Di sisi lain, konsul Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) Jakarta, Faisal bin Saifuddin, dituntut dua tahun penjara. Faisal dianggap bersalah melakukan perbuatan pidana dengan menyatakan perasaan permusuhan terhadap pemerintah negara Indonesia. Jaksa penuntut umum, Salfen Saragih, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pekan lalu, mengatakan bahwa pertimbangan itu didasarkan oleh fakta-fakta di persidangan berdasarkan keterangan sembilan saksi, dua saksi ahli, keterangan terdakwa, dan barang bukti berupa selebaran, komputer, dan mesin faks milik SIRA.

Sementara perdebatan tingkat atas masih berlanjut, benturan di lapangan terus terjadi. Lima anggota GAM dan seorang tentara dilaporkan tewas, menyusul baku tembak di Aceh Timur. Pasukan TNI dikabarkan menyerang sebuah kamp milik GAM di Aceh Timur, Rabu pekan lalu. Komandan Satuan Tugas Penerangan Komando Pelaksana Operasional (Kolakops) Aceh, Mayor Zaenal Mutaqin, mengatakan bahwa pasukan TNI juga menewaskan seorang pemberontak lainnya di lokasi terpisah, yakni di timur laut wilayah tersebut. Sedikitnya 36 orang tewas, menyusul kembali memanasnya situasi di Nanggroe Aceh Darussalam sejak awal tahun ini.

Leanika Tanjung, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data