Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXX/04 - 10 Februari 2002
   
Laporan Utama

Duh, Jakarta, Bencana Apa ini?

Banjir dahsyat menewaskan belasan orang. Ribuan rumah tergenang, puluhan ribu penduduk mengungsi. Mengapa Ibu Kota rawan banjir?

TAK ada yang tersisa," kata Nurhayati. Wajah perempuan 34 tahun itu tampak nelangsa. Matanya sembab. Ia berbaring di atas trotoar, di bawah tenda plastik biru, dengan tatapan kosong, seraya sesekali meng-usap-usap perutnya yang tengah hamil sembilan bulan. Rumahnya yang semula berada persis di pinggir Sungai Ciliwung di kawasan Bukitduri, Jakarta Selatan, hanyut terbawa derasnya arus air kotor yang berwarna kecokelatan, Kamis pekan lalu.

Satu-satunya "harta" yang tersisa: sebuah tas tenteng berisi pakaian basah, dan sebuah kompor yang biasa dipakainya memasak. Pakaian yang melekat di badan pun basah. Di sebelahnya, Harsono, 35 tahun, sang suami, duduk terpekur. Ia bertelanjang dada. Ruas-ruas tulang rusuknya terlihat jelas. Harsono adalah pedagang barang bekas di daerah Kampung Pela, dekat Jatinegara, Jakarta Timur. Air bah setinggi dua meter membuat laki-laki asal Madiun, Jawa Timur, itu tak bisa mencari nafkah lagi. Barang-barang dagangannya—antara lain lampu bekas, kaca spion, perkakas bengkel—ikut hanyut terbawa air.

Banjir memang telah mengubah hidup suami-istri ini dalam sekejap. Air bah datang akibat hujan deras yang turun nyaris tanpa henti selama sepekan. Dibandingkan dengan kota-kota lain di seluruh Indonesia, Jakarta tergolong kota yang paling parah menderita. Di Bukitduri, daerah yang setiap tahun jadi langganan banjir, setidaknya ada 25 rumah yang hanyut tersapu air—dan orang-orang pun berolok, "Kampung kami bak kota hilang Atlantis." Pemiliknya mengungsi bersama ratusan warga lain. Di sepanjang gang-gang yang sudah digenangi air setinggi satu meter, bahkan lebih, yang terlihat cuma rumah-rumah kosong ditinggalkan penghuninya. Listrik padam.

Banjir kali ini—terbilang paling parah dalam sejarah berdirinya kota Betawi ini—juga menggerus tanah. Akibatnya, tiga buah rumah di Kelurahan Pejaten Timur, Jakarta Selatan, hancur tertimbun tanah longsor pada sekitar pukul dua dini hari, Selasa pekan lalu. Enam orang penghuni rumah tewas. Menurut Febi, 25 tahun, salah seorang warga setempat, musibah tersebut disebabkan oleh runtuhnya pagar beton sebuah rumah bernomor 63 milik Haji Tatang yang berdiri di atas sebuah tebing. Runtuhan tersebut berikut tanah yang dibawanya menimpa tiga buah rumah yang berada di bawah rumah Haji Tatang. "Saat kejadian, tiga keluarga ini sedang bersama-sama menonton televisi, berjaga-jaga kalau banjir datang," kata Febi, seperti dikutip Koran Tempo.

Jakarta berubah seperti kolam raksasa. Air menggenangi nyaris setiap jengkal tanah, dengan pelbagai variasi ketinggian dari setumit hingga seatap rumah. Air yang mengubur beberapa ruas jalan membuat hubungan antarkawasan terputus. Kemacetan lalu-lintas tak terhindarkan. Sejumlah ruas jalan dipasangi tumpukan bangku, meja, juga batu, tanda tak bisa dilalui lantaran kubangan air yang begitu dalam. Ribuan kendaraan tak bergerak. Ada yang menumpuk saling berebut lewat di beberapa tikungan jalan. Pintu air di Manggarai dijaga ketat aparat. Takut kalau-kalau dibuka paksa warga, yang akibatnya bisa membanjiri Menteng, juga Istana. Toh, kawasan protokol Sudirman-Thamrin juga digenangi air.

Ibu Kota pun lumpuh. Beberapa kantor terpaksa tutup. Puncak kemacetan terjadi Jumat malam pekan lalu, seusai jam kantor. Seorang karyawati perusahaan konsultan manajemen, Santinalia, 35 tahun, pulang dari kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, menuju rumahnya di Batuceper, Tangerang, menjelang magrib. Ia baru sampai ke rumah subuh keesokan harinya. Padahal jarak sekitar 40 kilometer itu biasanya cuma ditempuh sekitar dua jam. "Bus yang saya tumpangi terjebak banjir di tol Kebonjeruk, persis di depan RCTI," katanya, kesal.

Ribuan karyawan lain juga terpaksa me-lewatkan malam di dalam mobil atau memilih berhenti di pinggir jalan. "Saya tidur di depan Gedung DPR Senayan dan kencing di botol," kata Robin Ong, warga Tangerang yang bekerja sebagai fotografer di Jakarta. Sebagian penduduk yang punya uang memenuhi hotel-hotel. Ribuan warga lain telantar di pinggir-pinggir jalan dan terminal. Cegatan banjir dan lalu-lintas yang macet membuat angkutan kota memilih tak beroperasi. Ojek, yang menjadi kendaraan alternatif, menaikkan tarif hingga 50 persen dari biasanya. "Kami kan harus melalui gang-gang sempit karena banyaknya jalanan yang macet atau kena banjir," kata seorang tukang ojek di Kampung Melayu.

Musibah banjir dan tanah longsor membuat ribuan warga Jakarta terpaksa meninggalkan rumah. Sampai Kamis pekan lalu, menurut Raya Siahaan, Kepala Pusat Pengolahan dan Pengumpulan Data sekaligus Kepala Pusat Pengendalian dan Ketegangan Sosial, jumlah pengungsi di lima wilayah Ibu Kota mencapai 195 ribu jiwa atau 39.143 kepala keluarga (KK), dari total penduduk Jakarta yang 9 juta. Mereka ditampung di tempat-tempat pengungsian sementara seperti kuburan, kelurahan, sekolah, masjid, gereja, juga emperan Stasiun Manggarai. Setidaknya 12 orang tewas karena tanah longsor, tenggelam, hanyut, dan tersengat listrik.

Rugi harta juga masya Allah. Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno mengatakan, kerugian yang disebabkan oleh banjir secara nasional mencapai lebih dari Rp 100 miliar. Angka perkiraan ini belum termasuk kerugian di Jakarta.

Ada beberapa faktor penyebab mengapa Jakarta diterjang air bah kali. Misalnya, kondisi geografis. Jakarta berada di pinggir laut, tapi posisi 40 persen wilayah Jakarta lebih rendah dari permukaan laut. Selain itu, ada 13 sungai dari Jawa Barat yang melintas di tengah kota. Karena itulah perlu dibangun kanal penyalur luapan air sungai. Celakanya, pembangunan kanal berhenti saat ini. Dari dua yang direncanakan, baru kanal barat yang sudah terwujud. Pembuatan kanal timur terhenti lantaran pemerintah daerah kekurangan dana. Proyek itu diperkirakan bakal menelan duit sedikitnya Rp 2 triliun. Akibatnya, setiap air laut pasang atau curah hujan tinggi, Jakarta pun tergenang. Air tak lancar menuju laut.

Ulah manusia juga salah satu penyebab banjir. Menteri Soenarno mengatakan, banjir yang terjadi sekarang ini bukan akibat curah hujan yang lebih tinggi, melainkan lebih disebabkan oleh kesalahan pengambilan kebijakan lingkungan. Berubahnya fungsi lahan, misalnya rawa dan daerah tangkapan air, menjadi kawasan perumahan atau pertokoan merupakan salah satu penyebab banjir besar.

Soenarno menunjuk contoh pembangunan Perumahan Pantai Indah Kapuk di Jakarta Barat. Kawasan perumahan elite yang dibangun oleh konglomerat Ciputra ini semula merupakan daerah rawa dan menjadi pertemuan aliran air sungai (darat) dengan laut, dan berguna menampung air hujan. Hanya karena kepentingan bisnis sesaat, dan tak dipikirkan jauh ke depan, daerah tersebut beralih fungsi. Akibatnya, aliran air tertahan dan menyebabkan banjir. Pembangunan vila-vila di daerah sejuk di Puncak, sekitar 80 kilometer dari Jakarta, yang semula berfungsi menjadi tempat parkir air, juga memberi sumbangan pada banjir.

Rakyat miskin juga dituding sebagai biang penyebab banjir. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, menyebut permukiman di bantaran sungai juga memberi sumbangan musibah yang kali ini berskala nasional itu. Permukiman liar ini membuat sungai menyempit. Lebar Sungai Ciliwung, umpamanya, menyusut dari 65 meter menjadi tinggal 15 meter. Masalah tersebut sulit dituntaskan kecuali dengan cara menggusur. Repotnya, keluh Sutiyoso, upaya menertibkan permukiman di bantaran kali selalu dibenturkan dengan isu hak asasi manusia.

Sejatinya, musibah ini bisa diantisipasi. Sudah lama diketahui bahwa bencana alam ini punya siklus lima tahun sekali. Hanya, memang kali ini mundur setahun karena pergeseran musim. Kepala Dinas PU DKI, I.G.K. Suena, pun sebenarnya sudah meniupkan terompet peringatan tentang kemungkinan datangnya banjir besar awal Januari silam, persis tragedi 1996. Suena juga sudah memperingatkan bahwa apabila banjir benar-benar terjadi, ketinggian genangan air di wilayah terendah di Jakarta mencapai 1,5 meter. Bahkan di tepi aliran Sungai Ciliwung bisa mencapai empat meter. Tapi Gubernur Sutiyoso menganggapnya seperti angin lalu.

Apa boleh buat. Bencana toh sudah datang. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mengantisipasi agar bencana ini tak memburuk di masa depan. Seperti yang diusulkan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim, yakni agar pembangunan vila dan real estate ditunda dan memulai penghijauan. Bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di kawasan Bogor dan Puncak. Daerah-daerah di luar Jakarta itu mesti membayar ikut menanggung "ongkos" tersebut. "Memang akan ada semacam jual-beli. Karenanya, harus ada dialog," kata Nabiel.

Jika pencegahan tak dilakukan, orang-orang seperti pasangan Nurhayati dan Harsono mungkin akan kehilangan rumah setiap lima tahun.

Wicaksono, Gita W. Laksmini, Setiyardi, Levi Silalahi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data