Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXX/04 - 10 Februari 2002
   
Laporan Utama

Ketika Sampang Terendam

Saat banjir datang dan menelan ratusan rumah warganya, bupati Sampang menghilang.

UDARA dingin yang menusuk kulit membangunkan Rahman dari tidurnya. Subuh akan segera datang. Bunyi tetesan hujan yang menyiram Kota Sampang, Madura, masih terdengar samar-samar. Begitu beranjak dari tempat tidurnya, ia amat terperanjat. Kakinya basah. Rumahnya sudah terendam air setinggi setengah meter!

Tidak ada yang bisa dilakukan ayah dua anak ini pada Rabu pekan lalu itu, selain menyelamatkan keluarganya. Banjir makin lama makin tinggi. Dengan cepat air menelan rumahnya yang berukuran 70 meter persegi. Pedagang motor bekas itu tidak mampu lagi menyelamatkan harta bendanya. "Tidak ada yang tersisa. Televisi, kulkas, tape, sampai baju habis semua," katanya.

Selain rumah Rahman, 290 rumah lainnya bernasib sama. Hujan yang mengguyur Kota Sampang selama tiga hari berturut-turut juga menenggelamkan bangunan milik pemerintah, kantor polisi, rumah sakit, dan pasar. Sawah 110 hektare dan tambak 450 hektare pun hancur tersapu air bah.

Data yang dikeluarkan Polres Sampang, sampai Jumat pekan lalu, menunjukkan 15 orang tewas dan 3 orang dinyatakan hilang. Korban tewas versi Posko Kemanusiaan Nusantara lebih banyak: 19 orang.

Penderitaan warga Sampang kian lengkap setelah air minum dan listrik juga mati total. Untuk bisa memperoleh air bersih, mereka harus menempuh perjalanan 7 kilometer. Aktivitas penduduk terganggu. Selama tiga hari roda perekonomian di sana malas berputar.

Pada saat rakyatnya membutuhkan bantuan, Bupati Sampang, Fadhilah Budiono, justru menghilang. Kritik pun segera menerpanya. "Seharusnya ia tidak pergi ke Jakarta. Apalagi cuma untuk melakukan lobi demi jabatannya," kata Ja'far Shodiq, anggota DPRD Jawa Timur.

Dua hari kemudian barulah Fadhilah Budiono pulang lalu mengunjungi para korban banjir Sampang. "Kami akan membantu para pengungsi yang telah kehilangan harta bendanya," katanya kepada TEMPO. Hingga Jumat pekan lalu belum diperoleh keterangan dari Pemda Sampang bantuan apa saja yang akan diberikan ke warga.

Musibah di Sampang belum usai. Sabtu lalu, hujan deras kembali mengguyur kota di Pulau Garam itu. Empat rumah penduduk kembali roboh.

Seperti tertular banjir yang mengamuk di Jakarta, daerah-daerah lain di Jawa dan juga beberapa daerah di luar Jawa juga mengalami bencana serupa. Dan berdasarkan ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan di negeri ini masih terus tinggi sampai pertengahan Maret nanti. Artinya, penderitaan rakyat belum segera pergi.

Johan Budi S.P. dan Adi Mawardi (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data