Banjir dan Longsor, 38 Nyawa Melayang |
HUJAN dan banjir seperti berjalan meniti pantai utara Pulau Jawa menuju ke arah timur. Setelah menggenangi Jakarta, bah itu meluberi kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari Cirebon, Pekalongan, Pemalang, Pati, hingga Situbondo dan Bondowoso, tak ada yang terlewat. Semuanya mendapat bagian dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Kecamatan Wringin di Kabupaten Bondowoso adalah wilayah yang terparah. Lihat saja ekspresi Usui, 40 tahun, seorang warga Desa Palongan di kecamatan itu pada Senin pekan lalu. Dengan mendekap dua anak balitanya, lelaki itu duduk membisu di sebuah pojok ruangan Sekolah Dasar Wringin 03. Ayah dua anak ini tak bisa membendung kesedihannya akibat bencana tanah longsor yang terjadi Senin pekan lalu. Hilang sudah semua kesayangannya—rumah, tiga ekor sapi, hingga mertuanya—akibat bencana longsor. ”Mertua saya tidak sempat melarikan diri,” ujarnya lirih.
Akibat hujan yang turun terus-menerus selama dua hari, petaka longsor itu mengakibatkan 16 orang tewas, 14 ekor sapi hanyut, dan 10 rumah penduduk hancur. Hanya sebagian korban yang bisa langsung dievakuasi—akibat medan yang sulit. Lokasi bencana, yang terletak 7 kilometer dari jalan raya, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan roda dua. Kalau alat-alat berat tak bisa masuk ke lokasi, kemungkinan sebagian mayat korban akan dibiarkan terkubur oleh longsoran tanah. ”Medannya terlalu sulit,” kata Idris Subiyakto, Camat Wringin, kepada Kukuh S. Wibowo dari TEMPO.
Penyebab bencana ini, selain hujan deras dan tanah yang labil, adalah gundulnya hutan. Menurut As’at, Kepala Desa Wringin, hutan di sekitar Dusun Palongan, berupa pohon akasia dan jati, sudah lama menipis karena ditebang manusia. Tanah bekas hutan kemudian dijadikan ladang penduduk.
Korban lebih besar terjadi di Situbondo, 32 kilometer di se-belah utara Bondowoso. Banjir bandang telah menyebabkan 22 orang tewas dan 4 orang hilang terseret arus air. Korban yang meninggal ini sebagian besar berasal dari desa-desa yang terletak di pinggir Sungai Sampeyan Baru, Kecamatan Besuki. Air yang meluap di Sungai Sampeyan Baru ini juga mengakibatkan jebolnya Dam Lima di Desa Kotakan. Dalam waktu sekejap, air bah langsung melabrak benda apa saja dan menenggelamkan rumah penduduk di Kota Situbondo hingga setinggi 2 meter. Dalam keadaan gelap-gulita, para penduduk bergandengan tangan melawan arus air untuk mencari tempat mengungsi yang aman.
Dalam situasi panik, penduduk juga gampang tersulut amarah. Entah benar entah tidak, terbetik kabar bahwa jebolnya Dam Lima Kotakan itu karena erosi akibat pengambilan pasir yang dilakukan Sugianto, penjaga pintu Dam Lima. Kabar yang beredar, saat debit air kecil, Sugianto mengambil dan menjual pasir yang terletak di bawah Dam Lima. Tanpa mengecek kebenarannya, puluhan warga Kotakan langsung melabrak dan menghancurkan rumah Sugianto. Beruntung, pegawai Dinas Pengairan ini bisa menyelamatkan diri. Padahal, menurut Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Situbondo, Rachmat Basuki, banjir di Situbondo disebabkan oleh hujan yang terus-menerus selama dua hari di kota tersebut. ”Juga akibat kiriman air dari Bondowoso,” kata Rachmat.
Kerugian akibat banjir ini, menurut Bupati Situbondo, Muhamad Diaman, diperkirakan mencapai Rp 42,7 miliar. Tentu saja pemerintah daerah tak punya cukup uang untuk memperbaiki semuanya. Menurut Diaman, pihaknya hanya akan menyediakan dana APBD Rp 1 miliar untuk merehabilitasi bangunan yang rusak. Dari dana ini pula ada gagasan bahwa Bupati Diaman akan memindahkan rumah penduduk yang berada di bantaran sungai ke tempat yang lebih aman.
Zed Abidien, Prasidono L., Tempo News Room
|