|
DULU dianggap sekadar bangunan mati pelengkap sungai, pintu air kini menjadi barang keramat buat warga Jakarta. Lapisan baja dan beton yang bisa dinaik-turunkan untuk mengatur besar debit air sungai itu dipercaya banyak orang merupakan kunci persoalan banjir.
Beberapa kelompok masyarakat kini bahkan menganggapnya se-olah benda sakti yang layak diperebutkan, dengan darah sekalipun. Maka, Jumat pagi itu, ratusan orang dari Kelurahan Sunterjaya, Kemayoran, dan Sumurbatu berhadap-hadapan dengan ratusan warga Kelapagading Barat di dekat Pintu Air Sungai Sunter, Jakarta Utara. Kedua kelompok bersiap saling menyerang. Sebagian orang membekali diri dengan tongkat kayu, batu, bahkan senjata tajam. Masing-masing ingin menguasai pintu air.
Untunglah, di saat pertempuran nyaris pecah, aparat Kepolisian Resor Jakarta Utara datang melerai. Polisi sempat melepaskan tembakan ke udara beberapa kali sebelum akhirnya kerumunan massa bubar. Namun, ketegangan tak serta-merta hilang. Warga Sunter kembali berkerumun ketika mendapat kabar ada sepasukan marinir tiba di pintu air. Isu yang berembus: marinir akan membuka pintu air lebar-lebar untuk mengatasi banjir di kawasan Kelapagading. Orang Sunter tahu, ada perumahan TNI Angkatan Laut di Kelapagading.
Ketegangan pintu air Sunter itu memang menyangkut soal ”hidup-mati”. Jika pintu air ditutup, air dari Sungai Sunter yang meluap akan menggenangi Kelapagading. Sebaliknya, bila pintu dibuka, kawasan Sunterlah yang terbenam. Dan banjir yang lebih dulu terjadi di Kelapagading dinilai warganya berpangkal dari pintu air yang tak dibuka buat arus air bandang.
Tapi isu keterlibatan marinir memaksa membuka pintu air dibantah Letkol (Marinir) Marwan M. Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir TNI AL ini mengatakan, pasukannya datang ke lokasi justru untuk melerai pertikaian antarwarga. Pasukan marinir bersama polisi memang kemudian mempertemukan massa yang sedang kalap dan membuat pengaturan bersama soal buka-tutup pintu air Sunter.
Beres? Belum. Perebutan pintu air Sunter masih menghantui warga di kedua kawasan. Kali ini berbau duit.
Di tengah-tengah penduduk yang sedang terendam air, beredar kabar adanya petugas Pemerintah Daerah Jakarta yang coba-coba berendam uang dengan melakukan ”jual-beli” pintu air. Nilainya tak main-main, Rp 6 miliar.
Menurut beberapa warga Sunter, ada orang pemda yang menawari PT Sumarecon Agung, pengembang Perumahan Kelapagading, agar membayar pembukaan pintu air Sunter jika tak ingin kawasan yang dibangunnya itu ditenggelamkan air bandang. Sementara itu, dalam kabar yang sampai di telinga warga Kelapagading, pihak pemda justru berkolusi dengan sejumlah industri yang ada di Sunter, misalnya Astra International, untuk tetap menutup rapat pintu air. Seperti diketahui, sejumlah divisi perusahaan induk otomotif itu—seperti Isuzu, BMW, dan sepeda motor Honda—memang berlokasi di Sunter.
Tak jelas benar apakah memang ada usaha transaksi-transaksi seperti itu. Sebab, pengelolaan pintu air selama banjir keburu dijalankan berdasarkan kesepakatan antar-anggota masyarakat. Astra sendiri membantah pihaknya mencoba ”membeli” pintu air Sunter. ”Kami sudah mengevakuasi seluruh produk kami ke tempat lain sejak hujan terus mengguyur Jakarta,” kata Julian Warman, Manajer Senior Humas Astra International.
Bantahan soal transaksi juga datang dari Pemda DKI. Kepala Biro Umum DKI, Margani M. Mustar, menyatakan pembukaan dan penutupan pintu air sudah memiliki prosedur tetap yang dipegang Dinas PU DKI.
Lepas dari bantah-berbantah itu, meski banjir sudah surut dari dua kawasan yang bertikai tersebut, hingga akhir pekan lalu pintu air Sunter masih dikawal satu peleton tentara. Di masa depan, pemda tampaknya harus memasukkan pintu air sebagai bagian dari kebijakan strategis pengendalian banjir di Jakarta. Salah satunya berupa transparansi pengoperasian pintu air ke masyarakat.
Prasidono L., Johan Budi S.P., Dewi R. Cahyani
|