Yang Panen di Tengah Banjir |
SIAPA bilang banjir di Jakarta merugikan? Tanya saja ke sejumlah hotel berbintang, bengkel mobil, operator mobil derek, atau penjual genset. Mereka justru panen. Tingkat hunian hotel meningkat, bengkel-bengkel mobil sampai menolak order, operator mobil derek kewalahan melayani permintaan, dan genset mendadak lenyap dari toko. Harga dan tarifnya pun naik lumayan tinggi daripada hari-hari biasa.
Semua ini terjadi gara-gara banjir yang berlangsung sepanjang sepekan pada akhir Januari lalu. Hampir separuh Jakarta terendam air dan kemacetan terjadi di mana-mana. Sekitar 400 ribu penduduk Jakarta dan sekitarnya terpaksa mengungsi. PT PLN juga mematikan aliran listrik di sebagian wilayah Ibu Kota.
Tak ayal lagi, konsumenlah yang akhirnya kelabakan. Suryanto, misalnya, mesti berkeliling ke Glodok dan Senen selama dua hari mencari genset 6.700 watt. ”Saya harus berebut. Siapa yang bisa memberi uang muka paling besar, ia yang dapat,” katanya. Itu pun harus menunggu sehari sebelum barang bisa dibawa pulang. Aheng Setiawan, pemilik toko Maju Jaya di Kawasan Senen, mengaku sudah menjual 25 genset selama banjir. Setiap pasokan barang datang, langsung habis diserbu pembeli. ”Sayang, barangnya terbatas,” katanya agak menyesal.
Padahal, harga genset rata-rata naik Rp 2 juta. Bisa dibayangkan berapa untung yang diraih Aheng dan puluhan penjual genset lain. Genset merek Mitsubishi 6.700 watt kini harus dibeli dengan harga Rp 15 juta, sementara pada hari-hari biasa paling Rp 13 juta.
Peruntungan para pemilik bengkel juga sama bagusnya dengan penjual genset. Bengkel Rahmat yang terletak di Bekasi Timur salah satunya. Pada Rabu pekan lalu, misalnya, ada 12 mobil yang tengah diperbaiki di sana, tiga di antaranya mesti turun mesin akibat terendam banjir. Ongkos membersihkan mobil yang habis terendam banjir bisa sampai Rp 4 juta. Pada hari-hari biasa, bengkel itu kebanyakan hanya melayani servis ringan (tune up), yang biayanya cuma Rp 50 ribu. Bengkel Prima Motor sama saja. Sejumlah mekaniknya tengah membereskan empat mobil korban banjir. ”Kami terpaksa menolak order karena mekanik di sini cuma 15 orang,” kata Ahmad Husein, mekanik senior bengkel di Jakarta Timur itu.
Sektor lain yang ”menikmati” berkah banjir adalah perhotelan. Sejumlah hotel berbintang di Jakarta kewalahan melayani tamunya. Maklumlah, yang terkena banjir kali ini tak cuma daerah bantaran Kali Ciliwung yang kumuh, melainkan juga kawasan elite seperti Kelapa Gading, Pluit, Sunter, Cipinang Indah, dan Kemang Pratama (Bekasi). Tak mengagetkan jika penghuninya berbondong-bondong jadi pengungsi musiman di hotel-hotel papan atas. Manajer Humas Hotel Hilton, Puraini Umaryadi, mengaku tingkat hunian hotelnya naik 20-30 persen daripada hari biasa. ”Banyak tamu yang tidak bisa pulang dan langsung booking di sini,” katanya. Cuma Hotel Regent yang apes karena terendam air, sehingga justru kehilangan tamu—bahkan tamu yang ada terpaksa diungsikan atau hengkang.
Untung saja banjir sudah surut. Kehidupan mulai normal lagi. Dan mereka yang panen tatkala yang lainnya menderita tak perlu risi.
MT, Setiyardi, Agus S. Riyanto
|