Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
   
Buku

Seorang Lelaki Tua dan Buku

Di hari tuanya, wartawan senior harian Kompas, P. Swantoro, menuliskan pengalamannya membaca sejumlah besar buku.

Sambung-Menyambung Menjadi Satu
Penulis : P. Swantoro
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Rumah Budaya Tembi, Jakarta, 2002


POLYCARPUS Swantoro bak seorang Don Quixote. Ia suka membaca buku dan seolah berdiam di masa silam. Sebagaimana Don Quixote tergila-gila oleh roman dan para ksatria (knight), Swantoro terpesona oleh buku sejarah dan para sarjana yang hidup seperti yogi. Dan kelihatannya ada yang terasa majenun (quixotic) dalam hidup wartawan senior Kompas ini. Itulah perkelanaannya ke pedalaman perpustakaan, seperti tanpa tujuan, dan melarutkan diri dalam berbagai bahan pembicaraan.

Buku karya P. Swantoro ini tak memiliki tema tunggal. Juga tak ada sistematik yang terjaga. Isinya beragam-ragam, dari politik hingga sastra, dari profil para sarjana pengkaji Indonesia hingga empu pembuat keris. Kenangan pribadi, minat akademis, dan gairah seorang kolektor barang antik bercampur di satu titik. Pemaparannya di-biarkan mengalir lancar sampai jauh, melewati berbagai kelokan, dan muaranya tidak begitu ketahuan.

Seperti tersirat dari judulnya, Dari Buku ke Buku: Sambung-Menyambung Menjadi Satu, buku ini memang bercerita seputar buku. Buku yang disinggung-singgungnya umumnya sudah tua dan langka serta isinya berkaitan dengan sejarah Indonesia. Misalnya The History of Java karangan Thomas Stanford Raffles (1811-1816), yang terbit pada 1817, atau Onrust op Java, De Jeugd van Pangeran Dipanegara: Een Historisch-Litteraire Studie karya S. van Praag, yang terbit pada 1947.

Jika Anda pencinta buku, karya P. Swantoro ini adalah contoh yang bagus perihal apa artinya menulis. Dalam buku ini, menulis dapat dilihat sebagai akibat dari membaca. Yang dituturkan di dalamnya adalah pengalaman sang penulis sewaktu membaca buku-buku yang dicari, dikumpulkan, dan dicintainya. Swantoro, kolektor buku yang berlatar belakang pendidikan di bidang sejarah itu, mengistilahkan pengalamannya sebagai "perkelanaan memori". Jadi, buku-buku penting yang dibicarakannya adalah yang melekat erat pada ingatannya.

Tapi buku ini bukan kolase resensi, melainkan lebih mendekati sebuah ensiklopedia, semacam kompas yang menunjukkan rujukan-rujukan utama yang kita perlukan manakala hendak meninjau sejarah Indonesia. Dan memang terasa sekali adanya tendensi untuk mempertautkan buku-buku yang dibahas dalam buku ini dengan sejarah negeri yang hebat ini. Malah judulnya itu tadi agaknya bisa mengundang asosiasi kepada pulau-pulau yang sambung-menyambung menjadi Indonesia. Katakanlah karya ini adalah semacam upaya melihat sejarah Indonesia dari sebuah ruang baca.

Menghadapi buku kayak begini, kita bisa bertanya: buku-buku penting apa yang tidak dibaca, atau tidak disinggung-disinggung, oleh Swantoro? Dengan kata lain, segi-segi penting apa saja dari sejarah Indonesia yang tidak disoroti atau cenderung tersembunyikan dalam buku ini? Pertanyaan seperti itu, rasanya, penting juga. Sebab, kita tahu, setiap teks cenderung menyembunyikan atau menyisihkan teks lainnya.

Ambil contoh perihal "Peristiwa 30 September 1965" yang menurut Swantoro merupakan "periode… yang sangat penting dalam sejarah Indonesia." Anehnya, buku yang dikutip sehubungan dengan peristiwa itu cuma Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965-1966) karangan Hermawan Sulistyo. Dan, anehnya pula, peristiwa itu sendiri cuma dikomentari sambil lalu dalam ruang yang kurang dari dua halaman belaka.

Betapapun, buku ini terasa penting juga artinya. Bahkan, untuk jenisnya, buku ini mungkin yang pertama di Indonesia. Ditulis dengan kesadaran akan pentingnya sumber dan akurasi pengutipan ala wartawan kawakan, buku ini seperti menegaskan betapa pentingnya membaca—dan menulis—dalam hidup kita.

Juga terasa adanya kehendak untuk menyapa kaum muda dalam buku yang diluncurkan sehubungan dengan ulang tahun Swantoro yang ke-70 ini. Dalam buku ini, Swantoro mendudukkan diri sebagai seorang "kakek". Dan kalau Anda mau dianggap cucunya, Anda pasti merasakan semacam ajakan untuk berjalan-jalan sambil menghikmati sebuah pelajaran perihal asketisisme intelektual.

Namun, pada akhirnya, kita mungkin mesti meniru karakter "the curate" dalam bab keenam buku pertama roman klasik Don Quixote karya Miguel de Cervantes Saavedra yang termasyhur itu. Dengan apa yang oleh Cervantes disebut "pemeriksaan yang menyenangkan dan mengundang penasaran" (the pleasant and curious scrutiny) atas seabrek buku, kita mungkin bisa tahu buku-buku mana dari koleksi Swantoro yang betul-betul perlu kita baca dan tak perlu dilemparkan ke luar jendela.

Hawe Setiawan
(komunitas peminat sastra Sunda, Dangiang, Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data