|
|
| |
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
|
|
Setelah Sang Naga Bebas Menari
Seputar Tahun Baru Imlek pekan lalu, budaya Cina menjadi item atraktif. Stasiun-stasiun televisi tak mau kalah berlomba menyuguhkan acara yang memiliki unsur kecinaan. Sebuah film baru berjudul Ca Bau kan, yang diangkat dari novel Remy Sylado yang mengangkat budaya Cina, ikut meluncur memanfaatkan momentum ini. Iklim kebebasan yang dimulai pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid jadi faktor utama kemeriahan ini. Namun, setelah 30 tahun lebih terpasung, ada upaya agar kesenian Cina bisa kembali berekspresi. Ikuti liputan TEMPO tentang kesenian dan kebudayaan Cina, yang kembali bersinar di Indonesia.
|
|
Cina Kreol Model Para Desainer
Sebuah film dengan setting Hindia Belanda tahun 1930-an sampai 1950-an dengan dana besar dan keinginan besar. Riset yang serius dan seabrek kostum toh tak membantu penonton untuk terkirim ke sebuah masa lalu.
|
|
Kala 'Cinta' Terhalang Industri Kejar Tayang
N. Riantiarno mengangkat tema pembauran dalam karya seri sinetron terbarunya. Materinya menarik, tapi sistem kejar tayang membuat sang sutradara kelabakan.
|
|
Dulu Terpasung, Kini Merana
Wayang potehi laris ditanggap lagi. Namun, kesenian ini terancam punah karena seniman pendukungnya kian langka.
|
|
Wajah Ramah Naga itu
Plaza-plaza di Jakarta sampai Cap Go Meh ini banyak menggelar barongsai. Raut singa didesain jenaka. Barongsai telah menjadi kebudayaan pop dan karena itulah remaja mulai menyukainya. Berikut profil sebuah kelompok barongsai remaja Cina Menghina, Tionghoa Menghibur
|
|
Cina Menghina, Tionghoa Menghibur
|
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

|
|
| |
|
|
|
|