Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
   
Media

Tak Sekadar Masalah Etika

Newsweek edisi pekan lalu yang memuat ilustrasi Nabi Muhammad tidak beredar di Indonesia. Artikelnya sendiri sebenarnya tidak menyimpang dari standar profesionalisme jurnalistik.

SUDAH lebih dari seminggu sekitar 10 ribu eksemplar majalah Newsweek edisi 11 Februari 2002 tertumpuk di kantor PT Indoprom, Jakarta. Bahkan, ketika majalah baru edisi 18 Februari sudah beredar Kamis lalu, majalah lama tersebut tetap teronggok di tempatnya. Bukannya tidak laku, tetapi distributor takut menjualnya. "Kan ada gambar Nabi Muhammad," ujar Dasino Santarto, Manajer Sirkulasi Indoprom, yang menjadi distributor Newsweek di Indonesia.

Visualisasi Nabi Muhammad, yang oleh kebanyakan umat Islam ditentang, ini membuat Indoprom melakukan self-censorship, tidak mengedarkan majalah terbitan Amerika Serikat tersebut di Indonesia. Sebenarnya hingga kini tidak ada larangan resmi dari pemerintah Indonesia, tapi Indoprom memilih jalan aman. "Takutnya nanti ada demonstrasi atau apa," kata Dasino.

Ketakutan Indoprom berasal dari salah satu artikel di Newsweek yang berjudul In the Beginning There Were the Holy Books. Tulisan ini mencoba mencari tahu akar konflik dan kekerasan antarmanusia beragama di dunia ini. Konflik itu dipersoalkan lantaran Al-Quran dan Kitab Suci kaum Kristiani sama-sama mengandung wahyu Tuhan dan mengajarkan tentang keselamatan, surga, dan neraka. Artikel sepanjang lima halaman itu dibuka dengan sejarah turunnya Al-Quran, dilengkapi dengan profil Nabi, dan kemudian disambung dengan beberapa persamaan dan perbedaan antara Islam dan Kristen.

Pada bagian lain disinggung pula perkembangan kekerasan dari umat beragama yang membuat dunia terpolarisasi menjadi "Timur", yang seolah-olah Islam, dan "Barat", yang seolah-olah Kristen. Juga digambarkan misinterpretasi Al-Quran yang dilakukan kelompok garis keras seperti kelompok Usamah bin Ladin. Dan sebagai bagian dari tulisan, dimuat visualisasi gambar Nabi Muhammad yang sedang melakukan isra Mikraj dan gambar Nabi tengah memimpin umat Islam dalam Perang Badar. Gambar itu diambil dari sebuah teks asal Turki—di negeri ini, gambar Nabi Muhammad memang tidak jadi soal.

Segera setelah mendapatkan Newsweek dengan artikel semacam itu, Indoprom berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Pers. Ketika Indoprom mendatangi MUI dua pekan lalu, menurut Dasino, seorang staf MUI langsung menyatakan majalah tersebut tidak boleh beredar. Pendapat tersebut dipertegas Din Syamsuddin, Sekretaris Umum MUI. "Kami keberatan dengan pemuatan gambar Nabi Muhammad," ujar Din. Karena itu, MUI meminta kejaksaan melarang per-edaran majalah yang berbasis di Amerika Serikat itu.

"Secara tegas Islam melarang penggambaran Nabi lantaran bisa terjebak pada hal-hal yang menyesatkan," ujar Din, yang juga tokoh Muhammadiyah. Selain itu, dari artikel Newsweek itu, Din menangkap kesan adanya penggambaran Kristen sebagai agama kasih sementara Islam seolah-olah dekat dengan kekerasan.

Menurut Dewan Pers, masalah Newsweek harus dikonsultasikan dengan pakar agama dan pakar hukum. "Ini bukan masalah kode etik jurnalistik ataupun standar profesionalisme jurnalisme lagi," ujar Ketua Pengurus Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmadja.

Dari sisi jurnalisme, tidak ada penyimpangan kode etik ataupun standar profesionalisme jurnalisme. Tulisan itu, menurut Atma, sangat obyektif serta dianggap sebagai artikel biasa yang membandingkan Al-Quran dan Kitab Suci. Dia juga menyatakan, sebenarnya tulisan Newsweek itu sendiri lebih menekankan bahwa Kitab Suci dan Al-Quran menekankan perdamaian, keadilan, dan cinta kasih.

Namun, terlepas dari isinya, Atmakusumah juga mengingatkan bahwa masalah pers bukan hanya masalah kode etik jurnalistik ataupun standar profesionalisme jurnalisme. "Hidup-matinya pers bergantung pada kontak sosial, penerimaan di masyarakat," ujar Atmakusumah. Karena itu, Newsweek mestinya sudah memperhitungkan risiko bahwa media mereka tidak bisa beredar di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Saat ini negara yang secara resmi melarang peredaran Newsweek edisi 11 Februari itu adalah Malaysia dan Bangladesh.

Bagaimana sebenarnya sikap Newsweek? Dalam surat elektroniknya ke TEMPO, Newsweek menyatakan penyesalannya bahwa reproduksi gambar Nabi Muhammad telah dianggap menyerang sebagian umat Islam. Namun, Newsweek juga menegaskan bahwa tulisan mereka tentang Islam sudah berimbang.

Purwani D. Prabandari, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data