Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
   
Nasional

'Waterworld' ala Petamburan

Banjir banyak mengubah perilaku sosial: memicu stres, tapi juga mengentalkan perkerabatan.

SEUMUR-UMUR Kamaluddin tak pernah bermimpi melihat perahu melaju di gang depan rumahnya di Petamburan, Jakarta Pusat. Tapi hampir sebulan terakhir ayah delapan anak ini benar-benar berumah di atas air—seperti dalam film Waterworld yang dibintangi oleh Kevin Costner. Keluar-masuk rumah pun ia harus naik perahu karet yang beberapa kali sehari menyusuri gang-gang sempit di kelurahan yang padat penduduk itu.

Bencana memang belum benar-benar pergi dari Jakarta dan sekitarnya. Petamburan adalah salah satu kawasan yang parah menderita banjir. Hujan lebat yang kembali mengguyur awal pekan lalu membuat permukaan air meninggi lagi di situ. Hal serupa terjadi di Kampung Melayu dan Pejagalan. Juga di beberapa wilayah Bekasi dan Tangerang.

Tapi, Jakarta Utara, yang letaknya paling rendah, adalah kawasan yang lebih rawan. Di Kecamatan Penjaringan, misalnya, sekitar 26 sekolah dasar negeri masih terendam air setinggi tiga meter. Tak kurang dari 12.487 murid di situ terpaksa mengungsi ke tempat-tempat penampungan. Demikian pula dengan 1.665 teman mereka di Cilincing dan 2.486 lagi di Kecamatan Koja. Aktivitas sekolah dilakukan seadanya, bahkan praktis terhenti.

Banjir mengubah hidup banyak orang dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Di Petamburan, Kamaluddin dan istrinya, Hasanah, tinggal di gang selebar satu meter, tepat di bibir saluran Banjir Kanal Barat di seberang Stasiun Kereta Api Tanahabang. Rumahnya yang berimpitan dengan rumah-rumah tetangga di gang yang sama tenggelam dua meter lebih. "Cuma ini satu-satunya yang bisa diselamatkan," katanya seraya menunjuk sebuah pesawat televisi.

Untunglah, dua tahun silam, Kamaluddin membangun lantai kedua di atas dapur di bagian belakang rumahnya. Di lantai dua yang sempit itulah Kamaluddin kini bertahan hidup bersama istri dan tiga anaknya—lima anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal di tempat lain. "Banyak maling sekarang. Jadi, kami takut meninggalkan rumah dalam keadaan kosong," katanya.

Kebanyakan warga Petamburan tak tahu kapan genangan air akan surut sama sekali dari lingkungan mereka. Ancaman banjir yang sewaktu-waktu datang tanpa permisi membuat mereka selalu waswas dan berjaga. Seperti pada Rabu pekan lalu, ketika mereka men-dengar kabar permukaan air di saluran Banjir Kanal Barat bakal naik lagi karena air kiriman dari Bogor.

"Kami dengar dari televisi. Jadi, kami siap-siap," kata Muhammad Soleh, putra Kamaluddin. Listrik pun telah dipadamkan oleh PLN. Dalam suasana gelap-gulita, permukaan genangan air begitu cepat merambat naik. Menjelang Kamis dinihari, rumah-rumah tanpa loteng sudah kosong ditinggal mengungsi para penghuninya. "Air sampai ke plafon," kata Soleh. Mereka menuju tempat ibadah setempat, Masjid Al-Islam. Para pemilik rumah bertingkat memilih bertahan di lantai atas.

Bukan cuma air yang membuat waswas. Aksi penjarahan kiriman bantuan rupanya juga telah menimbulkan masalah baru. Ini bukan perampasan dalam arti tindak kriminal, melainkan sekadar sikap tak sabar pengungsi. Mereka terpaksa mencegat konvoi bantuan yang lewat di daerahnya karena sudah be-berapa hari stres kekurangan bahan makanan.

Wilayah yang rawan perampasan adalah jalur transportasi darat dari Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menuju beberapa kecamatan yang sampai saat ini masih kebanjiran, di antaranya Kecamatan Muaragembong, Tarumajaya, Babelan, Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, dan Pebayuran. Menurut Kepala Polres Bekasi Ajun Komisaris Besar Polisi Djoko Soesilo, di jalur tersebut para pengirim bantuan kerap mengalami gangguan. Barang-barang bawaan yang seharusnya buat pengungsi di ujung desa dicegat di tengah jalan.

Untuk itu, Polres Bekasi senantiasa siap memberikan pengawalan sampai ke lokasi. "Kami telah menyiapkan tenaga pengawalan," kata Djoko seperti dikutip Koran Tempo. Sudah ada beberapa penyumbang bahan makanan, obat-obatan, dan pakaian yang memanfaatkan jasa bantuan pengawalan. Para penyumbang umumnya berasal dari Jakarta dan Bekasi. Benar saja. Setelah ada pengawalan, bahan bantuan bisa sampai di lokasi yang se-harusnya dengan aman.

Beruntung, warga Petamburan kompak menghadapi bencana sehingga pengiriman bantuan lancar-lancar saja. Aksi penjarahan seperti yang terjadi di Bekasi tak pernah muncul di sana. Bahkan, di bawah koordinasi tetua warga, warga asyik berbagi tugas.

Tepat di sebuah mulut jalan kecil yang tidak tergenang, misalnya, warga membuka dapur umum yang dibuka selama 24 jam sehari. Di situlah belasan wanita sibuk menjerang air dan memasak mi serta menanak nasi di atas tiga kuali besar. Hasil olahan ibu-ibu ini kemudian dibagikan ke warga yang mengungsi di masjid. Sebagian lagi dikirimkan buat yang memilih bertahan di rumah-rumah yang terendam. Tiga kali sehari ada perahu karet yang mengangkut ransum dari dapur umum untuk diberikan kepada warga yang tinggal di bagian dalam gang.

Dodo adalah salah satu petugas penyebar ransum. Bersama tiga temannya, dia mendayung perahu karet berisi sekitar 200 bungkus ransum di sebuah hari pekan lalu. Mula-mula, perahu karet berkapasitas 12 penumpang itu ditarik oleh dua orang ke daerah genangan hingga kedalaman air mencapai pusar orang dewasa. Setelah itu, empat buah dayung pun dikayuh membelah air berwarna cokelat tua.

Baru sepuluh menit memasuki genangan, hujan lebat mengguyur. Tapi empat pendayung yang sudah basah kuyup itu tetap maju tak gentar. Perahu karet pun melaju menyusuri jalan-jalan yang berubah jadi sungai-sungai kecil. Setelah berbelok tepat di ujung jalan kecil itu, perahu mulai menyisir gang.

Begitu melihat perahu datang, beberapa penduduk segera melongokkan kepala keluar dari jendela. Wajah mereka berbinar, seolah mengatakan, "Nah, makanan datang." Dodo segera membagi-bagikan ransum itu ke semua warga. Ada yang menerima ransum itu melalui jendela, ada pula yang dari atas atap.

Hampir tiga jam lamanya perahu itu mengedarkan ransum, sebelum akhirnya kembali berputar ke arah semula. Setiba di mulut jalan, tepat di sisi dapur umum, perahu berhenti dan menurunkan penumpangnya. Dodo dan tiga rekannya juga turun, digantikan oleh empat anak muda lain. Perahu karet itu kembali dikayuh membelah genangan air.

Wicaksono, Tomi Lebang


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Peradi Nilai Todung Mulya Lubis Langgar Etika - 16 Mei 2008 | 17:12 WIB
Pemimpin Agama se Asia Serukan Perangi Terorisme - 16 Mei 2008 | 16:56 WIB
Tunda Usut Korupsi, Kepala Kejaksaan Tinggi Akan Dicopot - 16 Mei 2008 | 16:53 WIB
Korban Lumpur Lapindo Mogok Makan - 16 Mei 2008 | 16:45 WIB
Warga Malaysia Ditangkap Bawa 35 Ribu Pil Ekstasi - 16 Mei 2008 | 16:25 WIB
BUMN Lalu Lintas Udara Dibentuk - 16 Mei 2008 | 16:23 WIB
Intel dan IM2 Bantu Pendidikan - 16 Mei 2008 | 16:22 WIB
Anggaran Infrastruktur Akan Naik 14 Persen - 16 Mei 2008 | 16:20 WIB
Dua Tewas Dalam Pawai Obor Pattimura - 16 Mei 2008 | 16:11 WIB
Purwakarta Padam Listrik - 16 Mei 2008 | 15:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data