Jangan Berharap 'Hole-in-One' Perdamaian Malino adalah langkah bagus menuju Ambon yang damai, walau perlu sejumlah "pukulan pamungkas" lagi.
|
SIAPA PUN yang mengusahakan damai di Ambon, atau di mana saja di negeri ini, hendaklah ingat konsep orang bermain golf. Jangan bermimpi mencetak hole-in-one—sekali pukul bola langsung masuk lubang. Jangan sekali-kali berharap konflik yang sudah tiga tahun itu—menurut Kontras menewaskan 8.000 jiwa dan membuat 200 ribu orang mengungsi dan ribuan bangunan luluh-lantak—bisa dibereskan dalam semalam.
Sebelas poin janji damai dari Malino pekan lalu itu memang sebuah kemajuan besar, tapi belum merupakan "pukulan terakhir menuju lubang". Mungkin Malino bisa diibaratkan pukulan yang membuat bola mendarat di green—dataran hijau sempit dengan lubang di tengah yang ditancapi bendera. "Pukulan" bagus mendekati lubang. Malino memang terjadi setelah enam kali tokoh-tokoh Islam dan Kristen bertemu.
Justru setelah Malino inilah akan muncul persoalan yang makin menuntut energi besar dan tingkat ketelitian tinggi. Setidaknya ada tiga poin yang krusial. Misalnya, persoalan laskar bersenjata di kedua pihak. Kebanyakan laskar di kedua pihak itu datang dari luar daerah karena merasa "umat"-nya terancam. Yang harus dilakukan aparat, terutama aparat keamanan, adalah menyingkirkan perasaan terancam itu. Ini bisa dilakukan jika aparat sendiri tidak berpihak kepada yang bertikai seperti yang terjadi sejak konflik meletus pada Januari 1999. Mungkin pergantian aparat keamanan bisa jadi jalan keluar yang harus ditempuh.
Setelah itu, barulah persoalan lain bisa mulai dijalankan: pelucutan senjata milik organisasi paramiliter seperti beberapa laskar di sana. Ini poin pokok jika perdamaian kekal yang dituju. Di Poso, sebulan setelah deklarasi damai ditandatangani, tercatat hampir 5.000 pucuk senjata diserahkan kelompok laskar dan masyarakat. Di Ambon, seharusnya upaya yang sama bisa di-lakukan. Bagi anggota laskar yang tetap ingin bertahan di Ambon, penyerahan senjata itu bisa diatur jadi semacam "tiket" untuk tinggal. Bukankah tanpa senjata di tangan mereka akan bebas tuduhan jika timbul ledakan senjata baru? Ini memudahkan pelacakan jika konflik susulan meletus.
Persoalan lain, pembentukan tim investigasi juga merupakan titik rawan. Jika tim ini gagal bersikap netral dan keliru me-rekomendasikan hukuman, atau hanya mengorbankan tokoh tak penting untuk melindungi pelaku sebenarnya, bukan tak mungkin kredibilitas tim akan hilang. Kekerasan baru bisa terpancing dilakukan oleh pihak yang tak puas. Perdamaian bakal terancam.
Di luar 11 poin dari Malino, birokrasi di Ambon juga harus netral. Jangan ada lagi gubernur yang terus-menerus berasal dari sebuah kampung, dari satu agama. Gubernur hendaknya orang yang benar-benar berprestasi, punya konsep jelas tentang bagaimana merehabilitasi Ambon, dan tidak punya catatan buruk dalam hal korupsi di masa lalu.
Jadi, setelah Malino, yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa setiap langkah jelas arahnya: makin mendekati perdamaian yang permanen. Yang penting, bola dipastikan makin dekat ke lubang di green. Dengan kecermatan tinggi, Menteri Jusuf Kalla, yang berperan penting di Malino, mungkin sekali mencetak par atau bahkan birdie (dua dari tiga angka terbaik). Asal jangan jeblok dengan pukulan bogey atau bola malah nyasar ke parit, yang bisa-bisa membuat konflik berkobar lagi.
|