Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
   
Surat

Rumah Tahan Banjir

UNTUK mengantisipasi banjir yang selama ini selalu merendam bahkan menenggelamkan kawasan pemukiman yang letaknya rendah, ada baiknya masyarakat dianjurkan membangun rumah-rumah panggung seperti yang dulu banyak dijumpai di kota dan desa di Sumatra. Dulu rumah-rumah itu dibuat dari kayu, dengan tiang penyangganya terbuat dari kayu besi (kayu bulian). Sekarang jenis kayu seperti itu sudah agak langka, sehingga dapat diganti dengan tiang beton.

Lantai rumah dibuat setinggi 1 sampai 3 meter dari tanah, tergantung tinggi rendahnya tanah dari permukaan laut. Tanah di bawah kolong rumah jangan disemen agar air dapat meresap. Kalau perlu ditutupi dengan konblok saja supaya dapat digunakan sebagai tempat parkir kendaraan.

Rumah atau bangunan seperti itu tidak akan menghalangi jalannya air apabila luapan banjir berarus deras. Juga tidak akan ketinggalan model. Di Brunei Darussalam, rumah panggung dari beton dan modern banyak didirikan. Andaikan semua rumah di kawasan Kelapagading, Sunter, Pluit, Muarakarang, dan lain-lain di Jakarta berupa rumah panggung, bangunan-bangunan itu tidak akan terendam seperti sekarang.

Biaya pembangunan rumah panggung memang lebih besar, tetapi biaya itu akan terasa ringan dibandingkan dengan kerusakan perabot rumah tangga dan penderitaan akibat banjir yang berulang setiap tahun.

Meninggikan permukaan tanah yang di atasnya akan dibangun perumahan bukanlah solusi yang baik. Ini hanya memindahkan kemungkinan luapan air di situ ke kawasan tetangganya atau ke tempat lain, yang dapat menimbulkan ketegangan antarwarga. Lagi pula cara seperti ini sangat mengurangi daerah resapan air.

Kepada para pengembang jangan lagi diberikan izin membangun rumah yang terletak langsung di atas tanah, jika kawasan itu dinilai berpotensi dilanda banjir kelak. Mereka harus diwajibkan membangun rumah panggung.

KAMILUDIN
Durensawit, Jakarta Timur


--------------------------------------------------------------------------------

RALAT

Dalam TEMPO Edisi 11-17 Februari 2002, halaman 30, pada tulisan berjudul ”Basah di Hulu, Banjir di Jakarta”, terdapat Peta Kondisi Lahan Kawasan Bogor-Puncak. Dalam tulisan itu belum disebutkankan sumber peta. Peta Kondisi Lahan Kawasan Bogor-Puncak tahun 1999 itu sumbernya adalah Dr. Ir. Arwin Sabar, M.Sc, pakar hidrologi lingkungan ITB. Kami mohon maaf atas kelalaian tersebut.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data