Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002
   
Wawancara

Sophan Sophiaan: "Saya Mungkin Seorang Fatalis"

Wajah kecokelatan dengan kumis tertata yang menjadi ciri khasnya tampak hidup dan bergerak-gerak karena tawa lepasnya yang sering pecah. Ceritanya banyak dan lucu-lucu serta renyah. Dia bercerita tentang pengalamannya bernyanyi bersama Widyawati, istrinya, dalam sebuah resepsi pernikahan yang baru mereka hadiri.

Tampak jelas bahwa Sophan memang seperti baru saja terbebas dari beban berat. Laki-laki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 58 tahun silam itu sering mengatakan bahwa dia sekarang merasa lebih rileks dan segar serta tidak tertekan.

Alasan dari semua keceriaan itu adalah pengunduran dirinya sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sophan mengirim surat pengunduran diri sebagai Ketua Fraksi PDIP di MPR, Kamis 24 Januari 2002 lalu.

Mundurnya Sophan di tengah kecamuk politik yang penuh kritik dan caci-maki ini kontan mendapat sorotan. Ada yang terkagum-kagum dengan langkah mundurnya, ada juga yang mencibir. Meskipun Dewan Pengurus Pusat PDIP belum memutuskan mengabulkan atau tidak permintaan mundur Sophan, langkah politisi yang besar dari dunia seni peran ini berkembang menjadi pembicaraan publik. Apalagi, hanya beberapa hari setelah Sophan mundur, seorang tokoh PDIP lainnya, Dimyati Hartono, juga pamit. Dimyati tidak hanya mundur dari DPR, tapi meninggalkan PDIP sekalian.

Mengapa Sophan mundur? Tokoh yang bergabung dengan PDI pada 1991 dan terpilih menjadi anggota DPR pada 1992-1997 ini berkukuh tidak mau mengatakan detail alasan pengundurannya. Dia hanya bilang bahwa dunia politik tidak cocok dan membuatnya tidak sehat. Lebih jauh, putra Manai Sophiaan, tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI), itu memang menyatakan sudah lama ingin mundur dari politik, yaitu sejak 1992.

Menurut beberapa sumber di PDIP, Sophan mundur terutama karena seorang Ketua PDIP cabang Parepare, Sulawesi Selatan, yang juga teman Sophan, tak kunjung disahkan meski telah terpilih dua tahun lalu. Sophan bertekad mundur bila soal itu tak kunjung tuntas.

Ya, terlepas seberapa benar cerita yang beredar itu, Sophan memutuskan untuk menikmati kebebasannya. "Saya sekarang main golf, meskipun dulu anti," kata Sophan, yang tampak santai mengenakan kaus cokelat, celana panjang, dan sandal hitam.

Berikut adalah petikan wawancara Hadriani Pudjiarti dan fotografer Hariyanto dari TEMPO dengan Sophan di rumahnya yang asri di kawasan Bintaro, pekan lalu.

Anda sudah bertemu Mega, membicarakan pengunduran diri sebagai anggota MPR/DPR?

Benar. Senin malam (pekan lalu, 11 Februari) saya bertemu Ibu Mega sekitar satu setengah jam. Keesokan harinya, saya dipanggil DPP.

Apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan Anda dengan Mega?

Saya bicara panjang-lebar alasan eksternal dan internal mundurnya saya. Saya katakan beberapa kali, saya tidak ingin menyakiti orang dan tidak mau menambah polemik. Karena persoalan yang terjadi belakangan ini tidak sejalan dengan hati saya, saya memutuskan mundur. Pokoknya, saya sudah mengungkapkan semua kepada Ibu Mega.

Bagaimana tanggapan Mega tentang pengunduran diri Anda?

Ibu Mega bisa menerima. Bahkan ketika saya sampaikan ke DPP, tidak ada satu pun yang menyanggah apa yang saya sampaikan. Menurut DPP, masalah yang saya sampaikan itu adalah persoalan bersama yang harus diselesaikan bersama. Mungkin saya orang yang fatalis.

Apa tepatnya yang Anda rasakan atau yang terjadi?

Saya tidak suka konflik. Dasarnya, saya orang yang sangat gampang mengerti dan mau mengakui kelebihan orang lain. Nyatanya, dalam politik tidak demikian. Ada manipulasi atau rekayasa yang membuat segala sesuatunya bisa terbalik, orang sukses dikatakan tidak sukses. Kondisi ini membuat saya sangat enek.

Di masa Orde Baru, praktek seperti itu bisa saya maklumi. Namun, setelah reformasi, saya begitu mendambakan kehidupan yang lebih baik. Nyatanya keadaannya malah bertambah parah, tidak beda dengan zaman Soeharto. Saya merasakan bangsa ini sudah berada di taraf kerusakan moral, yang selalu mengukur segala sesuatu dari dirinya sendiri.

Bisa Anda jelaskan detail persoalannya?

Sudahlah, saya rasa cukup. Hanya segitu yang bisa saya ungkap. Cukup saya, Ibu Mega, dan DPP saja yang tahu persis duduk persoalannya. Dibayar berapa pun saya tidak bisa membeberkan blak-blakan.

Anda mengundurkan diri karena kecewa dengan sikap Fraksi PDIP yang tidak mendukung dibentuknya Pansus Buloggate II?

Inilah enggak enaknya. Pengunduran saya justru diberitakan macam-macam. Padahal saya merasa tak kuat lagi. Kekecewaan terjadi sejak tahun 1992, 1997, dan puncaknya berbagai peristiwa terakhir yang, maaf, saya enggak bisa ceritakan detailnya.

Atau lebih disebabkan oleh konflik internal PDIP?

Wah, enggak boleh dong. Saya kira hal-hal internal harus saya bicarakan terlebih dulu ke DPP dan Ibu Mega. Konflik begini kalau diceritakan ke luar menjadi hal yang sangat merugikan. Wong, performance partai kok harus jadi konsumsi umum. Saya tidak mau dan tidak boleh cerita meskipun saya tahu persis detail persoalannya.

Lalu, apakah perseteruan intern PDIP antara kelompok
pendatang baru dan orang lama dari kubu Taufiq Kiemas makin seru?


Enggak tahu, sungguh saya benar-benar enggak tahu. Terus terang soal Taufiq Kiemas terlalu dibesar-besarkan. Bila banyak diomongkan mengapa Taufiq begini-begitu, itu memang karakternya demikian.

Maksud Anda, karakter Taufiq punya pengaruh besar ke Mega?

Enggaklah. Saya tidak mau menjawab dan tidak bisa membuktikan soal itu. Tapi, seandainya Taufiq Kiemas ikut campur, masa iya pengaruhnya bisa membuat bangsa ini jadi terpuruk. Bila faktanya Taufiq Kiemas ikut campur, ya wajar-wajar saja, wong Mega istrinya. Mega menuju kursi presiden karena andil dia. Yang perlu diperhatikan adalah apakah benar selama ini Mega selalu mendengar saran-saran Taufiq Kiemas. Tidak selalu. Semua keputusan di tangan Mega.

Kalangan umum kan sudah tahu soal pertentangan antara kelompok Arifin Panigoro dan Taufiq Kiemas. Anda ada di mana?

Soal pertentangan itu saya enggak tahu bagaimana persisnya. Beberapa waktu lalu, ketika Arifin bermasalah, diperiksa di kejaksaan, saya sempat kecewa juga karena ternyata ada orang PDIP yang menyerahkan bukti-bukti ke Jaksa Agung. Bahkan saya sempat bertanya ke seorang jaksa muda tentang duduk persoalan Arifin. Jaksa itu malah mengaku tidak tahu apa-apa dan semua itu disuruh orang PDIP sendiri.

Itu kan sama saja membuka aib sendiri. Mestinya, semua yang berhubungan dengan bukti-bukti dilaporkan ke DPP dulu sebelum diberikan ke pihak lain. Persoalan salah-tidaknya Arifin, pengadilan yang memutuskan.

Bila tindakan begini dibiarkan dan dikembangkan, justru mengesankan terjadinya rivalitas politik dengan target menjatuhkan orang lain tanpa berpikir bahwa tindakan itu justru merugikan partai sendiri. Padahal kasus Arifin toh tidak bisa jelas dan selesai.

Saya bukan membela Arifin. Saya berteman dengan siapa pun. Saya juga merasa tidak punya utang budi. Dengan Arifin baik, dengan Taufiq juga manis, ke teman-teman lain enggak ada masalah.

Anda benar-benar tidak kuat menghadapi semua tekanan itu?

Saya sering merasa sakit, masuk angin, tekanan darah drop, sering vertigo, dan kadar gula rendah. Dokter bilang, beban pikiran saya terlalu berat. Kemudian istri saya menyarankan, bila tak kuat, lebih baik mundur. Padahal dahulu istri saya mati-matian meminta saya bertahan di parlemen.

Kapan persisnya Anda mulai merasa tidak nyaman di arena politik?

Sejak 1992, saya sudah tidak tahan melihat permainan politik. Tapi saat itu Taufiq Kiemas mengingatkan saya agar tetap berada di dekat Mega. Dan karena saya merasa ada tantangan dengan pemerintahan diktator dan represif, saya rasakan tujuan saya terjun ke politik lebih jelas.

Sedangkan setelah reformasi, ternyata mentalitas orang-orangnya tidak berubah, selalu berbau materi. Idealisme, program, keberhasilan kerja, semua diukur dengan materi.

Setelah Anda mundur, beberapa orang PDIP juga mundur dari parlemen. Apakah begitu gawatnya persoalan di dalam partai?

O, ya? Saya enggak tahu. Kalaupun ada yang mundur, tentu mereka punya alasan.

Anda merasa jadi pelopor mundur?

Enggak. Saya tidak mundur untuk mendorong teman-teman melakukan hal yang sama. Tidak pernah tebersit dalam pikiran saya seperti itu. Seandainya jejak saya ditiru yang lain, mungkin karena mereka merasakan konstelasi politik seperti yang saya rasakan. Dan ketahanan semua orang berbeda, ada ambang batasnya.

Beberapa anggota dewan lain yang mundur berencana mendirikan partai baru. Anda tertarik bergabung dengan mereka?

Enggak. Saya tetap di PDIP.

Bagaimana pendapat Anda tentang pemerintahan Mega?

Saya pribadi berpendapat, tugas Mega sangat berat. Bahasa kasarnya, Mega kebagian piring kotor yang mesti dicuci sampai bersih dan mengkilap. Apa pun yang Mega lakukan, bila tidak dibantu semua pihak, ya tidak bisa jalan.

Kabarnya Anda juga ditawari Mega menjadi duta besar di Jepang?

Saya tidak menerima jabatan itu. Buat apa? Saya mengundurkan diri ingin fresh dan rileks, tidak terbebani apa pun. Apalagi harus menjadi duta besar di Jepang, yang tugasnya harus bermanis-manis dan berdiplomasi soal Indonesia dari sorotan internasional. Sudah deh, enggak perlu.

Sibuk apa saja sekarang?

Saya sedang gandrung main golf. Tadinya saya berharap akan main golf bila Indonesia sudah makmur. Tapi, karena saya perlu olahraga dan lari sudah tidak kuat, ya saya golf saja.

Sinetron?

Ada beberapa tawaran skenario yang datang setelah saya mundur dari DPR. Semua belum saya tanggapi, karena saya mau rileks, bisa bangun siang, enggak perlu stres mengikuti rapat-rapat. Pokoknya ingin benar-benar tenang.

Bagi Anda, lebih enak di dunia seni peran atau politik?

Saya kira, bila kondisi Indonesia normal, keduanya sama-sama enak. Namun, karena Indonesia dalam kondisi tidak normal, ya beginilah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data