Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXX/25 Februari - 03 Maret 2002
   
Indikator

Keranjang Sampah Itu Cuma Keluhan


Perlukah Presiden Megawati melakukan reshuffle kabinet?
(15 - 22 Februari 2002)
Ya
50,8%166
Tidak
42,2%138
Tidak tahu
7,0%23
Total100%327

SAAT membuka rapat koordinasi Pendayagunaan Aparatur Negara Nasional dua pekan lalu, Presiden Megawati Sukarnoputri mengatakan dirinya memimpin pemerintahan keranjang sampah. Alasannya, para pembantunya lebih sering menyampaikan laporan yang baik-baik saja. Sementara laporan atau informasi jelek cenderung disembunyikan.

Atas ucapannya tersebut, banyak kalangan menilai, Mega mestinya melakukan perombakan kabinetnya. Menteri yang dianggap tak becus diganti. Setidaknya begitu yang tercermin dalam jajak pendapat Tempo interaktif pekan lalu. Pertanyaannya, maukah Mega merombak kabinetnya?

Dari pengalaman orang-orang dekatnya, bongkar pasang pengurus atau pejabat tidak menjadi adat kebiasaan Ketua Umum PDIP itu. Ada yang menyebut, Mega memiliki kecenderungan lama mengambil sebuah keputusan, kemudian jika sikap telah diambil, ia akan ngotot mempertahankannya.

Hal lain yang membuat pesimis Megawati akan merombak kabinetnya adalah kenyataan bahwa pengisian kursi kabinet dilakukan berdasarkan kompromi dengan komponen partai-partai politik yang mendukungnya naik ke kursi nomor satu presiden. Dari sisi ini, reshuffle jelas bukan kebijakan politik yang populer bagi Mega di mata sekutu-sekutu politiknya.

Karena itu, meski banyak orang berpendapat, Mega mesti melakukan sejumlah perubahan atas kabinetnya yang dinilainya bobrok, kenyataan itu tak akan terjadi. Dan orang boleh saja beranggapan, sebutan "keranjang sampah" itu cuma keluhan dari orang yang tengah tak berdaya.




Jajak Pendapat Pekan Depan:

Pada saat perayaan bersama tahun baru Imlek ke- 2553 yang digelar Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia di Hall A Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Presiden Megawati Sukarnoputri mengeluarkan ketetapan pada tahun-tahun mendatang Imlek sebagai hari libur nasional. Sesungguhnya hampir tak ada yang baru dari keputusan itu. Tahun lalu, ketika masih menjabat presiden, Abdurrahman Wahid sudah menetapkan perayaan tersebut sebagai hari libur nasional fakultatif. Artinya hanya wajib bagi yang merayakannya.

Meski banyak yang senang dengan keputusan Mega, ada yang mempertanyakan dasar keputusan tersebut. Mereka beralasan, Imlek bukanlah hari raya keagamaan namun lebih sebagai perayaan pergantian musim pada kelompok etnis Tionghoa. Jika pun ada upaya menghormati agama Konghucu, yang dianut mayoritas warga Tionghoa, mestinya hari khusus agama itulah yang ditetapkan sebagai hari libur nasional. Bagaimana pendapat Anda sendiri? Suarakan pendapat Anda melalui situs www.tempointeraktif.com.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data