Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXI/18 - 24 Maret 2002
   
Fotografi

Dicari: Ide Liar dalam Foto Mode

Sebuah pameran tentang fotografi fashion terbaru dari Prancis digelar di Museum Tekstil, Jakarta. Mengapa fotografi jenis ini di Indonesia tak berkembang?

DUA orang perempuan duduk di pinggir trotoar jalan raya yang lusuh. Yang satu mengenakan mantel Louis Vuitton, gaun berwarna merah jambu dari rumah mode Margiela, dan sepatu Balenciaga. Yang satunya lagi memakai gaun biru muda produk rumah mode Margiela dan sepatu Olivier Theyskens. Latar belakang mereka adalah toko-toko bersuasana kumuh. Temboknya terkelupas. Seolah sebuah kota kosong yang baru ditinggalkan penghuninya.

Inilah salah satu foto mode generasi terbaru dari Prancis yang dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta, bulan ini, bertajuk No Place Like Home (2000), rekaman Marcus Jans, fotografer kelahiran 1967 yang kini menetap di Paris. Foto ini mengingatkan pada karya-karya Deborah Turbeville, seorang fotografer mode radikal, yang sering disebut "A strange ghost-like fashion magazine." Itu lantaran fotonya banyak menampilkan perempuan di tengah lingkungan yang terkesan membusuk atau bangunan bekas kekerasan. Foto Marcus Jans di atas diambil dari majalah Crash, sebuah majalah gaya hidup Prancis. Bersama karya delapan fotografer lain, yang dimuat di berbagai majalah alternatif di Prancis, foto itu diseleksi oleh Frank Perry, redaktur majalah Crash, dan ditampilkan dengan tajuk Visions 01.

Dari namanya saja, pameran ini mengandaikan semacam pencarian visi baru dalam fotografi fashion. Kecenderungan anak-anak muda ini, seperti ditulis Perry, tidak mengarah pada glamor, tidak lagi mementingkan kesempurnaan tubuh. Model baju pun bisa hilang disesuaikan dengan beragam set urban atau alam. Tengok, misalnya, sebuah rekaman outdoor untuk memperagakan busana kasual karya Helmut Lang dari Banu Cennetogiu, fotografer kelahiran Ankara, 1970. Foto itu berjudul You Can Only Swim in the Same River (2001). Seorang laki-laki berdiri di depan sebuah ngarai raksasa. Yang segera mencolok bukan bajunya, melainkan kefanaannya sebagai manusia.

Tingkat eksperimentasi foto mode Prancis memang tidak bisa diperbandingkan dengan foto mode di Indonesia. Di negara Barat, terutama Prancis, fotografi mode sudah berkembang sebagai aliran seni tersendiri dan bukan lagi sekadar pendukung dunia industri mode. "Fotografi fashion kita masih ketinggalan jauh," kata Darwis Triadi, fotografer mode senior dan pemimpin redaksi majalah Eye Indonesia. Masalah apresiasi juga menjadi persoalan. Pengamat mode Muara Bagdja menganggap masih ada kultur pembaca majalah di sini yang menganggap halaman mode berfungsi sebagai petunjuk menjiplak model baju dan untuk informasi di mana baju itu dibeli.

Karena itu, penjelajahan seni dalam sebuah majalah fashion di Indonesia belum terasa. "Yang banyak adalah majalah wanita yang memuat soal mode," kata Muara. Modeblad yang kaku kuno?yang sering menjadi sisipan majalah?memang terlihat sudah jarang. Dan kini lahir majalah-majalah anak muda, seperti Jakarta A+, yang berbeda visi dari majalah wanita pendahulunya seperti Femina dan Dewi. Bagaimanapun, majalah-majalah baru yang juga menampilkan mode, menurut Darwis Triadi, masih terasa mencangkok ide dari konsep Barat. Karakternya serba mengambang.

Bila dibandingkan dengan pameran Vision, akan terasa bahwa perkembangan mode di Indonesia seolah terlepas dari seni rupa. Menurut Perry, gagasan-gagasan terbaru fotografi fashion banyak diilhami ide-ide baru seni rupa konseptual, sebuah gerakan yang menekankan gagasan. Itulah sebabnya tak jarang unsur tubuh molek?yang menjadi kendaraan bagi peragawati?malah bukan hal primer. Tapi, yang harus diiingat, di negara Barat pun, untuk sampai ke gagasan nyeleneh demikian, harus melalui jalan yang panjang. Sejarah Vogue dan Harper's Bazaar, dua majalah mode pelopor haute couture (adi-busana), bisa dijadikan contoh.

Ketika didirikan, kedua majalah itu sontak menjadi parameter bagi keanggunan tubuh kalangan aristokrat. Pada perkembangannya kemudian, muncul gelombang fotografer yang menyempal dari arus umum. Menurut Martin Harrison, pengamat fashion yang menulis buku Appearances: Fashion Photography Since 1945, pada 1960-an terjadi suatu ketegangan serius antara redaktur mode, fotografer, dan desainer. Para desainer mengecap fotografer terlalu melakukan petualangan yang merugikan dunia mode sendiri. Unsur-unsur penting fashion sering hilang karena ulah fotografer yang nyeleneh.

Tiras Vogue edisi Inggris, misalnya, menurun drastis, dari 170 ribu eksemplar pada 1960 menjadi 117.800 pada 1968. Itu lantaran mereka banyak menampilkan karya fotografer "New Wave": David Balley dan Terrence Donovan. Untung, Harper's Bazaar memiliki redaktur idealis seperti Marvin Israel. Dialah yang meloloskan dan memberikan dorongan kepada fotografer fashion untuk bereksperimen. Dialah inspirasi lahirnya legenda macam Irving Penn, Richard Avedon, dan Helmut Newton.

Richard Avedon, misalnya, pada awal kemunculannya sampai dimaki melakukan coup de grace?mengudeta keanggunan perempuan?lantaran merekam peragawati Elise Daniels untuk sebuah rancangan Balenciaga di sebuah lorong kusam Prancis dan di tengah pemain akrobat jalanan yang dekil. Pemimpin redaksi Women's Wear Daily langsung mencercanya, "Dia mendistorsi baju untuk menghasilkan foto-foto fashion yang hebat. Apa pun, saya pikir pose-pose janggal itu akan menakutkan wanita dan mengurungkan niat mereka untuk membeli pakaian."

Pergulatan untuk menyempal dari arus mainstream ini memang akan menemui kendala besar. Umumnya rumah mode di Indonesia masih berskala kecil, sehingga para perancang di Indonesia tidak mau berisiko. Mereka cenderung bereksperimen secara aman supaya tetap diterima pasar. Artinya, penonjolan pakaian lebih utama. Sikap inilah yang diwariskan kepada para editor mode. Fotografer tidak bisa bereksperimen secara bebas. Pedoman foto majalah Kosmopolitan, misalnya, digariskan secara bulanan oleh sidang redaksi. Seperti diceritakan Karin Yunia, redaktur sekaligus penata gaya majalah yang menekankan pret a porter (busana siap pakai) itu, bila misalnya sang desainer ingin menonjolkan kekhasan kancing dan pleat atau lipit saku busananya, tentu saja ia menyampaikannya kepada fotografer?supaya tidak mementingkan setting?agar detail bajunya lebih terangkat.

Bahkan Firman Ihsan, fotografer mode senior, yang secara teoretis punya gagasan radikal, juga harus tahu "aturan main". "Saya mencoba menjadi fotografer yang `bertanggung jawab'. Kalau nanti busana mereka tidak laku di pasaran karena citra yang muncul dari foto saya, wah, gimana, saya agak berat juga," ujar Firman jujur. Alhasil, memang foto-foto fashion Indonesia cenderung seragam. Apalagi soal perspektif tubuh. Tak dapat dimungkiri, dalam foto mode dunia, timbul pemberontakan gender. Helmut Newton, misalnya, membuat serangkaian rekaman di luar "pandangan pria". Hasilnya, ia dituduh membela lesbianisme.

Di sini? "Boro-boro perspektif lesbianisme," kata seorang fotografer. Masalah foto Sophia Latjuba yang terkesan bugil saja di majalah Matra sudah mengundang reaksi. Padahal lesbi atau gay di Jakarta, faktanya, sudah menjadi gaya hidup. Kultur ketimuran memang masih menjadi pegangan utama di sini. Karin Yunia mengakui ada perubahan yang dilakukan Kosmopolitan agar lebih sesuai dengan budaya Indonesia.

Ami Wahyu, redaktur mode majalah Femina, juga tetap punya patokan "keindonesiaan" dalam menyeleksi foto. "Meskipun ingin tampil trendi dengan baju paling mutakhir, harus tetap memperhatikan etika Timur," tutur Ami. Menurut Ami, para fotografer sudah tahu selera Femina, sehingga mereka tidak akan menyerahkan karya yang neko-neko. "Kalau dipaksakan, ya, tidak dimuat," katanya. "Seberani-beraninya mereka tidak sampai terbuka karena masyarakat di sini masih punya batasan budaya," kata Sita Soebijakto, pengamat mode.

Menampilkan tubuh terbuka bukan identitas kita. Tapi, anehnya, kemewahan menjadi identitas fotografi mode Indonesia. Simak foto-foto mode karya Darwis Triadi, yang sering melakukan pendekatan estetis dengan menyiram tubuh dengan cahaya lampu ber-kekuatan tinggi. "Saya bermain di soal pencahayaan," tutur Darwis Triadi. Fotografer Jay Subiakto sering menggunakan unsur etnis dengan pendekatan panoramis, yang membuat para model bak seorang dewi baru turun dari sebuah candi. Menciptakan karya-karya non-glamor, seperti pada pameran Vision ini, agaknya adalah tantangan bagi fotografi mode Indonesia. "Saya yakin fotografer kita banyak yang punya ide gila," kata Muara Bagdja. Tapi memang, untuk berani "gila", seperti dikatakan Sita Soebijakto, kita membutuhkan biaya. Tapi, selain perlu "kegilaan" dan "keliaran", kita membutuhkan komitmen dan keberanian.

Seno Joko Suyono, Andari Karina Anom, Gita W. Laksmini


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data