Akbar Sepatutnya Mundur Meski Akbar Tandjung telah ditahan, mayoritas responden menuntut pembentukan pansus Bulog di DPR. Kalau terbukti melakukan korupsi, Golkar pun harus bubar. |
DI tingkat elite, mungkin politik cuma adu kekuatan mayoritas. Namun, di tingkat bawah, politik tak berbeda dengan suara tokek: bisa berarti ya, bisa pula tidak. Itulah yang terjadi dengan proses politik pembentukan panitia khusus (pansus) di DPR untuk menyelidiki kasus korupsi dana nonbujeter Bulog sebesar Rp 54,6 miliar.
Kamis dua pekan lalu, keputusan pembentukan pansus kasus Bulog II, yang melibatkan Ketua DPR Akbar Tandjung, tertunda. Gara-garanya, kekuatan yang pro-pansus dan anti-pansus sama kuat. Penundaan ini bisa pula menyiratkan tanda penggembosan hasrat membentuk pansus.
Bersamaan dengan itu, ternyata Akbar Tandjung ditahan oleh Kejaksaan Agung. Dengan aksi hukum yang konkret itu, masih perlukah pansus kasus Bulog II dibentuk? Apalagi kejadian pengembalian uang dalam kasus korupsi dana nonbujeter itu mengesankan adanya kebohongan publik? Memang, DPR baru Senin pekan ini memutuskan masalah tersebut.
Ternyata sebagian besar responden TEMPO sepakat bahwa DPR harus tetap membentuk pansus. Pengusutan kasus dana nonbujeter Bulog lewat pansus dianggap akan lebih transparan. Mereka justru mengkhawatirkan penyelesaian lewat jalur hukum, yang diduga bakal menghunjam rasa keadilan masyarakat.
Namun, sebagian responden (39 persen) berpendapat tak perlu lagi ada pansus. Alasannya, proses pansus hanya akan membuang-buang uang negara. Boleh jadi itu bukan lantaran pansus tak perlu, tapi lebih karena permainan politik di DPR.
Yang jelas, hampir semua responden bersuara kor bahwa Akbar Tandjung tak patut lagi menjabat Ketua DPR, sehingga harus meletakkan jabatan itu. Bagaimana mungkin mengelola lembaga tinggi negara dari dalam sel penjara? Kalau tidak, tentu daftar pejabat negara di Indonesia yang menjadi terdakwa kasus korupsi, bahkan ditahan, makin panjang.
Agung Rulianto
| Setelah Kejaksaan Agung menahan Akbar Tandjung, masih perlukah pembentukan pansus Bulog di DPR? | | Ya | 61% | | Tidak | 39% | | | | Jika ya, apa alasan Anda?* | | Pengungkapan kasus ini akan lebih transparan | 48% | | Jika temuan pansus dan penyidikan hukum hasilnya sama, bisa saling memperkuat | 41% | | Penyelesaian hukum tak akan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat | 39% | | Upaya wakil rakyat dalam memberantas KKN | 31% | | Penyelesaian politik berdampak lebih besar | 25% | | Persamaan perlakuan terhadap kasus Bulog yang dulu melibatkan Abdurrahman Wahid | 12% | | *Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban. | | | | Jika tidak, apa alasan Anda?* | | Hanya buang-buang duit negara | 47% | | Penyelesaian secara hukum punya legalitas tinggi | 35% | | Lobi Partai Golkar terlalu kuat | 27% | | Aparat hukum sudah bekerja cukup baik | 25% | | Memicu konflik baru di tingkat bawah (masyarakat) | 24% | | Pelecehan terhadap proses hukum | 23% | | *Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban. | | | | Apakah Akbar Tandjung harus meletakkan jabatan Ketua DPR? | | Ya | 91% | | Tidak | 9% | | | | Jika terbukti dana nonbujeter Bulog dipakai untuk kepentingan Golkar, apakah Golkar harus bubar atau setidaknya tak berhak ikut Pemilu 2004? | | Ya | 67% | | Tidak | 33% | | |
Metodologi jajak pendapat :
|