Berharap pada Si Bengal Taufik Hidayat balik kandang. Peluang untuk mempertahankan Piala Thomas kian besar?
|
KEPUTUSASAAN akhirnya menuntaskan pembangkangan Taufik Hidayat. Pekan lalu, dia balik kandang ke Cipayung. Di Singapura dia cuma mampu bertahan selama dua bulan. Hidupnya memang nyaman di sana. Tiap bulan, atas tugasnya mempromosikan bulu tangkis kepada siswa-siswa sekolah, ia mengantongi duit sebanyak Rp 17 juta. Namun, batinnya betul-betul ter-siksa. Dia ditolak bertanding di berbagai turnamen.
Semua itu terjadi karena kepindahannya ke Negeri Singa meninggalkan masalah. Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tak merestuinya sehingga Taufik sulit mengikuti turnamen internasional. Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) hanya mau menerima pemain yang didaftarkan oleh organisasi bulu tangkis negaranya. Nah, daripada karirnya acakadul dan tak ada sponsor yang masuk, ia pun memilih pulang.
Serta-merta PBSI menyambutnya dengan tangan terbuka. Terlebih lagi negeri ini sedang paceklik pemain dalam menghadapi Piala Thomas di Guangzhou, Cina, Mei mendatang. Kedatangan Taufik ini langsung memompa semangat PBSI dalam mempertahankan Piala Thomas.
Toh, kepulangannya itu menarik diselisik. Soalnya, sementara sebelumnya Taufik ngotot ogah kembali meski PBSI membujuknya, sekarang tiba-tiba pemuda asal Pangalengan, Jawa Barat, itu manut. Padahal dia sudah teken kontrak dua tahun dengan SBA (Asosiasi Bulu Tangkis Singapura). Ada apa? Jangan-jangan ini hanya bagian dari deal antara dia dan PBSI: setelah Piala Thomas, dia bisa kembali ke Singapura. Ketua PBSI, Chairul Tanjung, membantah. ”Taufik kembali karena keinginannya sendiri,” katanya.
Taufik memperkuat keterangan Chairul. Dalam acara jumpa pers, Selasa pekan silam, ia menyatakan kepulangannya itu semata karena kemauannya sendiri dan tanpa ditekan siapa pun. ”Ini pernyataan dari hati saya yang paling dalam, saya ingin balik ke sini,” ujarnya. Selain itu, dia juga mengajak pemain-pemain yang meninggalkan pelatnas agar segera pulang untuk membela Indonesia.
Dengan pulangnya Taufik, kata Chairul, Indonesia bisa menyusun strategi lebih baik untuk mempertahankan Piala Thomas. Joko Supriyanto, pelatih Piala Thomas, juga memiliki keyakinan yang sama. Menurut dia, Taufik bisa mengisi sektor tunggal putra, yang belakangan kedodoran. ”Melihat kondisi tim kita yang babak-belur, jujur saja kita masih membutuhkan dia.”
Bukan berarti otomatis Taufik bisa masuk tim inti. Joko mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi Taufik dalam dua bulan terakhir. ”Terus terang, kami tidak tahu bagaimana latihan yang telah dilakukannya selama di Singapura,” katanya. Jadi, layak-tidaknya dia masuk tim Thomas masih akan dilihat lagi dari penampilannya dalam dua turnamen, Korea dan Jepang Terbuka, bulan depan. Hasil di dua turnamen inilah yang menjadi pintu masuk baginya.
Nah, andai saja Taufik lolos, dalam hitung-hitungan Joko, pemain berusia 21 tahun ini bisa diandalkan menjadi pemain penentu alias mencuri satu angka di nomor tunggal. Apalagi, karena sering absen di berbagai turnamen, peringkatnya melorot. Menurut peringkat IBF, 14 Maret silam, ia berada di peringkat 21. Dengan peringkat seperti itu, ia bisa dipasang di tunggal ketiga.
Dua angka lagi? Joko menunjuk dari ganda putra Chandra Wijaya-Sigit Budiarto dan tunggal putra Marleve Mainaky. ”Marleve cocok bermain dalam sistem skor tujuh,” katanya. Dalam perebutan Piala Thomas nanti, untuk pertama kalinya akan digunakan sistem skor baru ini.
Tapi semua itu cuma hitung-hitungan di atas kertas. Di lapangan, skenario itu bisa berantakan. Yang jelas, di babak awal Indonesia diperkirakan bisa mengatasi Malaysia, Thailand, dan Jerman. Setidaknya posisi runner-up bisa diraih, sekaligus menggenggam tiket ke semifinal. Tapi di babak berikutnya sudah menanti lawan tangguh seperti tuan rumah Cina, Denmark, atau Korea Selatan. ”Peluang kita memang cukup berat,” ujar Joko.
Piala Thomas belum tentu bisa digenggam lagi. Tapi kembalinya seorang Taufik sudah membuat banyak orang senang. ”Ini prestasi PB PBSI, bukan prestasi saya pribadi,” kata Chairul.
Sebenarnya, itu baru pantas disebut prestasi bila terbukti di lapangan tiga bulan lagi.
Irfan Budiman, Levi Silalahi, Hendriko Wiremmer
|